Monday, October 10, 2011

Language of Love (LoL)

“Saat kusentuh halus, kaupun tahu ‘ku ada…

Kubelai dengan lembut, kau tahu ‘ku sayang…

Ada bahasa cinta melalui sentuhanku…

Kau pun tahu bahasa cinta...”

Melirik penggalan lirik di atas, beberapa dari kita mungkin langsung teringat akan pariwara sebuah produk perawatan bayi ternama di era 90-an. Bila mau bernostalgia sejenak, masih hangat di benak bagaimana iklan tersebut tanpa malu-malu menayangkan adegan seorang bayi bugil yang pantat bogelnya sedang ‘ditepungi’ baby powder oleh sang bunda. Sembari mengusap-usap ‘sepasang bakpao’ tersebut, seolah si bunda sedang berbicara pada anaknya, “De, mama sayang banget sama kamu.” Anehnya, si adik bayi langsung merespon dengan tawa kecilnya seolah mengerti: “Ehehe…hihihi…” Hmm, aneh… kok bisa ya? Inilah yang seringkali disebut orang sebagai bahasa cinta.

Berangkat dari kisah iklan tadi, mari sedikit berandai-andai…

Andai 20 tahun bablas begitu saja, kini sang adik bayi tadi sudah tumbuh menjadi remaja cowok dengan gaya anak ‘begajulan’ zaman sekarang. Anting di cuping kiri, gelang p*wer b*lance di pergelangan tangan kanan, sepuntung rokok sedang luntang-lantung di antara jari telunjuk dan tengahnya. Suatu sore, saat ia asyik nongkrong di ujung gang bersama teman-teman se-gang-nya, sang bunda yang rambutnya kini mulai memutih memanggil dengan bahasa cintanya, “De…ayo pulang, sini mama bedakin yuk.” Kira-kira apa respon si adik yang sudah akil balik ini? Mungkinkah ia menanggapinya dengan senyum lalu mengangguk dan segera pulang? Nyaris mustahil rasanya. Mengapa demikian? Apakah ia merasa malu? Apakah ia tidak paham lagi akan bahasa cinta ibundanya? Bukankah dahulu ia memiliki bahasa cinta yang sama? Mungkinkah bahasa cintanya sudah berubah?

Bahasa cinta… sebenarnya bahasa apakah itu?

Kita yang sudah pernah dan sedang jatuh cinta pasti setuju bila cinta itu simple but also complicated (simplicated). Orang bisa jatuh cinta as simple as that, namun akibat terlalu cinta juga bisa timbul konflik yang amat rumit (conflicated). Itulah cinta, lalu bagaimana dengan bahasanya, apakah se-simplicated cinta itu sendiri? Mari kita belajar sedikit!

Secara sederhana, bahasa cinta adalah ‘bahasa’ yang dimiliki setiap insan untuk mengekspresikan rasa cinta, sayang, suka, dan perhatiannya. Tiap orang memiliki bahasa cintanya masing-masing, baik dalam hal ‘mengucapkan’ maupun ‘mendengarkan’ bahasa ini. Berikut beberapa contoh ekstrim yang semoga dapat membuat pemahaman kita lebih ‘meresap’.

Sebut saja Mawar, ia akan merasa sangat disayang bila makhkota wanitanya selalu dibelai-belai. Beda dengan Melati, dirinya akan terbuai bila tak putus-putusnya dingiangkan“I love you, Darling” di telinganya. Sementara Anyelir, serasa bak putri kesayangan pangeran ketika kekasihnya menjadi “ojek pribadi” yang siaga 24 jam dengan ‘kuda putih gagahnya’. Begitulah kira-kira bahasa kasih para ‘kembang desa’, lalu bagaimana dengan para ‘kumbangnya’? Bang Juri, kebahagiaannya sebagai suami menjadi sempurna ketika sang istri membelikannya arloji di hari jadi mereka. Sedangkan Pak RT, merasakan bulan madu keduanya manakala Bu RT menemaninya berbincang di tepi ranjang sebelum mereka ‘saling menerjang’.

Menurut ilmu yang saya peroleh di bimbingan pranikah, setidaknya bahasa cinta manusia dikelompokkan menjadi 5 bahasa, yaitu: physical touch (bahasanya Mawar), words (bahasanya Melati), acts of services (bahasanya Anyelir), gifts (bahasanya Bang Juri), dan quality time (bahasanya Pak RT). Cukup jelaskah? Supaya kian paham, mari ‘tenggelam’ lebih dalam!

Yang pertama, physical touch; ini bukanlah aktivitas fisik semata, melainkan ungkapan hati yang dijewantahkan dalam sentuhan. Bukan berarti suka dibelai karena jablai (jarang dibelai), tapi karena dalam belaian ada rasa disayang, aman, nyaman dan perlindungan secara emosional. Second language is words. Frasa demi frasa yang diutarakan sepenuh rasa, seolah mengangkat diri si empunya bahasa ini ke awan-awan cintanya. Lewat pujian, percaya dirinya pulih; lewat pengakuan, jati dirinya terangkat; dan lewat kalimat penyemangat, ia mampu bangkit dari keterpurukan! Bahasa cinta ketiga, acts of service. Si dia senang sekali bila kita melayaninya: membuatkannya teh manis, menyiapkan handuk mandinya dan mengantarnya sesuai rutenya hari itu. Bagi kita yang belum mengerti, acapkali kita menyangka bahwa orang macam ini adalah pribadi yang manja, bossy, atau bahkan egois; namun ternyata bukan itu faktanya. Atribut tersebut hanyalah bahasa cintanya, bukan karakter pribadinya.

Berikutnya, gifts, adalah sebuah ekpresi cinta yang diwujudkan dalam bentuk pemberian, misalnya hadiah (baik yang rutin maupun kejutan). Intinya, si pemilik bahasa ini merasa dicintai tatkala someone give him / her a gift. Perlu diingat, bukan berarti doski seorang yang materialistis, tapi memang beginilah gaya bercintanya! Finally, di urutan paling bontot ada quality time. Pecinta spesies ini dijamin tidak akan menuntut banyak dari kita, yang dia butuhkan hanyalah waktu kita, keberadaan kita di sampingnya, menemaninya melakukan hal yang terkadang sepele sekalipun.

Mencintai orang yang salah, pasti jadi masalah. Mencintai orang yang tepat namun salah dalam berbahasa cinta, juga bisa timbul prahara. Salah menuturkan bahasa cinta ibarat melesatkan anak-anak panah yang tak pernah kena sasaran. Akhirnya, sang pemanah pun kelelahan, sementara sang target tetap merasa terabaikan. Celakanya lagi, bila ternyata ada panah pihak ketiga yang ‘nyasar’ dan mengenai target kita. Salah-salah, apa yang sudah menjadi milik kita bisa ‘disamber’ orang.

True love never changes, but how about its language? Seorang istri yang telah melewati masa pernikahan peraknya sharing kepada saya, “Dulu saya ngga suka lho kalo dicium suami saya, eh tapi lama-lama enak juga ya!” Sebuah kejujuran barusan mencerminkan bahwa bisa saja ekspresi cinta berubah, walau tidak selalu. Untuk itu, senantiasa pastikan bahwa kita telah berbicara dengan bahasa cinta yang tepat. Bagaimana caranya? Mudah saja, bertanyalah! Usahlah sungkan. Jangan sampai pepatah “malu bertanya sesat di jalan” membuat hubungan kita retak perlahan.

Jadi, pekerjaan rumah kita sekarang adalah memastikan pada orang yang kita kasihi: “Darl, what is your love language?” Apakah selama ini aku sudah menyapa dan menyentuh hatimu dengan cara yang benar? Bila sudah dapat ‘contekan’, waktunya dipraktekkan! Touch, speak, serve, give and spend your precious time with your wife, husband, or spouse; and enjoy a wonderful communication of loves. Buat kamu yang jomblo, ngga perlu melongo, soon your time will come! In fact, now there are many people around you waiting to hear your love voice and eager to share it with you. No reason to miss this love season!

As closing words in this “LoL”, I just want to say what L-men six packs man had said:

”Trust me, it works!”

Thanks for reading, Friends!

God knows your "LoL", and He loves you more than that.

Jesus blesses you.

Tuesday, January 11, 2011

B1M84NG


Hidupku penuh sesak…
Hari-harinya berjejal dengan angka, dijubeli ribuan kata
Bila aku harus memilih, antara kata dan angka, apa pilihanku?

Ku lebih suka bekerja menguntai kata,
ketimbang berkutat dengan rentetan angka.
Namun ‘ku lebih senang dibayar dengan sederet angka,
ketimbang hanya dengan serangkai kata.
Jadi, apa pilihanku?

Kata-kata itu luar biasa;
sebab kala mereka dijalin, indahnya lampaui rupanya bunga.
Angka-angka pun tak kalah dahsyat;
karena saat ditanam di ‘pot’ yang tepat, mereka berbunga berlipat-lipat.
Jadi, apa pilihanku?

Karena kata, selembar papirus mati jadi berarti.
Karena angka, secarik kertas lusuh mati-matian dicari.

Akibat kata penuh umpat, persahabatan tak lagi erat.
Akibat angka penuh muslihat, persaingan tak lagi sehat.

Jadi, apa pilihanku?

Aku suka angka, tapi juga cinta kata.
Bahkan otak kiriku memikirkan keduanya.
Jadi, bila aku harus memilih, antara kata dan angka, apa pilihanku?

B1M84NG… sebab ‘ku butuh keduanya ‘tuk melengkapi hidupku.

Friday, December 31, 2010

When Heart Beats Fast and Palm Goes Wet

Sekitar dua bulan silam, mudah sekali ku merasa lelah. Napas di dada setengah-setengah, sehingga sering terengah-engah. Alhasil, aku jadi parno sendiri. Hati kecilku berbisik penasaran, adakah aku mengidap penyakit jantung? Duh… dag-dig-dug deh jadinya; terlebih bila mengingat telapak tanganku yang doyan berkeringat. Orang bilang, itu salah satu gejala jantungan, OMG!!

Saat masa remaja, aku pernah berkonsultasi dengan seorang dokter internis guna mengklarifikasi hal ini. “Dok, kenapa telapak saya suka keringetan ya?” Dengan enteng tabib modern itu menjawab, “Oh, itu berarti kamu labil.” “Ooo, gitu ya, Dok”, sahutku lugu. Untung saja istilah “ababil” (ABG labil) belum happening di zaman itu.

Usiaku bertambah, telapak tangan tetap saja basah. Hal ini mengakibatkan beberapa sohibku enggan berjabat tangan denganku. “Abis tanganlu becek, Mar.” itu alasan standar penolakan mentah mereka. Namun, kendati telapak ini acap berlumur keringat, syukurlah jantung hatiku tak keberatan kugandeng setiap waktu. “That’s my girl:)” Hal lain yang menghiburku adalah genangan ‘air asin’ ini menjadikan telapak tanganku senantiasa lembut karena terjaga kelembabannya.

Acuh tak acuh, demikianlah aku menyikapi gejolak di dada kiri bagian dalam ini. Sometimes aku cuek, namun adakalanya aku over protected terhadap organ inti yang vital ini; seperti dikisahkan dalam penggalan cerita berikut:

Suatu malam aku dan beberapa rekan sejawat bermain-main ke sebuah mal yang memiliki area permainan dalam ruang. Dengan semangat yang meledak-ledak, seorang temanku yang berdialek Sunda mengajak kami memasuki wahana rumah hantu. Aaa…apa?? Langsung terbersit di benakku sosok-sosok seram yang membuat jantung terhujam. Dag-dig-dug deh jadinya! “Ayo…ayo…Mar!” teman-teman lainnya antusias mengajakku masuk ke dalam wahana gulita itu. Hmm…ikutan ngga ya?? Semakin mendekati wahana, aura angkernya kian merona. Di gerbangnya tertulis peringatan: “Dilarang masuk bagi yang menderita penyakit jantung atau sejenisnya.” Oh…tidak! Bagaimana ini? Kalau aku menolak masuk, pasti dicap penakut. Berbekal nekat, kuberanikan diri memasuki lorong gelapnya, hiiii…so so creepy! Baru dua tiga meter langkah ini menapak, dag-dig-dug-dag-dig-dug…oops, kok perasaanku ngga enak ya? Dag-dig-dug-dag-dig-dug, iramanya kian kentara, keringat di tangan mulai mendera. Aaahh…akhirnya kuputuskan untuk keluar dari mulut bangunan horor tersebut. Pikirku, lebih baik dicap pengecut, ketimbang mati terkejut. Sorry Guys, wahana yang ini aku absen dulu ya.

Semenjak peristiwa itu, tak henti-henti hati bertanya. Benarkah jantungku bermasalah? Ditambah lagi tersiar kabar ada beberapa kerabat yang dikagetkan oleh serangan fajar penyakit ini. Memang sih usia mereka jauh lebih uzur, namun bukankah bencana tak pandang umur? Apakah benar aku juga seperti mereka? Hanya satu cara untuk menjawab misteri di relung hati ini. Konsultasi dengan ahlinya!

Konsultasi ke dokter jantung. Kendati terdengar gampang, namun faktanya tidaklah mudah, apalagi murah. Belum apa-apa, hati cerewet ini sudah bertanya lagi, “Bagaimana kalau aku divonis mengidap jantung koroner akut dan harus segera dioperasi, dipasang ring atau di-bypass? Bagaimana bila ternyata sesak di dada yang telah aku rasakan adalah agresi pertama dari penyakit ini? Siapkah aku menerima kenyataan?” Belum lagi masalah biaya, dijamin akan meredenominasi paling tidak enam digit angka rupiah. Di tengah kekhawatiran, aku hanya bisa berdoa, “Tuhan, klo boleh, nanti diagnosisnya jangan parah-parah ya, yang masih acceptable-lah, jadi bisa berobat pelan-pelan. Hmm…klo emang ternyata saat ini udah tergolong gawat, tolong Tuhan sembuhin dikit dulu, jadi pas diperiksa dokter udah ringan deh, OK? Thank You Lord, Amen!”

Singkat cerita, ku datangi sebuah RS dan mencalonkan diri untuk menjadi pasien di sana. Seorang Cardiologist – Interventionist (baca: ahli jantung) yang bergelar App, Sc, SpJP, FIHA kuberi kehormatan untuk meraba-raba bagian dadaku guna mendeteksi ada apa di dalamnya. Didampingi kekasih yang setia, kunantikan hadirnya sang dokter bejubel gelar itu.

Bapak Mario!” dengan santun seorang suster menyebut namaku. “Silakan masuk, Pak!” Bergegas kutuju meja sang dokter dan mengadakan perbincangan serius. “Begini Dok, belakangan napas saya kok pendek dan agak sesak ya? Terus sudah sejak kecil telapak tangan selalu keringetan. Banyak orang bilang itu gejala jantung. Nah, makanya saya ke sini, mau mengkroscek apakah benar ‘dakwaan’ mereka selama ini?”

Silakan berbaring di sana, Pak’, kita cek tensi dan detak dulu ya”, seru sang kardiologis santai. Tanpa dikomandoi, sang suster mengeluarkan stetoskop dan perangkat tensinya yang langsung didaratkan di dada datarku, “Tarik napas, Pak... buang napas... sekali lagi... napas yang panjang... buang… OK!” ujar sang perawat. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menemukan tidak ada yang salah. Kalau begitu, apakah berarti jantungku bebas masalah? Wait, is not as simple as that, Guys! Guna menerawang lebih jauh, sang dokter mengajakku untuk ikut tes berikutnya: Treadmill Test! OK, sounds cool:)!

Pada uji ini, aku harus berlari di atas treadmill yang diatur dalam empat tingkatan kecepatan. Tujuannya adalah memacu kinerja jantungku dan melihat bagaimana fluktuasi dag-dig-dug-nya. Aku ditargetkan untuk bisa mencapai minimum 85% waktu dari total menit yang ditetapkan di tiap level kecepatan. Ya, anggap saja sedang berlatih di pusat kebugaran. Yang membedakan adalah aku dipaksa mengenakan kimono tipis ala ruang operasi. Selain itu, di sekujur dada serta area six pack-ku ditempeli ‘lintah-lintah’ bundar berkabel yang terkoneksi ke komputer. Sayangnya aku tak sempat mengabadikan momen langka itu.

Bisa kita mulai, Pak?” tanya sang suster. “Bila di tengah ‘pelarian’ ini Bapak merasa sesak atau ada keluhan di bagian dada, harap segera beritahu saya,“ sambungnya ramah. “Baik, Sus. Let’s go!” sahutku penuh percaya diri. Level pertama: ibarat jalan-jalan sore sambil menanti terbenamnya mentari. Tak ada upaya yang berarti di level ini. Lanjuuut! Level dua: kecepatan di level ini membawa derap langkahku ke suasana jogging di Sabtu pagi. Meski lajunya masih relatif pelan, ia berhasil membuat bulir peluh bermunculan. Tanpa perlu strategi bulus, level dua lulus dengan mulus. Now, we’re going to level three. Conveyor di bawah kakiku berputar kian cepat, sehingga mau tak mau aku pun menambah gesitnya ayunan kakiku. Berlari konstan dengan kecepatan seperti ini membuatku harus berhati-hati dalam mengatur ritme pernapasan; huuh…haah…huuh…haah… Peluh yang awalnya hanya di pelipis, mulai merembes ke kimono tipis. Huuh…haah…huuh…haah…finally level tiga finish juga!

Masih kuat lanjut ke level terakhir, Pak Mario?” sang suster kembali mengajukan pertanyaan sambil melongok tampangku yang tampak kuyu. Seorang pria harus menyelesaikan apa yang telah dimulainya, “Lanjuut, Sus!”. Pandanganku mulai agak remang dan keringat makin bercucuran, terutama di telapak tangan yang sedang menggenggam erat pegangan treadmill, wuiih banjir euy! Napas tinggal sisaan, ngos-ngosan. Hmm…ini gara-gara lemah jantung atau memang staminaku yang ngga prima ya? Entahlah. Sekarang yang penting adalah berlari sekuat tenaga, banzai! Ya…sedikit lagi…83%...84%...85%! Akhirnya aku berhasil mencapai batas minimum waktu yang ditargetkan, well done! Proses pengetesan telah selesai, kini tinggal menunggu bagaimana hasilnya. Suster mempersilakanku berganti pakaian, sementara ia mencetak hasil rekaman jantungku yang akan dilaporkan ke Pak Dokter.

Seusai berganti kostum, aku diminta menanti di ruang tunggu. Iseng kuintip ruang sang dokter, rupanya beliau sedang sibuk mengamati lembaran kertas bergambar grafik naik-turun yang tidak lain adalah rekaman detak jantungku. “Silakan masuk, Pak Mario”, seru seorang suster dari balik pintu. Dag-dig-dug… inilah saat yang dinanti-nanti. Jawaban yang kucari sejak usia dini akan terkuak malam ini. Aku langsung meluncur ke meja sang dokter, duduk berhadapan dan saling bertatapan. Kusiapkan hatiku untuk menerima yang terburuk, lalu bertanya, “Bagaimana hasilnya, Dok?”. Di luar dugaan, sang dokter merespon dengan cepat, “Dari hasil treadmill bagus, ngga ada masalah apa-apa, jadi saya ngga kasih obat apa-apa ya, karena memang ngga ada apa-apa.” “Oooo…aku pun termangu.” Sulit rasanya memercayai jawaban dokter yang jauh di luar ekspektasiku. Masih belum puas, kubombardir sang dokter dengan pertanyaan beruntun, “Hmm… jadi klo tangan keringetan itu kenapa, Dok? Terus kalo deg-degan plus tangan berkeringat waktu naik ke tempat yang tinggi itu kenapa tuh, Dok?” Jawab sang dokter, “Klo tangan keringetan, itu biasanya karena kelenjar keringat yang berlebih (hyperhydrosis), ngga bahaya kok, cuma ganggu aja. Terus klo masalah deg-degan dan tangan basah pas naik-naik, itu karena perasaan cemas aja, sehingga memicu keringat.” “Ooo…gitu ya, ok deh, makasih banyak ya, Dok!” seruku sambil meninggalkan ruangan dengan penuh keraguan.

Ketika berada di luar, tiba-tiba aku terhenyak. Ku teringat akan doaku sebelum berangkat ke rumah sakit. Aku telah berdoa minta jamahan Tuhan; dan faktanya He has answered my prayer, jantungku divonis sehat wal’afiat! Tapi, mengapa aku justru tidak percaya saat dokter bilang jantungku baik-baik saja? Mengapa seolah aku ‘ngotot’ ingin ada sesuatu pada jantungku? Aku sudah berdoa pada Tuhan, tapi ragu tatkala doaku dijawab-Nya. “Please forgive me, GOD, karena telah meragukan pertolongan-Mu. Terima kasih banyak karena telah menyembuhkan aku, Amin!”

Apa hikmah dari cerpen panjang ini? Berdoa itu mudah, yang sukar adalah menanti jawabannya. Bahkan ketika Tuhan menjawab doa dan keinginan hati kita, adakalanya kita ragu apakah itu dari Tuhan. Seringkali kita lebih yakin kepada apa kata orang atau ‘feeling’ diri sendiri ketimbang pada apa yang nyata-nyata Tuhan telah buat pada kehidupan kita. Adakalanya kita tidak yakin apakah Tuhan mampu menjawab doa-doa kita. Kalau sudah begitu, apa gunanya berdoa? Sebaliknya, saat kita berdoa, hendaklah kita percaya bahwa kita telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada kita. Camkanlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segalanya; jadi tidak mungkin ada yang mustahil bagi Dia. Betul betul betul?

Thursday, October 14, 2010

A Man Without Nails

Cowok : Babe, tolong garukin dong...

Pacarnya : Kamu kamu...manja betul deh, masak tinggal garuk aja mesti aku juga sih...??

Cowok : Please...(dengan muka memelas seraya menunjukkan ujung-ujung jemarinya)

Pacarnya : Oiya, aku lupa kamu ngga punya kuku ya :)


A man without nails. Sejak bocah hingga usia ngebet nikah, julukan itu terus saja membuntutiku. Padahal faktanya aku punya kuku kok! Hanya saja dimensinya yang cute dan ciut - berbeda dengan kuku-kuku kebanyakan - membuatnya kehilangan fungsi dasar sebuah kuku. Mengapa sampai bisa begitu?

Entah siapa yang mengajari, sedari balita, aku doyan sekali melahap bagian ujung jari yang biasa dipakai orang untuk mengupil ini. Beberapa orang suka menyindir dengan bertanya “Emang enak ya, io?” Hmm... biasanya sih berasa tawar, tapi bisa juga beraneka rasa; tergantung pada benda apa yang terakhir kontak fisik dengannya. Akan terasa manis bila ada sisa-sisa S*lver Qu**n yang tersemat di sana; dan akan terasa asin bila baru saja selesai digunakan untuk mengeksplorasi indera pernapasan kita, berasa banget gurih karamelnya;p. Hihihi....

Seiring bertambahnya digit usia, banyak hal berganti dan berubah. Polo shirt slim fit menggantikan oblong yang gombrong, rambut gondrong berbelah simetris jadi lebih kelimis, perut nan rata mulai di atas rata-rata. Satu hal yang belum berubah adalah hobi menyantap kuku-kuku renyah. Nyaris tiada hari tanpa serpihan kuku yang jatuh ke tanah. Awalnya tak terbersit niat untuk menggerogotinya, namun di luar kesadaran, kerap jari yang satu bergerak sendiri mengadudombakan kukunya dengan kuku di ujung jari lainnya. Ketika sudah ada yang kalah dan terbelah (bahkan kadang berdarah), barulah diri ini menyadarinya. Sayangnya, ketika itu terlambat sudah. Kuku yang gugur terpaksa harus di-manicure; dan bila tak ada alat yang yang memadai, maka gigi serilah yang mengeksekusinya. Itulah sebabnya mengapa panjang kuku-kukuku tak pernah melampaui ujung jarinya, wong ngepas di ujung saja belum pernah;p .

Berjuta komentar, kritik dan saran dilontarkan kepadaku perihal kebiasaan 'unik' ini. Salah satu yang masih hangat kuingat hingga detik ini adalah komentar dari sang bunda, katanya "Ih, lu ngga malu ya, udah gede masih gigitin kuku. Ntar klo udah kerja, di kantor gigitin kuku, diketawaain orang-orang lu: Lihat tuh, Pak Mario lagi asik gigitin kuku, hehehe..." Kadang bosan menghadapi komentar seperti itu, namun terlebih bosan lagi menghadapi kenyataan berulang kali gagal dalam 'puasa' mengonsumsi 'cemilan' yang notabene tidak higienis itu. Satu-satunya kemenangan 'puasa' terjadi ketika aku diopname kelas 3 SD. Kala itu aku berhasil untuk tidak menjamah kuku-kuku tersebut selama beberapa hari karena tangan kiriku terborgol oleh selang infusan.

Kebiasaan mendarah daging ini terus berlanjut. Ketika sedang membaca, melamun, atau menonton TV, para jemariku diam-diam menyabung kuku-kukunya. Peringatan dan teguran dari orang-orang terkasih tak hentinya merema di telinga, namun aku cuek saja. "Lagi tanggung nih, dikiiiit lagi...", begitulah biasanya responku. "I know very well about my nails, and I know what is the best for them." Toh, gw ngga mengganggu dan merugikan siapa-siapa kan? Kan? Kan?

Pada suatu hari, saat aku sedang mencoba fokus di kelas mendengarkan kuliah finance di kampus tempat kursusku, tiba-tiba terdengar bunyi yang tak asing di kuping. Tek..tek..tek... "Suara apaan ya? Pelan, tapi ganggu banget tau ngga sih? Tek...tek...tek... Kulongok teman sebelahku, nah! Ternyata dialah penghasil noise tersebut. Kedua tangannya sedang berada di kolong meja. Ngapain? Rupanya dia tengah menduelkan kuku-kuku di jemarinya, sehingga terjadilah benturan di antara mereka dan menciptakan bunyi yang cukup annoying. Mau kutegur dia karena telah membuyarkan konsentrasiku, tapi kuurungkan niatku. Karena yang dia lakukan tak ubahnya dengan hal yang selama ini aku lakukan. Oh malunya hati ini, cuma bisa mesem-mesem sendiri sambil 'gigit jari'. He is also a man wihout nails.

Grrrr....kita pasti grrrr...regetan bila melihat sikap orang lain yang mengganggu? But waiit...sebelum sebel kita kian tebel, ada baiknya kita ngaca dulu. Sebab acapkali "sepasang balok besar tak nampak di pelupuk mata, namun selumbar di mata orang terlihat." Di kala bercermin, coba perhatikan: jangan-jangan 'wajah' kita mirip dengan orang yang tidak kita sukai itu? Atau awalnya 'tampang' kita memang jauh berbeda, namun lambat laun kok layaknya saudara kembar ya? Ini bisa saja terjadi bila di hati kita terlampau banyak mengoleksi benih-benih kekesalan pada orang yang bikin gregetan itu. Alhasil, buah yang kita hasilkan menyerupai buahnya.

Dari kisah kuku yang ngga penting ini, setidaknya ada tiga hal penting yang bisa kita petik. Pertama, terimalah segala kritik dan saran dari orang lain dengan telinga yang dewasa dan hati yang terbuka; karena hal itu baik bagi pertumbuhan kita. Kedua, buanglah jauh-jauh benih kekesalan (kegeraman, kepahitan, dkk) terhadap seseorang bila kita tidak ingin tumbuh menjadi saudara kembarnya. Sebaliknya, maafkan dan tegurlah dia dengan kasih, sehingga kita dapat membawanya kembali ke jalan yang benar. Finally, yang ketiga, janganlah tergesa-gesa dalam menghakimi seseorang, melainkan perbanyaklah waktu bercermin diri. Saat kita bercermin, tanyakan dalam hati, "Apakah dalam cermin ini kita masih bisa melihat blue print-nya TUHAN, Allah Sang Pencipta kita?"

Writer's note:

Berbicara itu mudah, ibarat selembar latihan pilihan ganda di dalam kelas.

Menulis itu agak sulit, layaknya pekerjaan rumah menyarikan satu bab mata kuliah.

Melakukan apa yang dibicarakan dan yang dituliskan itu sangatlah sukar, bak ujian essay harian dengan materi satu perpustakaan yang menentukan kelulusan. That's integrity!