Sunday, August 23, 2020

Jatuh dari Langit


Aaaaaauuw! Pagi itu pecah oleh teriakan feminin yang keluar dari leher berjakunku, saat ada sesuatu meloncat ke arah celana. Benda kecil itu hidup! Ia menyeruak dari dalam tas kerja yang kupanggul dari rumah. Mungkin semalam ia menginap di dalam, lalu tanpa sadar kuajak dia ke kantor. Hmm, sebenarnya siapa dia?

Ia biasa menempel pada dinding, lalu perlahan merayap. Hadirnya suka bikin merinding, namun syukurlah ia tak bersayap. Pasti kita semua kenal makhluk halus yang satu ini, cicak! Cosymbotus platyurus atau cicak tembok adalah saudaranya tokek. Mereka sama-sama bangsa reptil dari suku Gekkonidae. Sekian biografi singkatnya.

Belakangan ini mataku acapkali menyaksikan ia melawan kodratnya sebagai cicak tembok. Ia lebih banyak berkeliaran di lantai, seolah ingin menyangkal lirik lagu A.T. Mahmud, “Cicak-cicak di Dinding”. Ketika berlarian di ubin, sekilas ia jadi mirip kecoak - Si Hitam Mungil yang mampu membuat histeris seisi rumah (terlebih Sang Nyonya Rumah). Pertanyaannya, mengapa cicak yang terbiasa hidup di langit-langit, kini malah membumi? Apakah ia sedang turun takhta dan menjelma jadi rakyat jelata? Semuanya masih tanda tanya.

Setelah bertapa, mencari fakta dan mengira-ngira, kutemukan jawabnya. Ia melantai, bukan untuk bersantai. Ia justru sedang mengintai, mencari mangsa untuk dibantai. Ia terpaksa mencari nafkah di bawah, karena populasi nyamuk di atas sudah berkurang akibat maraknya fogging yang dilakukan. Jadi, mau tak mau, suka tidak suka, ia harus berjuang lebih keras demi mencari sebutir nasi. Tak heran aku sering memergokinya di sekitar rice cooker, sedang mengendap-endap hendak mengambil sisa-sisa nasi kering. Adakalanya ia ngumpet di kolong meja makan, menanti remah-remah yang berantakan. Tak percuma ia menyandang marga reptillia, karena ia mampu bertahan dan beradaptasi di dua kondisi, di atas dan di bawah.

Bagaimana dengan kita di tengah pandemi ini? Wabah ini telah mengubah hidup kita. Dari work from office menjadi work from home; sekolah di kelas menjadi G*gle Class; ibadah di rumah ibadah menjadi di rumah sendiri; dan banyak hal lainnya. Lebih dari sekadar perubahan, virus ini juga membuat banyak kehilangan. Mulai dari kehilangan orang-orang tersayang, lenyapnya penghasilan, raibnya pekerjaan, tertutupnya peluang, dan sebagainya. Apakah kita masih kuat berdiri atau sudah mulai kehabisan energi?

Kalau cicak saja sanggup beradaptasi, kita (manusia) pasti juga mampu lewati semua ini. Seperti cicak, kondisi ini juga memaksa kita turun ke bawah dan berusaha ekstra agar tetap eksis. Buat kamu yang sudah mulai lelah –saya pribadi mengalaminya– curhatlah pada Sang Pencipta, mohon pertolongan dan kekuatan dari-Nya, serta teruslah berjuang. Jangan menyerah, ingat ada Allah! Buat kamu yang masih kuat berdiri, jangan jemawa. Tetaplah mengucap syukur, bahwa semua karena anugerah-Nya. Ulurkan tanganmu pada yang butuh bantuan. Dan terakhir, untuk kita semua, marilah kita saling jaga. Bukan hanya menjaga jarak dan kesehatan, namun juga menjaga dan saling menguatkan hati agar tetap memiliki harapan. Niscaya badai ‘kan reda. Kiranya Tuhan menyertai kita dan menjadikan kita generasi yang lebih tangguh dari sebelumnya. Amin. Tuhan Yesus memberkati!

Saturday, May 30, 2020

The Pool, the Rules and the Lifeguard





Sayangnya, cuma judulnya doang yang in English, sok-sok mirip novel Narnia-nya C.S. Lewis; padahal isi ceritanya mah tetap ala J.S. Badudu. Berbeda dengan istriku @nidyamario yang fasih British, bahasa inggrisku kritis. Itulah perbedaan antara lulusan FKIP dan didikan Sesame Street. Let’s jump to the story!

Masa PSBB yang berestafet dengan libur Lebaran, mengubah hidupku dari pria kantoran jadi lelaki rumahan. Yang biasanya pulang malam, kini bisa buktikan betapa nikmatnya tidur siang. Merasa bosan? Antara agak dan enggak. Sebab bagiku yang suka lesehan (leha-leha sembari rebahan), yang namanya liburan selalu terasa kurang, meskipun harus #dirumahaja.

Di suatu pagi, tiba waktunya anak-anak mandi. Kami tetap berupaya mandi dua kali sehari, meskipun sebagian dari kita berkata “cukup sekali saja” dengan alasan ‘new normal’ (yang cuma mandi sekali ayo ngacung;p). “Anak-anak, hari ini jadwal cuci mainan ya, jadi kalian bisa main air dulu sebelum mandi,” seru istriku lantang. Pernyataan itu disambut positif oleh Nol dan Ney. Tanpa disuruh, merekapun langsung melangkah ke TKP.

Akupun mengintip dari sela-sela pintu, menyaksikan serunya mereka berendam di ‘bathub’ yang sejatinya adalah ember mandi Nolan tatkala ia bayi. Karena sempit, harus bergantian agar tak terhimpit. Seketika timbul rasa kasihan sekaligus suatu gagasan. Mengapa tak beli kolam renang angin yang bisa ditaruh di halaman? Tanpa menunda, segera kujelajahi t*k*pedia, mencari apakah barangnya tersedia. Syukurlah, dengan budget yang pas-pasan, kutemukan kolam yang muat dua insan. Jangan lupa beli pompanya juga ya!

Singkat cerita, inilah hari yang sangat dinanti, because is swimming day, yeay! Pagi-pagi kupompa kolamnya, kuisi airnya, dan tidak lupa kububuhi sepertiga tutup botol cairan bernama D*ttol. Seperti yang kuduga, anak-anak bangun lebih pagi, sarapan dengan cepat dan lebih kooperatif. Tanpa perlu tarik urat, dalam sekejap mereka sudah siap. Anak-anak tak ubahnya dengan kita, cenderung lebih patuh bila ada udang di balik batuh.

Byuur!! Senang sekali melihat anak-anak tertawa cekikikan. Bermain air memang selalu menyenangkan, meski hanya di lingkaran seluas kolam ikan. Luapan gembira di wajah lugu mereka, meluber ke hati kami orang tua. Saking senangnya, kadang ekspresi mereka kebablasan. Nol berteriak keras-keras hingga mengganggu tetangga sekitar, Ney berdiri di dalam kolam yang berisiko membuat kaki kecilnya terpeleset. Berulang-ulang diperingati, namun sepertinya tak masuk ke hati. Untuk itu, kami lekatkan di dinding beberapa aturan dasar agar anak-anak dapat tertib saat berenang. Last but not least, salah seorang dari kami harus menjadi lifeguard di tepi kolam (kayak di serial Baywatch), guna memastikan semua aman terkendali dan tak ada yang tenggelam di kedalaman 30 centi.

Bila mandi jadi hal yang dihindari, kolam justru menggoda hati ‘tuk ceburkan diri. Alhasil, waktu berenang jadi seperti nama restoran padang legendaris, pagi sore. Satu hal yang disayangkan, andai saja kolamnya lebih besar, maka mama papanya juga bisa berendam.

Kala mentari sirna berganti purnama jingga, sebuah analogi datang, menghampiri pikiran di ujung petang. The pool, the rules and the lifeguard ibarat tiga hal, yaitu dunia tempat kita hidup, peraturan yang ada dan Tuhan Yang Mahakuasa.

Seperti anak-anak, dunia ini sangat menyenangkan bagi sebagian besar kita. Kita tak ingin pergi dari dunia, melangkah keluar pun ogah. Namun suka tidak suka, ‘pabila ‘malam’ tiba, kita harus keluar dari ‘kolam’, tidak bisa tidak. Jadi, pastikan selama berada di ‘kolam’ kita menikmatinya, membuat air bergelombang riang, dan membuat kehangatan bagi perenang lainnya. Sebuah anugerah kalau kita bisa terbahak-bahak seperti Nolan dan Neya.

Agar memiliki kehidupan yang baik, kita tidak boleh hidup sembarangan, harus taat aturan. Papan aturan bisa berjuta rupa. Mulai dari yang sederhana seperti “jangan buang sampah sembarangan”, nasihat orang tua, aturan keluarga, tata tertib perusahaan, undang-undang pemerintah, hingga petunjuk hidup yang hakiki di tiap paragraf kitab suci. Bila aturan dilanggar, maka ada konsekuensi yang tak bisa dihindar. Di dunia yang ‘rusak’, taat aturan kerapkali membuat hidup jadi lebih pelik, tapi yang terpenting kita sudah melakukan bagian kita.

Lifeguard, pada konteks sebenarnya berarti penyelamat yang piawai berenang, biasanya bertugas di pantai atau kolam renang besar, yang selalu stand by ketika ada yang butuh pertolongan. Namun dalam teks ini, lifeguard = penjaga hidup. Yup, Tuhan adalah penjaga hidup kita, bahkan penyelamat jiwa kita. Dia selalu mengawasi kita di tepi kolam, setia menunggu lambaian tangan kita. Di pinggir kolam, sesekali ia melempar senyum dan juga menegur kita kala melanggar aturan. Saat kita tergelincir, terminum air atau nyaris tenggelam, tangannya akan memegang kita erat-erat. Ia mampu menenangkan air yang berombak dan juga menjernihkan air yang keruh. Dan bila waktu bermain telah habis, Ia akan menuntun kita pulang ke rumah-Nya, asalkan kita percaya pada-Nya.


Saat ini ‘kolam’ kita bersama sedang tercemar virus corona. Pandemi memaksa penghuni kolam pergi satu demi satu, dan tidak kembali lagi. Banyak aturan yang dibuat agar virus tak menyebar, namun ia masih terus beredar. Apa yang bisa kita lakukan? Salah satunya adalah taati aturan yang ada, terus berdoa dan percaya pada Sang Lifeguard yang berkuasa mengendalikan semua dan memulihkan pada waktunya. Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Tuesday, June 4, 2019

Di Pintu Taksi

Tampaknya galak, tapi kayaknya ngga. Atau terlihat jinak, namun malah ganas? Anjing siapakah itu? Ini bukanlah tentang seekor anjing, apalagi serigala. Inilah kisah sebuah benjolan yang tertanam di dada kiri istriku. Benda jendol alias benjol bukanlah hal asing di dada para wanita. Gumpalan bulat ini kerap timbul ketika menyusui. Hormonlah penyebabnya. Di akhir masa laktasi, biasanya benjolan itu pergi. Namun adakalanya ia kerasan dan bersikeras untuk tetap bertahan.

Demikian pula benjolan di payudara istriku, sebut saja Mawar. Ketika masa menyusui berhenti, jendolan itu ogah pindah ke lain hati. Dugaan dokter laktasi, ini mungkin kista, tidak bahaya, tapi sebaiknya di-USG saja untuk mengetahui identitas yang sebenarnya.

"Ibu Mawar..." seru suster radiologi memberi tanda bahwa giliran USG sudah tiba. Sayangnya, aku hanya boleh menunggu di luar ruang pemeriksaan sembari harap-harap cemas, menanti dengan gemas. Tak lama istriku keluar ruangan. "Gimana Babe?" tanyaku santai karena toh menurut dokter laktasi relatif aman-aman saja. Namun wajah istriku tegang, dan ia berkata bahwa dokter USG bilang ini serius, diduga kuat cancer. Kami disuruh segera cari pertolongan medis, dan jangan coba-coba cari alternatif.

Syok, sedih, dicampur, lalu diaduk-aduk, stres maksimal. Berita yang sungguh membuat hati menderita. Bagaimana masa depan? Bagaimana anak-anak yang masih kecil-kecil? Segabruk pikiran buruk membuat kami terpuruk. Bila melamun, tanpa sadar mata berembun. Kami tahu betul harus positive thinking, namun pikiran negatif ini sulit sekali ditengking. Syukurlah, setelah berdoa dan minta didoakan oleh beberapa teman, kami mulai bisa tenang dan mencari jalan keluar, meskipun belum terlihat ujungnya.

Berbekal hasil USG yang menyatakan Mawar diduga kuat cancer (indeks 5 dari skala 6), kami bergegas mencari dokter bedah onkologi (tumor) untuk konsultasi. Dokter pertama yang sudah sangat senior menyatakan ia ragu benjolan ini ganas, sehingga ia minta di-USG ulang. Sedihnya, hasil USG-nya sama, berbahaya! Namun sang dokter tetap teguh pada keraguannya. Menurutnya, satu-satunya cara untuk menguak misteri ini adalah dengan cara bedah lalu biopsi.

Jadi, benjolan akan diangkat melalui operasi, lalu saat itu juga dibiopsi dengan mikroskop sekitar 15 menit. Bila selnya jinak, maka enak, tinggal ‘dipermak’ dan bisa ‘tidur nyenyak’. Tetapi bila ditemukan keganasan, maka sebaiknya seluruh payudara harus diangkat (mastektomi), lalu menjalani kemoterapi, radiasi, dan mengonsumsi obat selama beberapa tahun. Ketika ditanya berapa peluang jinak atau ganasnya, jawaban dokter seperti sedang jadi peserta salah satu kuis televisi: ‘fifty-fifty’.

Kata orang, coba cari second opinion. Dokter kedua berkata, "Dua hasil USG menyatakan (benjolan) ini berbahaya, tapi kok menurut hasil perabaan saya kayaknya jinak ya? Tapi kita ngga bisa sepelekan hasil USG ini karena secara teori akurasinya 94%.” Selanjutnya ia menyuruh kami mammografi dan ternyata hasilnya juga tidak baik. Namun lagi-lagi, ia meragukan analisa mammo tersebut. Ia justru lebih optimis, menurutnya peluang benjolan ini jinak 75%. Akhirnya dokter bilang, “USG bisa salah, perabaan saya juga bisa salah, jadi ya tetap harus dibedah lalu biopsi.”

Opini ketiga dan keempat. Kali ini dokter wanita spesialis bedah payudara. Dari gambar, ia menegaskan ini siaga satu. Solusinya sama, operasi dan biopsi. Masih penasaran, kami coba berkonsultasi dengan dokter bedah di Melaka (Malaysia) via e-mail. Jawabannya sama, bedah dan biopsi, worst case harus dimastektomi.

Bedah dan biopsi. Agar Mawar bisa lepas dari ‘duri’, sepasang kata itu tak dapat dihindari. Dua kata berikutnya adalah jinak atau ganas? Mereka terus terngiang dan terbayang-bayang. Kami siap menghadapi operasi dan biopsi, namun rasanya belum siap menjalani konsekuensi bila ternyata hasilnya ganas. Bengong sedikit, maka dua kata yang saling berantonim itu terus berpantomim di benakku. Jinak atau ganas? Ganas atau jinak?

Sungguh aneh tapi nyata, dalam perjalananku ke kantor, saat dua kata itu terlintas, tiba-tiba tampak sebuah taksi putih. Uniknya, di pintu bagian bawah taksi itu ada gambar burung kecil dan di sudutnya ada tulisan 'jinak'. Mungkin maksudnya jinak-jinak merpati. Inikah jawaban Tuhan atas misteri ini? Aku hanya bisa mengaminkannya dan terus berharap supaya kata itu jadi kenyataan.

Setiap hari terasa mendung. Di masa-masa sukar begini barulah kami sadar, doa-doa kami lebih serius, tak cuma yang itu-itu terus. Kami manusia berdosa yang suka lupa Pencipta dan ingat kembali kalau lagi ada maunya. Kami bersyukur Tuhan tetap Tuhan, yang senantiasa menerima dan menolong kami. Ia memberikan damai sejahtera-Nya, sehingga kami bisa tetap menjalani hari-hari. Satu hal yang kami minta, agar kami diberikan kepekaan langkah apa yang harus kami ambil. Jangan sampai Tuhan suruh ke sini, tapi kami malah ke sana.

Minggu pagi 12 Mei, Mawar berulang tahun. Ucapan semoga panjang umur menjadi sangat berarti di ultah kali ini. Kesembuhan menjadi ‘the only wish’ kami pada Tuhan ketika lilin ulang tahun ditiup. Rabu malam 15 Mei, Mawar masuk ruang operasi diiringi orang banyak dan doa banyak orang. Aku hanya bisa menanti, terpatri tegang setengah mati.

Satu jam berselang, dokter memanggil dan meminta sebuah keputusan yang sangat berat untuk diambil. Sembari memegang seonggok daging merah seberat lebih kurang 1 ons, dokter menjelaskan, “Ini sudah saya ambil, lalu saya belah dua. Ini benjolannya yang sebelah sini, dan ini sangat dekat dengan kelenjar susu. Sekarang ini akan dibiopsi di lab. Bila jinak, selesai sudah. Tapi kalau ganas, saya perlu keputusan segera. Payudara akan diangkat semua, atau dipertahankan sedapatnya dengan catatan risiko kekambuhan yang lebih tinggi. Saran saya, sebaiknya diangkat semua. Nanti bila hasil biopsi selesai akan saya panggil lagi, kira-kira 30 menit.”  

Keputusan yang sangat sulit. Dibantu beberapa keluarga dan dua orang sahabat, akhirnya akupun memutuskan. Bila memang selnya ganas, lebih baik seluruh payudara kiri diangkat saja. Semoga Mawar bisa menerima kenyataan pahit ini. Di saat yang bersamaan, kami terus berdoa dan berharap hasilnya jinak.

Belum sampai 30 menit, kami kembali dipanggil oleh suster, “Keluarga Nyonya Mawar!” Dengan hati yang berdebar, kami gentar menerima kenyataan. “Silakan masuk ke ruang pemulihan”, seru seorang suster. Ternyata operasinya telah usai dan Mawarpun sudah siuman dari tidurnya. Sang dokter datang dan berkata bahwa hasil biopsinya jinak. Puji Tuhan! Kami semua sangat lega dan terharu. Tuhan mengabulkan permintaan kami. Awan kelabu itu sekejap hilang dibawa angin lalu. Terima kasih banyak Tuhan!

Seminggu kemudian, hasil patologi lengkap pun selesai. Bersyukur hasilnya pun jinak, tidak tampak tanda-tanda serta potensi keganasan. Hasil patologi ini sama dengan hasil biopsi saat operasi, sama juga dengan tulisan kecil di sudut pintu taksi. Ternyata benar, Itulah jawaban Tuhan atas pergumulan kami, melalui peribahasa ‘jinak-jinak merpati’.

Lewat kisah ini kami belajar empat hal. Pertama, kami belajar tentang ukuran, yakni ukuran masalah dan ukuran Allah. Saat diizinkan menghadapi masalah besar berupa benjolan ini, ukuran masalah harian di pekerjaan, mendidik anak, ujian sekolah, dan sebagainya; seolah-olah mengecil dan tidak perlu dikeluhkan. Sebaliknya, ukuran Allah justru membesar, selalu jauh lebih besar dari ukuran masalah yang kita hadapi.

Kedua, masalah kepekaan. Sulit sekali untuk tahu apalagi peka akan suara Tuhan. Satu hal yang bisa menolong kita adalah kehadiran damai sejahtera Tuhan ketika kita melangkah. Bila tampak meyakinkan, tetapi tiada damai sejahtera, jangan-jangan itu bukan tuntunan-Nya. Bila terlihat sulit dan mungkin ada keraguan, namun terasa ada damai-Nya, bisa jadi justru itulah rencana-Nya.

Ketiga, the power of prayer. Bersyukur sekali dalam proses ini kami didampingi banyak sekali teman-teman yang setia mendoakan. Kami yakin, topangan doa-doa kalianlah yang membuat kami bisa tetap kuat. Kami ucapkan banyak terima kasih. Tetaplah berdoa. May God bless you allKeempat, Tuhan bisa menjawab dengan cara apapun, termasuk lewat tulisan di pintu sebuah taksi.

Terima kasih. Semoga cerita puaanjaang ini bisa menjadi berkat. Amin.

Thursday, June 14, 2018

Sebuah Latihan



Tak ada yang istimewa, Minggu pagi itu adalah hari libur biasa. Hari di mana aku bisa bangun lebih siang, tak perlu terburu-buru, dan tak usah khawatir terlambat bekerja lalu kena hukuman harus memimpin senam di kantor. Hari di mana aku bisa menyaksikan Sang Mentari naik, tanpa harus menjadi panik. Sunday is always a fun day! Satu-satunya yang berbeda pagi ini adalah aku harus pergi mengambil kue kering di rumah tanteku, untuk diberikan kepada para pekerja di gereja yang merayakan Lebaran.

Syukurlah rumah kami berdekatan, cukup 5 menit berjalan kaki dan tentunya bebas macet. Setiba di sana, enam toples biskuit sudah tersedia, dibungkus dengan kresek merah dan siap untuk di take-away. “Thank you, i (sebutan tante di kalangan WNI keturunan Tionghoa), io pulang dulu ya!” seruku seraya melangkah pergi.

Ketika kaki ini bergerak beberapa jengkal, terasa ada yang janggal. Seolah ada yang membuntuti secara diam-diam. Kutolehkan leherku ke belakang, tak tampak seorangpun di sana. Kulanjutkah langkah demi langkah, perasaan itu muncul lagi, “Kok kayak ada yang ngikutin ya?”. Penasaran, kutengok lagi ke belakang. “But still nobody was there!” Kali ini kuperluas cara pandangku, ke belakang, ke kiri, ke kanan, ke atas lalu ke bawah. Oh, ternyata jawabannya ada di mata kakiku, pantas saja tidak kelihatan! Rupanya ada seekor anak kucing loreng berpunggung koreng mengekori aku sedari tadi. Ia tertarik pada kantong plastik merah yang kujinjing dari rumah Tante. Tampaknya ia kelaparan, mungkin karena lupa sahur.

Makin cepat kedua kakiku beranjak, kian gesit pula jejak-jejak keempat kaki kecilnya. Kejarlah daku kalau kau dapat. Susul-susulan, ibarat sebuah lomba jalan cepat yang sebenarnya tak sama kuat. “Gimana nih kalau diikutin sampai rumah? Gimana kalau dia terus minta diadopsi? Aku sudah punya dua anak, siapa yang akan membiayai anak kucing malang ini?” #lebay

Tiba-tiba aku teringat doaku pagi ini. Doa apa? Standar sih, setiap orang pasti berdoa minta perlindungan dan berkat Tuhan sepanjang hari (apalagi di tengah situasi keamanan saat ini, doanya pasti lebih panjang sedikit). Namun ada satu doa tambahan yang aku sisipkan. Doa tersebut mencontek doa Pak Pendeta yang berkhotbah saat malam Natal 2017 lalu. Ia bilang, belakangan ini ia tak lagi berdoa meminta berkat dari Tuhan, namun ia berdoa agar Tuhan mempertemukan dia dengan orang yang bisa ia tolong setiap harinya. Instead of asking for blessing, he prays to God to make him a blessing for others, day by day.

Akupun berubah pikiran. Dari yang awalnya takut dibuntutin, jadi semangat pulang ke rumah untuk mencari sesuatu yang dapat mengisi lambung kucing lapar itu. Memberi sesuatu yang dapat menolong Si Kitten, berbagi berkat untuknya. Syukurlah, istriku masih menyimpan secuil ayam rebus sisa sop kemarin malam. Sengaja aku pancing dulu Si Kucing ke depan sebuah rumah kosong, baru aku berikan ayamnya di sana, lalu akupun kabur, kembali ke rumah.

Apakah ini berarti Tuhan mengabulkan doaku? Kisah ini mungkin adalah latihan kecil dari Tuhan, untuk sekadar melatih kepekaan diriku. Kali ini Tuhan bereksperimen menggunakan “kucing percobaan”, karena mungkin kelinci susah dicari di komplek perumahan. Dan mungkin bila saatnya tiba, ketika aku dinilai sudah siap menjadi berbagi berkat, maka Tuhan akan mengirimkan obyek sungguhan untuk ditolong.

Tuhan seringkali memberikan kita latihan sebelum mengabulkan doa kita. Karena Ia bukan sekadar Pencipta yang seusai berkarya lalu pergi begitu saja; Ia melatih kita agar menjadi jawara-jawara-Nya, alias pemenang. Pernahkah kita berdoa minta kesabaran, lalu tiba-tiba anak-anak kita yang biasanya ‘jinak-jinak merpati’, menjelma jadi ‘serigala berbulu domba’? Itu adalah latihan kesabaran. Pernahkah saat kita berdoa ingin kurus dan sedang puasa makan malam, tiba-tiba tukang nasi goreng tek-tek terenak se-komplek lewat di depan rumah kita? Itu adalah latihan tahan godaan. Atau mungkin kita berdoa ingin lebih ‘perform’ dalam bekerja, lalu mendadak tertimpa kerjaan sehingga harus lembur di masa-masa menjelang libur? Itu adalah curcol, eh… maksudku itu adalah latihan ketahanan. Atau barangkali hari ini kita berdoa supaya bisa menjadi orang yang ikhlas, lalu keesokan harinya kita kehilangan barang kesayangan kita? Lagi-lagi, siapa tahu itu juga adalah latihan dari Tuhan, nobody knows.


Yang jelas, tujuan dari tiap-tiap latihan adalah membuat kita lebih kuat, lebih pandai, lebih bijaksana dan lebih siap menghadapi segala hal dalam hidup. Bahkan sesungguhnya seumur hidup ini adalah sebuah latihan panjang, yang mempersiapkan diri kita sebelum bertemu dengan-Nya, Pencipta dan Pelatih Agung kita. Jadi, latihan apa yang sedang kau alami saat ini? Jalanilah dengan sebaik mungkin dan senantiasa bersandar pada-Nya, karena sok pasti ada yang indah di ujungnya. Tuhan memberkati.