Siang itu terasa adem-adem saja. Saya sedang asyik bekerja di kantor, sedangkan
istri dan anak sedang bermain bersama di sekolah. Maklum, mereka adalah guru dan
murid di Taman Kanak-kanak yang sama. Namun, mendadak siang itu ‘memanas’ saat
Iph*ne jadul saya memunculkan notifikasi Wh*tsapp dari istri tercinta, “Babe… Si
Nolan (putra kami) barusan jatuh, bibirnya sobek, darahnya banyak banget,
gimana ya?” dan tak lama berselang foto bibir mungil yang menganga di bagian
bawah itupun muncul. “Ya ampun!”, teriakku keras-keras dalam hati. “Ya udah,
tar sore kita langsung bawa ke rumah sakit ya,” reply-ku datar via WA, seolah
tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan.
Konsentrasi kerjapun mulai menurun. Ingin rasanya menyentil kedua
jarum jam ke arah jam pulang agar dapat segera bertemu dan melihat langsung
bagaimana kondisi korban. Teng-tong, sudah setengah lima! “Teman-teman, saya
pulang duluan ya, mau ke dokter, seruku terburu-buru.”
Setiba di rumah sakit yang selama ini menjadi mitra keluarga kami,
tampaklah seorang bocah sedang duduk diam di samping bundanya. Ia sedang asyik
makan roti keju yang tinggal setengah di genggamannya. Bersyukur Nolan masih
nafsu makan, padahal melihat bibirnya kena liur saja sudah perih rasanya,
apalagi kena lumeran keju.
Sayapun bertanya kepadanya, kenapa Nolan tadi bisa jatuh? “Tadi aku ngga
bisa duduk diem pas makan, ngga taat mama,” jawabnya sambil mengunyah. Ternyata
karena tak mau patuh, Nolan jadi terjatuh. Sebuah ketidaktaatan memang selalu
saja ada konsekuensinya, dan konsekuensi itulah yang seyogyanya membuat kita
belajar, supaya tak lagi jatuh untuk kedua kalinya.
Susterpun memanggil, “Anak Zacharion Nolan.” Dirundung rasa cemas, kami
bergegas menuju ruang dokter bertugas. Melihat jurang di bibir yang cukup
dalam, dokter anak tak dapat berbuat banyak. Ia menyarankan agar bibir Nolan
dijahit dan berkonsultasi ke dr. Ruru (dokter bedah anak yang dulu pernah
menyunat Nolan). “Ngga bisa pakai obat aja, Dok?” tanya kami penuh harap.
Dokter hanya bilang, lukanya cukup lebar, jadi berisiko infeksi bila tak segera
ditutup. Ia pesimis, bila tak dijahit, maka proses penyembuhannya takkan
sempurna, sobekan akan membekas hingga dewasa.
Sebagai orang tua, stress sekali rasanya. Kami dihadapkan pada dua pilihan:
segera jahit atau bibir akan ‘cacat sedikit’. Di sisi lain, sulit rasanya
membayangkan betapa ngerinya proses operasi kecil pada bayi baru gede ini.
Sariawan kena garam saja sakit, apalagi bibir kena jarum jahit. Singkat cerita,
dokter hanya memberi antibiotik saja, dan surat rujukan kepada Ruru, sang
dokter bedah.
Kamipun tiba di ruang dokter
bedah anak. Ternyata, Dokter Ruru sedang mengoperasi, sehingga tak bisa diajak
konsultasi. Di tengah kebimbangan, kami putuskan untuk membeli antibiotik
dahulu ke apotik, sembari menunggu, kalau-kalau dokter Ruru selesai. Kami
sedih, pasrah, meratapi bibir Nolan yang terbelah. Kelihatannya memang harus
dijahit, namun tak sanggup rasanya menjalani prosesnya.
Tiba-tiba saja, berbisik sebuah
harapan kecil di telinga hati, “Bibir Nolan bisa sembuh kok tanpa perlu
dijahit. Tidakkah kamu ingat peristiwa bersejarah di Taman Getsemani, ketika
Tuhan Yesus ditangkap? Seorang murid Yesus menyerang pengawal yang hendak menangkap-Nya
dengan sebilah pedang, sehingga putuslah telinga pengawal itu. Lalu Yesus menjamah
telinganya dan menyembuhkannya.” Dan seperti kita tahu ceritanya, telinganya
sembuh seketika!
Cerita itu seolah menantang saya.
Kalau kuping copot saja bisa disambung-Nya, bukankah terlebih mudah merapatkan bibir
yang terbuka? Tuhan bisa pakai apa saja dan siapa saja untuk menyembuhkan, dan wajar
saja kalau cara-Nya adalah dengan operasi oleh Dokter Ruru; namun entah kenapa,
kali ini rasanya Tuhan ingin kami percaya bahwa Ia berkuasa menyembuhkan
sobekan tanpa jahitan.
Sambil menggendong Nolan, saya
berbisik lirih di telinganya, “Nol, kata dokter bibir kamu harus dijahit…..”
Iapun langsung menangis ketakutan, “Aku ngga mau dijahit, Pa!” lanjut saya… ”Iya
Nol, kata dokter bibir kamu harus dijahit, tapi….. kita mau berdoa sama Tuhan
supaya ngga perlu dijahit. Kamu inget cerita waktu Tuhan Yesus ditangkap dan
ada pengawal yang kupingnya putus?“ tanyaku. Sambil terisak Nolanpun
mengangguk. “Kamu inget Nol, Tuhan bisa sambungin tanpa dijahit kan?” Iapun
mengangguk lagi. “Tapi ‘kan sekarang Tuhannya gada? tanyanya logis. “Iya Nol,
tapi ‘kan kita bisa berdoa.” Nolan malah teringat cerita lain, katanya, “Tuhan
bisa sembuhin dengan ngomong doang ya: ‘heal!’ ”. Malam itu menjadi malam ujian
bagi iman kami. Kami putuskan batal konsultasi dengan Dokter Ruru, dan segera
pulang ke rumah dengan berbekal antibiotik.
Keesokan harinya, robekan di bibir Nolan masih terbuka, jujur apa adanya.
Belum ada tanda-tanda ia akan tertutup rapat. Namun bersyukur, Nolan tetap cerewet
seperti biasa, itu pertanda baik. Kami hanya mengolesinya dengan madu dan
menyuruhnya berkumur dengan obat antispetik, sebagai pengganti gosok gigi.
Dua-tiga hari kemudian, penampakannya masih mengerikan. Sempat terpikir untuk
kembali konsultasi ke dokter; namun kami urungkan niat itu. Setelah seminggu
berselang, barulah bibir yang buruk rupa mulai membaik. Masih bengkak sih, tapi
sodetannya sudah agak merapat. Syukurlah setelah dua minggu, lukanya pulih, dan
ia bisa kembali menyikat gigi seperti biasa.
Thanks God… akhirnya
bibir Nolan sembuh tanpa dijahit! Meskipun prosesnya sangat lambat dan sempat
meragukan, tapi kami bersyukur Tuhan memberikan iman dan kesabaran, sehingga
kami bisa melihat tangan-Nya merajut bibir yang benjut ini. Apakah lukanya membekas seperti kata dokter? Ternyata
dokter benar, lukanya membekas. Namun biarlah bekas luka ini mengingatkan kami,
dan terutama Nolan, bahwa Tuhan pernah menjamah bibirnya yang robek, sehingga sembuh
tanpa dioperasi. Dan biarlah kisah yang panjang ini menjadi sebuah memori,
bahwa Tuhan yang dulu di Getsemani, kuasa-Nya masih sama hingga hari ini. Tuhan
memberkati.
No comments:
Post a Comment