Thursday, October 14, 2010

Dimsum (hangat, penasaran dan all you can eat)

Kasih itu dimsum, ia selalu saja hangat
Masa bodoh di luar sedang musim dingin

Cinta itu dimsum, bikin penasaran
Apa sih yang ada di balik bilik tabung bambu itu?

Sayang itu dimsum, prinsipnya all you can eat
Walau sudah buncit, ia tak pernah kenyang, selalu ada dan ada lagi

Dahulu 'ku suka mantau, tapi tidak lagi sejak ada hakau
Dulu hatiku selalu merantau, namun tidak lagi sejak ada kau :)

Happy birthday My Hakau :)
Wish all ur prayers & wishes come true, Amin!

Glusdi

(dedicated to Nidya, on her 25th birthday, 12 May 2010)

Wednesday, September 8, 2010

Kalau Libur Jangan Lembur


Siapa yang setuju dengan judul di atas boleh angkat tangan. Mungkin sebagian besar kita 100% agree, atau malah menggeleng 180 degree. Terserah, sah-sah saja. “Libur-libur gue, apa urusan lu ngatur-ngatur!” Calm down, sabar dulu, Bro. Melalui tulisan ini, saya cuma pengen sumbang saran, sekalian ngisi waktu liburan.

Kalau libur jangan lembur. Emangnya kenapa? Bukannya justru kalau bisa lembur ngapain libur? Bila kita berpendapat demikian, setidaknya ada dua dugaan. Sebelumnya mohon maaf bila dugaan saya meleset, namanya saja dugaan.

Dugaan pertama: 'workaholic' is our middle name. Giat bekerja adalah hal utama yang tidak wajib dilakukan bila tidak ingin berhasil. Tekun, rajin, dan setia; kudu dilakoni bila ingin sukses. Sedangkan menjadi gila (baca: gila kerja), bukanlah jaminan mutlak keberhasilan. Sebenarnya, ‘giat bekerja’ dan ‘gila kerja’ adalah dua hal yang berbeda tapi nyaris satu jiwa. Seorang yang giat bekerja melakukan banyak pekerjaan; sementara seorang workaholic kerjaannya cuma satu, yaitu kerja. Gila kerja adalah giat bekerja stadium empat.

Dugaan kedua: kita sedang ‘ngejar setoran’. Saya mengerti betul bagaimana nikmatnya lembaran rupiah hasil lemburan, apalagi buat Lebaran. Tarifnya yang berlipat ganda, tak kunjung habis dibuat belanja. Kejar setoran adalah hal yang wajar, terlebih bagi yang sedang merajut masa depan yang mapan. Banyak kebutuhan, butuh banyak pemasukan. Bisa diterima?

Namun, bila kita termasuk si workaholic, di mana hobi utama kita adalah bekerja; alangkah baiknya di masa libur ini kita ‘kabur’ dari kemumetan kerja sehari-hari. Liburan adalah anugerah Tuhan yang mahal harganya. Jadi, gunakan menit-menit ini untuk mengistirahatkan diri, jangan sampai jam istirahat Tuhan yang lebih dulu berlaku.

Bagi kita ‘pengejar setoran’, lembur di hari libur pasti bukanlah hal baru, apalagi tabu. Mungkin saja kita terpaksa ‘berlari’ karena deadline that scared us to death, tuntutan ekonomi, profesionalisme, dan sejumlah alasan mulia lainnya. Akhirnya, mau tak mau kita tetap bekerja di hari libur. Tetap semangat, tetap lakukan yang terbaik, dan tetap makan siang bila sudah tiba waktunya.

Eh...kalau libur jangan lembur, berarti boleh sepuasnya tidur! Wah asyiikknya! Tunggu, jangan girang dulu, Gan. Masih ada satu pesan, yaitu: “Kalau libur jangan nganggur!” Sebab masa-masa tenggang seperti ini terlalu berharga untuk dihabiskan layaknya mengonsumsi barang gratisan. Kita bisa saja ongkang-ongkang di kursi goyang warisan eyang, dari subuh hingga petang. “Mumpung lagi libur,” begitu argumen kita. Tapi, setelah itu apa yang kita dapatkan selain predikat “malas” dari orang serumah? So, mau ngapain dong libur-libur gini?

Refreshing, cleaning and doing hobbies adalah tiga hal yang terbersit di paragraf terakhir ini. Refreshing berarti menekan tombol F5 diri kita berulang-ulang hingga kita benar-benar disegarkan, baik secara raga, jiwa maupun roh. Penyegaran jasmani dapat kita lakukan dengan beristirahat yang cukup, bertamasya ke luar kota, mudik ke luar negeri atau paling tidak studi banding dari mal ke mal. Penyegaran rohani dapat kita lakukan dengan bermeditasi, mengintrospeksi diri di hadapan Tuhan dan mensyukuri berkat serta penyertaanNya, yang selama ini terabaikan dalam keseharian kita. Cleaning adalah kegiatan bersih-bersih. Bersih-bersih kamar, almari dan isi tas yang selama ini teranaktirikan karena kita sibuk mencari nafkah. Cleaning juga berarti membuat komitmen baru untuk meninggalkan hal-hal yang kotor dalam diri kita. Sedangkan doing hobbies berarti melakukan hanya hobi yang postitif dan memberi nilai tambah, di antara hobi-hobi kita yang useless AKA non value added. Finally, happy holiday, Friends!

Prayer: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Writer’s note:

“The hardest thing in writing is not to find the idea, is not to find the perfect words, or to develop the topic sentence. But, the hardest thing in writing is to live accordance to what you have written. Thanks a lot for reading! “

Thursday, June 24, 2010

Feel Blue

Terisak-isak... seperti habis menangis semalam
Kelopak mata bengkak, nampak bak kena hantam
Nafas ini sesak seolah hampa mendesak
Indera penglihat berkaca-kaca, mendramatisir sang air muka

Flu, makes me feel blue...

Tuesday, June 1, 2010

Mau Nyuri Mikir 2x, Mau Memberi Mikir 20x


Bukan kebetulan, bila detik ini aku mencari nafkah di sebuah perusahaan yang betul-betul peduli akan kebugaran para karyawannya. Bagaimana tidak, tiap pagi hari (kecuali di bulan suci) masing-masing kami disuguhi segelas plastik mungil susu segar berwarna-warni. Saking fresh-nya, jika ditelantarkan selama tiga jam di luar kulkas, susu tersebut akan kadaluarsa alias basi (katanya sih begitu).

Sayangnya, hanya segelintir dari kami yang gemar menenggak minuman sehat tersebut. Terus terang, selama nyaris sembilan bulan aku bekerja di sini, baru segelas saja yang berhasil membasahi kerongkonganku. Apakah karena rasanya tidak enak? Aah, ngga juga! Hanya saja citarasanya kurang nikmat. Lalu, bagaimana nasib kawanan susu karyawan itu? Tiada pilihan, hidupnya berakhir di pembuangan.

Bersyukur ada salah seorang temanku yang kreatif dan baik hati. Dua hari silam ia bercerita, “Eh, kemaren pas Sabtu gw lembur, susu-susu yang nganggur itu gw masukin kulkas, pas sorenya gw pulang, gw bawa n bagi-bagiin tuh ke anak-anak jalanan. Mereka seneng banget loh!” Spontan aku merespon, “Iya ya, ketimbang dibuang sayang, better dikasih ke anak jalanan ya!” Seorang temanku yang lain menyambung, “Iya Mar, besok lu bawa aja, pas pulang lewatin lampu merah, lu kasih deh tuh anak-anak yang nongkrong di sana. Besok pagi-pagi benar, susunya gw masukin kulkas deh, tapi sorenya jangan lupa lu bawa ya. Eh, sisain dua gelas ya, biasa, buat pembantu gw di rumah, OK, OK?” Sahutku, “Hmmh...eeee....iiii....ya, iya deh Ci.”

Esok pun tiba! Bak putri-putri perawan di atas permadani, susu-susu cantik itu datang di atas nampan, ditatang sang office boy tampan. Begitu mereka mendarat di meja, temanku bergegas memasukkannya ke dalam lemari es. Tak lupa ia berpesan, “Mar, nanti sore jangan lupa lu bawa ya.” “OK, Ci”, jawabku seraya mengangguk.

Jam kantor terasa cepat sekali. Belum dalam cekungan kursi kerjaku, sudah pukul 16:30. Yes, waktunya beberes, cabcuz! Oiya, para susu masih berada di kulkas! Kubuka pintu lemari es, ternyata mereka berlima sedang menggigil di sudut rak terbawah. Kupandang mereka, mulailah timbul kebimbangan dalam hati ini. Mendadak benakku digerayangi sejuta pemikiran dan pertanyaan yang berupaya menggagalkan rencana pembagian susu ini. “Siapa yang bakal gw kasih ya?” “Kayaknya pas pulang gw ngga lewatin lampu merah deh.” “Gimana kalau susunya ternyata udah basi ya? “Kalo anak-anak yang minum jadi diare gimana?” “Gimana kalo nanti ortunya nuntut?” “Wah, kalo besoknya gw dicegat di jalan gimana?” “Kalo....?” “Kalo...?” Stop! Dengan lembut, suara hatiku menyela dengan logat Alm. Gus Dur, “Mau ngasih orang aja kok repot?” Akhirnya, tanpa pikir panjang, kuraih kelima susu dari kulkas, kusekap dalam amplop bekas. “Susu, minumlah selagi dingin.” menjadi ‘subject’ di cover amplop itu.

Sepanjang perjalanan pulang dengan Honda, mataku jelalatan menjelajahi kolong jembatan. Menyisir tiap bujur trotoar, ibarat radar pencari rudal. Ahaay! Itu ada dua bocah bertelanjang kaki berlarian di trotoar. Tak diragukan lagi, mereka pastilah anak jalanan! Yaah....sayang aku sedang melaju kencang di lajur tengah. “Sayonara Dik, lain kali ya.”

Kurang dari satu kilometer lagi aku akan tiba di rumah, tapi ‘target’ belum juga muncul. Gimana nih? Sengaja aku jauhkan ruteku, melewati lampu merah yang biasanya tidak perlu aku lalui. Belum sampai ke garis depan, ada lima anak (salah satunya menggendong bayi), berpapasan denganku. Akhirnya, tanpa basa-basi, kuserahkan bungkusan susu itu kepada yang mengasuh bayi, “Dik, ini ada susu.” “Terima kasih, Pak”, sahutnya dengan nada datar, tanpa senyum yang berbinar. Aku langsung tancap gas, mission accomplished, thanks GOD!

Sungguh aneh tapi fakta. Seringkali saya, atau mungkin kita, lebih ‘penuh pertimbangan’ tatkala ingin melakukan perbuatan baik, ketimbang yang tidak baik. Lebih ‘berpikir masak-masak’ bila mau memberi daripada bila mau mencuri. Ketika mau melakukan hal yang buruk, ada berapa pertanyaan yang kita lontarkan pada diri kita? “Apakah ini salah?” “Apakah ini merugikan orang lain?” “Apakah ini menyakiti Tuhan?” “Apakah ini berdampak negatif bagi diri kita sendiri?” Lumayan, paling tidak ada empat pertanyaan. Namun, coba bandingkan dengan jumlah pertanyaan yang muncul saat misi mengantar susu tadi?

Hal berikutnya ialah seberapa besar kita mengharapkan ucapan terima kasih dan senyuman kepuasan dari orang yang kita beri atau layani? Saya pribadi sangat bersukacita bila melihat orang yang saya beri atau layani tersenyum dan meluap-luap penuh ekspresi syukur. Namun itu bukan hal penting, bahkan acapkali karena hal itulah kita jadi membusungkan dada dan merasa berjasa secara berlebihan; hingga jatuh dalam kesombongan. Hendaklah saat memberi, kita tidak mencari senyuman di wajah orang yang kita beri; melainkan di wajah Dia, yang memberi kita kesanggupan untuk memberi. Tuhan Yesus memberkati.

Memberi tidak pernah membuat kita “miskin”, justru hanya “orang miskinlah” yang tidak pernah memberi.

“... Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”