“Ibukota
lebih kejam dari ibu tiri,” begitu kata sebagian orang. “Jakarta keras Bung”,
itu juga kata orang. Apa yang membuatnya kejam dan keras? Setidaknya ada dua
hal, yaitu sukarnya mencari nafkah dan sengitnya persaingan yang ada. Lihat
saja bagaimana perjuangan abang G*-Jek yang harus bergerah-gerah ria demi membeli
makanan di daerah Jaksel, lalu mengantarkan ke kliennya di wilayah Jakpus. Tak
kalah heroik, saksikan juga bagaimana aksi uber-uberan para sopir taksi gelap
dan ‘taksi terang’ yang berlomba-lomba menggaet penumpang di jalanan. Tak cuma
tukang ojek dan taxi driver yang
harus bekerja ekstra, kami pun para pekerja berkemeja acapkali harus pulang senja
agar monthly report tepat waktu ada
di meja [curhatcolongan].
Hari itu tanggal delapan; tanggal dimana gaji mulai susut perlahan, sekaligus tanggal pulang malam dikumandangkan. Seperti bulan-bulan sebelumnya, saat jam kerja normal usai (dan jam kerja bakti dimulai), aku dan dua orang teman - sebut saja yang wanita Si Ramping dan yang pria Si Gembul - masih bertahan di depan layar laptop yang bejibun angka. Petang kian matang, jarum pendek kini sudah ‘menuduh’ angka enam; Si Gembul terpaksa pamit duluan karena harus kuliah untuk menambah satu gelar lagi di belakang namanya.
Kini tinggal kami berdua, aku dan Si Wanita Ramping. Seiring malam yang larut, wajah suntuk kami kian carut-marut. Namun sedihnya, kami belum bisa pulang, karena masih banyak kerjaan. Di tengah keheningan, sesuatu yang aneh terjadi! Mendadak kami mencium wangi bunga yang sangat menyengat, beberapa detik saja, lalu berlalu tanpa jejak. Seolah ada gadis cantik yang baru selesai mandi kembang, berjalan persis di depan hidung kami! Namun sayangnya, kami tidak melihat siapapun, karena memang tidak ada siapapun di ruangan itu, selain kami berdua yang sudah kucel dan bau asem. “Oo.. jangan-jangan tadi itu…..??!!?!!” Akhirnya, meski laporan belum kelar, kami putuskan menyudahi lembur malam ini, sebelum yang wangi-wangi tadi kembali dan menampakkan diri. “Bye, CU tomorrow!”
Keesokan harinya. Akibat tugas yang belum tuntas, lagi-lagi kami harus menjadi penghuni terakhir di ruangan. Syukurlah hari ini bertiga, lebih rame, karena Si Gembul tidak kuliah malam ini. Di sela-sela serius bekerja, akupun menceritakan kejadian semalam pada Si Gembul, “Do you know what, Bro…. yesterday night….and so on, and so on…, creepy deh pokoke.” Dan tiba-tiba, semilir wangi bunga serupa kembali semerbak, kental sekali di indera pernapasan kami! Kali ini harumnya tercium lebih lama, seolah si sumber wangi diam sejenak menguping obrolan kami, baru kemudian beranjak pergi. Hiiii…
Si Gembul pun kian penasaran, maklum ia adalah seorang mahasiswa S2 yang kaya dengan logika. Karena tak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di dalam ruangan, maka iapun mencari sumber wangi itu di luar ruangan. Pikirnya, “Barangkali aja di luar ada ibu-ibu yang pake parfumnya lebay supaya ngga bau ketek waktu desek-desekan di busway.” Namun upaya pencarian Si Gembul sia-sia, ia tak menjumpai siapa-siapa di luar sana. Kami bertiga hanya saling bertatap, berbicara dengan mata, tanpa kata-kata, sambil memendam gundah yang sama. “Guys, 5 menit lagi kita pulang aja yuks,” ajakku dan semua pun setuju.
Hari ketiga. Tak tahan menyimpan misteri ini sendiri, kuberanikan diri untuk curhat ke beberapa teman lain yang tak ada pada saat kejadian. Tujuanku hanya agar mereka waspada, bukan menimbulkan rasa was-was di dalam dada, apalagi menakut-nakuti mereka. Jadi begini ceritanya, ”Malem-malem, ada wangi-wangi, kayak ada yang lewat, tapi ngga ada siapa-siapa, horor ngga sih?!? ” Tiba-tiba seorang teman nyeletuk, “Yaa…elah elo…itu mah wangi pengharum ruangan di pojok sono noh, emang di-setting otomatis nyembur tiap jam 7 malem.” Jawaban singkatnya seolah meng-cut kisah misteriku dan membuatku tertawa dalam hati, geli terhadap diri sendiri. “Oh…ternyata itu toh, hehehe...”
Kisah di atas nyata, ngeselin, lucu, sekaligus menampar. Ternyata, kita orang-orang di dunia maju masih sangat mudah terbawa ke “dunia lain”. Kita yang ngakunya religius, masih suka hal-hal yang misterius. Kami, para analis yang seharusnya berpikir sistematis ternyata malah sistemistis. Sebagai manusia ber-Tuhan, bukankah kita sering berdoa minta penyertaan-Nya agar Ia menyertai kita sepanjang hari? Tapi mengapa kalau kita sedang sendirian, di lift, di toilet atau di tempat sepi, kita lebih mudah merasakan kehadiran hantu ketimbang kehadiran Tuhan? Mulai hari ini, yuks kita benarkan pola pikir kita! Ingatlah, walau kita sedang sendiri, sebenarnya kita tak pernah benar-benar sendirian, karena Tuhan selalu beserta kita! Amin.

No comments:
Post a Comment