Ketika itu aku sedang berada di ruangan kantor tempat kerjaku, berkutat dengan jubelan angka di depan mata. Tiba-tiba, nampak kilatan cahaya dari bilik jendela, disusul bunyi menggelegar beberapa detik berselang. Petir, seolah ingin membuatku khawatir. Dengan lantang, ia membuka kedatangan sang hujan. "Untunglah aku aman, tidak sedang di jalan," pikirku. Tapi tiba-tiba ku teringat sepeda motorku yang bertengger di lahan parkir beratapkan langit. "Yah, motorku basah deh. Oiya, helmku tercintaku juga ada di sana, hmm... apalah daya."
Singkat cerita, jam kerja usai, aku pun pulang dengan memakai helm yang basah luar dalam. Lembab, berpotensi membuat sakit kepala, dan bau tak menyenangkan, 'apek'. Ingin rasanya kujemur helm ku, namun hari sudah gelap, di mana aku mencari cahaya mentari malam-malam begini?
Ahaa... ini sudah zaman modern! Bukan hanya sinar mentari yang mampu mengeringkan sesuatu. Ada teknologi yang bernama "Hair Dryer"! Kuaduk-aduk kotak rias kakak perempuanku, dan syukurlah, ia memilikinya :). Akhirnya kulepas busa yang ada di dalam helm tersebut, kuletakkan di meja, dan kubiarkan ia ditiup oleh nafas panas si hair dryer, lumayan. Kubiarkan hingga malam, dan kuhentikan saat aku beranjak ke ranjang.
Keesokan harinya, saat kubangun. Aku longok ke kedalaman helm ku, hmmm... busanya boleh kering, tapi jeroannya belum nih, masih lembab, bahaya bila jamuran. Akhirnya, kukeluarkan lagi senjata semalam (the hair dryer), kuhidupkan dengan hembusan maksimal, dan kuletakkan di dalam helm ku. Sambil menunggu, aku pun pergi mandi, bersiap diri untuk bekerja.
Duu...duu...duu... saat ku sedang asik meluncurkan sabun di ruas dan kelok tubuhku, tiba-tiba ibuku berteriak dengan nada heboh, "Yo, helm lu kebakar!!" seraya panik. Apa? Aku pun sontak keluar dari kamar mandi dengan setengah telanjang. Astaga.... kulihat helm tercintaku sedang bergumul dalam balutan api setinggi bocah kelas 4 SD, ia terguling di lantai sambil meringis kepanasan! Aku sempat panik, namun mendadak terngiang mengenai cara memadamkan api yang baru saja kudapat di kantor beberapa hari silam. "Handuk basah, selimuti obyek dari arah yang berlawanan dengan lidah api." Tanpa pikir panjang, segera kusabet handuk ibuku di rak, kutenggelamkan di bak, lalu kutebarkan di atas helm ku... Nyessss.... seketika itu juga si jago merah tewas, rohnya membubung dalam rupa asap keabuan. Helm ku telah mengalami luka bakar serius, yang merusak wajah mulusnya.
Setelah suasana mendingin, kuselidiki penyebabnya. Ternyata adalah si hair dryer yang menjadi pemicu kobaran api tadi. Karena berhembus terlalu 'hot' di dalam tubuh helm ku, ia mengalami tegangan tinggi hingga mengakibatkan korsleting dan percikan api. Ibarat romeo bertemu dengan juliet, percikan api kecil tadi berkontak fisik dengan bahan plastik di bagian helm, sehingga api kian membara, dan akhirnya menghanguskan mereka.
Kini hanya dapat kupandangi helm tercintaku, yang bentuknya tidak lagi ergonomis dengan belahan daguku. Mohon maaf Sobat, aku hanya ingin kau menjadi kering, tanpa maksud membuatmu garing.

(Dedicated to my lovely helmet that burned on last Nov 2009)
No comments:
Post a Comment