Wednesday, March 10, 2010

Mau Kering Malah Garing

(Sebuah kisah nyata. Cerita lebay yang tidak penting, namun bisa memberi pelajaran. Semoga saja;p)

Ketika itu aku sedang berada di ruangan kantor tempat kerjaku, berkutat dengan jubelan angka di depan mata. Tiba-tiba, nampak kilatan cahaya dari bilik jendela, disusul bunyi menggelegar beberapa detik berselang. Petir, seolah ingin membuatku khawatir. Dengan lantang, ia membuka kedatangan sang hujan. "Untunglah aku aman, tidak sedang di jalan," pikirku. Tapi tiba-tiba ku teringat sepeda motorku yang bertengger di lahan parkir beratapkan langit. "Yah, motorku basah deh. Oiya, helmku tercintaku juga ada di sana, hmm... apalah daya."

Singkat cerita, jam kerja usai, aku pun pulang dengan memakai helm yang basah luar dalam. Lembab, berpotensi membuat sakit kepala, dan bau tak menyenangkan, 'apek'. Ingin rasanya kujemur helm ku, namun hari sudah gelap, di mana aku mencari cahaya mentari malam-malam begini?

Ahaa... ini sudah zaman modern! Bukan hanya sinar mentari yang mampu mengeringkan sesuatu. Ada teknologi yang bernama "Hair Dryer"! Kuaduk-aduk kotak rias kakak perempuanku, dan syukurlah, ia memilikinya :). Akhirnya kulepas busa yang ada di dalam helm tersebut, kuletakkan di meja, dan kubiarkan ia ditiup oleh nafas panas si hair dryer, lumayan. Kubiarkan hingga malam, dan kuhentikan saat aku beranjak ke ranjang.

Keesokan harinya, saat kubangun. Aku longok ke kedalaman helm ku, hmmm... busanya boleh kering, tapi jeroannya belum nih, masih lembab, bahaya bila jamuran. Akhirnya, kukeluarkan lagi senjata semalam (the hair dryer), kuhidupkan dengan hembusan maksimal, dan kuletakkan di dalam helm ku. Sambil menunggu, aku pun pergi mandi, bersiap diri untuk bekerja.

Duu...duu...duu... saat ku sedang asik meluncurkan sabun di ruas dan kelok tubuhku, tiba-tiba ibuku berteriak dengan nada heboh, "Yo, helm lu kebakar!!" seraya panik. Apa? Aku pun sontak keluar dari kamar mandi dengan setengah telanjang. Astaga.... kulihat helm tercintaku sedang bergumul dalam balutan api setinggi bocah kelas 4 SD, ia terguling di lantai sambil meringis kepanasan! Aku sempat panik, namun mendadak terngiang mengenai cara memadamkan api yang baru saja kudapat di kantor beberapa hari silam. "Handuk basah, selimuti obyek dari arah yang berlawanan dengan lidah api." Tanpa pikir panjang, segera kusabet handuk ibuku di rak, kutenggelamkan di bak, lalu kutebarkan di atas helm ku... Nyessss.... seketika itu juga si jago merah tewas, rohnya membubung dalam rupa asap keabuan. Helm ku telah mengalami luka bakar serius, yang merusak wajah mulusnya.

Setelah suasana mendingin, kuselidiki penyebabnya. Ternyata adalah si hair dryer yang menjadi pemicu kobaran api tadi. Karena berhembus terlalu 'hot' di dalam tubuh helm ku, ia mengalami tegangan tinggi hingga mengakibatkan korsleting dan percikan api. Ibarat romeo bertemu dengan juliet, percikan api kecil tadi berkontak fisik dengan bahan plastik di bagian helm, sehingga api kian membara, dan akhirnya menghanguskan mereka.

Kini hanya dapat kupandangi helm tercintaku, yang bentuknya tidak lagi ergonomis dengan belahan daguku. Mohon maaf Sobat, aku hanya ingin kau menjadi kering, tanpa maksud membuatmu garing.







 





(Dedicated to my lovely helmet that burned on last Nov 2009)

Thursday, January 14, 2010

Between Love and Time

When you fell in love at the first sight, no need time to all

But when you want to keep the love, time will be your wall


Cinta butuh waktu, waktu dapat mendatangkan cinta 

Bila cinta tak kunjung tiba, mungkin hanya masalah waktu

Cinta memberi waktu, semuanya hanya buat kamu 

Namun mengapa waktu-waktu bercinta terasa sebentar saja?


Tak kenal maka tak cinta

Perlu waktu untuk mengenal

Butuh waktu untuk mencinta

Ironisnya, cinta tak pernah kenal waktu


Kar'na waktu cinta bisa datang

Kar'na waktu cinta bisa saja pergi

Kar'na itu cintailah waktumu,

dengan membiarkannya habis bersama orang yang kaucinta


"Yang paling berharga yang dapat diberikan seseorang pada orang yang dicintainya adalah waktu. Bukan karena waktu adalah uang, namun karena cinta membutuhkan waktu. Kita tidak akan pernah dapat mencintai dengan benar bila kita selalu terburu-buru. So, give your best time for people you love!"


GOD loves you, love Him with your time

Saturday, January 9, 2010

Bila Jauh dari Mercu Suar

Aku terseret terakhir kalinya

Tergoda garingnya suara pecahan ombak

Semakin ragaku tertarik ke tengah

Menyentuh laut hingga dasar, menjauhi terang mercu suar


Air yang awalnya suam, kini dingin mencekam

Sendiku linu, rusuk-rusukku beku

Kram sekujur tubuh, ah mati aku!


Heeeii!!! Tolong aku!!!

Bibirku berteriak seraya menenggak asinnya buih ombak

Di mana tim penyelamat? Sedang apa para penjaga pantai?

Toloong...tooloooong... teriakku tinggal bisikan

................................................................................

Dengan terpejam, aku tenggelam

Bersama karang, di pusar pantai terlarang

Friday, December 4, 2009

Berani untuk (tidak) takut

Bernada nyeleneh, slogan sebuah merek pencuci rambut berbunyi "Siapa takut?". Dengan slogan tadi, merek shampoo itu menjadi populer. Ada sebuah kuis di TV swasta yang bertajuk "Siapa berani?". Dengan nama tersebut, kuis ini pun menjadi familiar di telinga masyarakat kita (yang punya TV tentunya). Ada apa dengan kata 'takut' dan 'berani'? Mengapa dengan kata tersebut, shampoo dan kuis tersebut menjadi terkenal? Pertanyaan yang tidak relevan, saya sendiri tidak punya jawabannya. Yang jelas, dalam hidup kita takkan pernah lepas dari kedua kata tadi. Hmm...kata siapa? Adakah manusia yang sejak 'brojol' sampai menjelang ajal tidak pernah mengalami rasa takut? Seorang penakut sejak kecil pun pasti pernah memiliki secuil keberanian dalam detik-detik kehidupannya.

Ketakutan dalam hidup adalah manusiawi, namun hidup dalam ketakutan berarti tidak percaya pada Tuhan. Waah, kok pernyataan barusan ngga enak didengar ya? Berani-beraninya menghakimi tanpa bukti atau alibi! Coba kita tarik nafas dan simak pernyataan tadi. Mengapa bisa berbunyi polos (baca: seenaknya) begitu? Jawabannya sederhana saja, yaitu janji Tuhan.

Tuhan berjanji bahwa Dia akan selalu menyertai kita. Dia paham (di luar kepala) bahwa kita terlampau lemah untuk sanggup hidup di dunia yang keras ini. Dia mengerti betul, baik dan benar, akan kebutuhan kita selama kita masih bernafas. Mungkin ngga sih, Tuhan ingkar pada janji-Nya, mungkir pada ucapan-Nya? Pertanyaan berikutnya tertuju pada kita si manusia 'penakut', percayakah kita pada janji Tuhan? Adakah satu alasan kecil untuk tidak percaya pada janji Tuhan yang tak pernah sekalipun dilanggar? Tidak percaya pada janji Tuhan = tidak percaya pada Tuhan.

Semoga dengan menyadari hal ini, kita tidak lagi hidup dalam ketakutan atau kekhawatiran, agar kita tidak menjadi manusia-manusia 'tidak tahu diri' yang tidak percaya pada Penciptanya. Tentunya perlu belajar, latihan dan ujian untuk kita bisa menyandang predikat sebagai orang yang percaya penuh pada Tuhan, hidup bebas dari ketakutan.

Mari mulai lepaskan genggaman kita pada ketakutan-ketakutan akan masa depan, kematian, jodoh, masalah ekonomi, dan masalah lainnya; dan mulai menggenggam janji-janji Tuhan yang akan membuat berani untuk tidak takut. Tuhan Yesus memberkati.


"Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah."