"Petani tanpa cangkul, ibarat pelari tanpa dengkul; rembulan tanpa malam, ibarat pelampung yang tenggelam; penulis tanpa diary, ibarat mati suri."
Wednesday, May 18, 2016
Jerapah yang Pincang
Nolan, putra balita kami, senang sekali bermain figur miniatur binatang. Hewan ‘bohong-bohongan’ itu acapkali disusunnya rapi, seolah sedang berada di hutan atau kebun binatang. Walaupun baru ‘memelihara’ beberapa ekor dan spesies saja, Nolan sangat suka bermain dengan mereka. Sampai pada suatu malam, kami membelikannya setengah lusin binatang mini baru, meramaikan koleksi satwanya.
Sebelum tidur, saya mengajak Nolan ‘membebaskan’ para hewan tersebut dari bungkus plastiknya. Sembari mengeluarkan mereka satu per satu, tampak wajahnya sangat sumringah. Ya, itulah anak-anak, kalau senang langsung senyum, kalau sedih langsung manyun; tak pernah bermuka dua.
Nolan pun mulai mengatur formasi mereka di atas kasur. Ada gajah bertelinga lebar, singa si raja rimba, harimau Sumatera, macan tutul betina, kuda berkulit hitam putih, dan terakhir ‘rusa kurus berleher panjang’ alias jerapah. Satu demi satu, hewan-hewan liar itu didirikannya. Mulai dari gajah, zebra hingga trio macan berhasil berdiri tegak di atas sprei yang bergelombang. Di dunia fauna, mereka memang dikenal sebagai binatang berkaki empat yang kuat dan perkasa. Jadi tidaklah heran, mereka dapat berdiri dengan mudah.
Sekarang giliran si jerapah. Dengan jari telunjuk dan jempol mungilnya, Nolanpun mendaratkan kaki hewan jangkung itu di atas kasur. “Eh…kok jerapahnya jatuh, Pa? Kok jerapahnya ngga bisa berdiri?” seru Nolan panik. Dicobanya lagi dan lagi, namun lagi-lagi jerapah itu terhempas ke kasur. Raut ceria Nolan mulai terenggut, berganti dengan cemberut. Ia kesal dan sedih sekali melihat si jerapah. Nolanpun mulai marah dan menangis, “Kenapa jerapahnya ngga bisa berdiri, Pa?”.
Setelah kuselidiki, ternyata kaki si jerapah pincang. Tiga kaki menapak tanah, namun kaki kiri belakangnya mengambang, pantas saja tidak seimbang. Ia timpang, sehingga hanya mampu berdiri bila ditopang. Kucoba jelaskan kepada Nolan mengenai hal ini, “Nol, dia kakinya miring, jadi harus dipegangin supaya bisa berdiri.” Tangisan kesalnya justru mengeras, “KENAAAPA kakinya miring, Pa? HARUS-nya dia bisa berdiri!!”
Tak sempat pikir panjang, spontan ‘ku menjawab, “Kakinya miring karena orang yang buatnya kurang pinter, Nol.” Ooops, sepertinya jawabanku salah! Amarahnya makin menggelora, dan ia terus bertanya, “KENAPA orang yang buatnya gitu, Pa? ‘Kan HARRUSS-nya bisa berdiri!!” Nolan kecewa berat dan tak dapat menerima kepincangan jerapah barunya. Karena tak punya jawaban tepat, akupun mencoba menghiburnya, “Udah Nol, jerapahnya simpen aja ya, main binatang yang lain aja ya,” sambil menunjuk ke singa dan hewan lain yang bisa berdiri. Namun ia tetap bersikeras, “KENAPA Pa?? HARRRUUSSS-nya jerapahnya bisa berdiri!!” Nolan tetap tak bisa menerima, ia terus menangis dan akhirnya meningggalkan semua binatang mainan itu. Karena seekor jerapah yang gagal berdiri, ia melupakan kesuksesannya menegakkan lima binatang lainnya. Ya, itulah anak-anak.
Dari kisah sedih di atas, saya tersadar bahwa kitapun orang dewasa seringkali seperti anak-anak. Kita sulit sekali menerima hal-hal yang TIDAK SESUAI dengan kehendak / pemikiran kita. Ketika kita mendapat pekerjaan di tempat yang tidak pas dengan keahlian dan passion kita; timbullah pertanyaan, “MENGAPA? HARUS-nya ‘kan saya kerja di sana, bukan di sini!” Saat kita menemukan ada sifat suami / istri kita yang tidak kita suka, kita mengomel, “MENGAPA kamu begitu? HARUS-nya ‘kan kamu begini!” Waktu kita dianugerahkan seorang anak yang ternyata tidak sesuai harapan kita, kita mengeluh, “KOK kamu mengecewakan mama papa? HARUS-nya ‘kan kamu membahagiakan mama papa dong!”
Mengapa kita sulit menerima keberadaan kita? Bukankah semua yang kita miliki adalah pemberian TUHAN? Mengapa kita beranggapan bahwa yang seharusnya adalah yang sesuai dengan pemikiran kita? Bukankah rencana TUHAN jauh melampaui pemikiran kita? Jadi, kalau semuanya berasal dari Allah yang rancangan-Nya Maha Sempurna, masihkah kita marah dan kecewa karena ‘jerapah yang pincang’?
“Percaya dan ikutilah jalan-Nya, pasti ada yang indah di ujung sana.”
Saturday, October 24, 2015
It is Human
Setiap orang punya rasa takut. Ada yang takut gelap,
takut ketinggian, takut hantu atau takut kecoak. Ada juga yang takut ditolak,
takut putus padahal belum jadian, sampai takut kehilangan. Ketakutan bisa bersumber
dari mana saja dan apa saja. Bahkan anehnya, saya kenal seorang teman yang
takut terhadap semangka. Ia pernah lari terbirit-birit di sebuah resepsi pernikahan, hanya karena
melihat potongan buah merah berair itu.
Nolan putra kami (3 tahun) juga punya ketakutan
tersendiri. Ia takut sekali pipis. Padahal pipisnya di rumah sendiri kok, bukan
di hutan seram ataupun semak-semak yang mengerikan. Lalu, kenapa ia ogah ke
toilet padahal sudah kebelet? Ternyata ia takut merasa kesakitan saat harus
buang air kecil (BAK). Harap maklum, Nolan baru saja disirkumsisi karena ada
gangguan pada alat vitalnya. Menurut diagnosis sang dokter, Nolan mengidap fimosis,
apakah itu? Silakan di-googling di yahoo ya, begitu kata salah seorang teman
saya.
Saat-saat menjelang pipis menjadi momen paling dramatis
selama 10 hari belakangan ini. Tiada air seni tanpa air mata. Nolan yang ceria
bisa mendadak muram durja bila detik-detik BAK datang. Ia akan menahan sekuat
tenaga, dan hanya akan pipis bila sudah terpaksa. Bila kami bertanya, “Nolan
mau pee?” maka parasnya menjadi tegang dan berkata “Tidak mau!”. Ketika kami
tanya lagi, “Nolan mau pee tapi takut ya?” rautnya langsung sedih dan menjawab
“Iya, aku takut, aku ngga suka pipi, aku ngga suka disiram peni-nya, ngga suka
dilap.” Sekadar info, setiap habis pipis, dokter menyuruh kami menyiram bekas
sunatnya dengan air Aqua (untung bukan Evian) lalu mengelapnya dengan kasa steril.
Karena kami tahu menahan BAK bisa menyebabkan sakit di
kemih, maka mau tak mau Nolanpun kami giring paksa ke WC. Bukan dengan mudah
tentunya, namun dengan rontaan dan pemberontakan. Tak jarang ia keburu ngompol
di celana, karena sudah tak tahan. Berbagai bujukan, rayuan dan iming-iming
kami tawarkan agar ia berani pipis, namun semuanya ditepis. Rasa takutnya mengalahkan
segalanya. Dan adegan ini harus berlangsung minimal 3-4 kali sehari, selama
seminggu lebih.
Kami
habis akal. Yang dapat kami lakukan hanya berdoa, memohon pada Tuhan agar Ia membuat
Nolan pipis segera dan pulih secepatnya. Adakalanya Tuhan langsung menjawab, terkadang Tuhan
meminta kami bersabar. Pernah suatu kali, kami menunggu sampai 1 jam lebih di
dalam kamar mandi, hanya demi menantikan ‘air mancur kecil’ itu. Fiuuh…akhirnya keluar juga, sesuatu banget
rasanya.
Luka khitan yang mulai mengering, tak serta-merta membuat
pipisnya jadi sering. Bayang-bayang perih saat BAK masih menghantui, sehingga
Nolan masih menahan-nahan urine-nya. Kami bingung, bagaimana ini? Apakah ini
yang namanya trauma? Bagaimana agar Nolan bisa ke toilet dengan sukarela? Lagi-lagi
kami pasrah, hanya bisa berdoa.
Sampai suatu ketika, “Nolan mau pipis? tanyaku. “I want
to pee!” jawab Nolan seraya mengangkat tangan dan menggoyangkan kakinya
pertanda sudah sangat kebelet. Iapun kugandeng memasuki pintu toilet,
kupelorotkan celananya, lalu tak lama pipisnya pun
keluar….tanpa tangis!!
Yang lebih melegakan lagi, ia berkata, “Abis ini aku di-lapnya ngga mau nangis,
karena aku udah jagoan,” ujarnya dengan penuh kebanggaan. Thanks God, He
answered our prayer! Nolan kini sudah
tak takut lagi.
Beberapa pelajaran berharga kami petik dari kisah ini. Pertama, bila mau
menyunatkan anak Anda, sebaiknya pilihlah usia yang tepat. Waktu masih baby saat ia belum mengerti dan belum
banyak gerak, atau menunggu SD ketika sang anak sudah bisa mengerti sepenuhnya.
Pelajaran kedua, tentang rasa takut. Everybody
has their own fear. It’s human. Terkadang kita perlu merasa takut agar kita
lebih sungguh-sungguh berdoa. Ketakutan seringkali membawa kita lebih dekat
kepada Tuhan. Ketakutan membuat kita gelisah, sehingga kita berjuang keras
melawan ketakutan tersebut. Sebab hanya dengan melewati lorong ketakutan,
seseorang bisa keluar sebagai pemberani. Sebuah kalimat di buku cerita Nolan:
“Berani bukan berarti tidak takut. Berani berarti walaupun kamu takut, kamu
tetap melakukannya.” Apa yang sedang kautakutkan, Teman?
A Mistery
“Ibukota
lebih kejam dari ibu tiri,” begitu kata sebagian orang. “Jakarta keras Bung”,
itu juga kata orang. Apa yang membuatnya kejam dan keras? Setidaknya ada dua
hal, yaitu sukarnya mencari nafkah dan sengitnya persaingan yang ada. Lihat
saja bagaimana perjuangan abang G*-Jek yang harus bergerah-gerah ria demi membeli
makanan di daerah Jaksel, lalu mengantarkan ke kliennya di wilayah Jakpus. Tak
kalah heroik, saksikan juga bagaimana aksi uber-uberan para sopir taksi gelap
dan ‘taksi terang’ yang berlomba-lomba menggaet penumpang di jalanan. Tak cuma
tukang ojek dan taxi driver yang
harus bekerja ekstra, kami pun para pekerja berkemeja acapkali harus pulang senja
agar monthly report tepat waktu ada
di meja [curhatcolongan].
Hari itu tanggal delapan; tanggal dimana gaji mulai susut perlahan, sekaligus tanggal pulang malam dikumandangkan. Seperti bulan-bulan sebelumnya, saat jam kerja normal usai (dan jam kerja bakti dimulai), aku dan dua orang teman - sebut saja yang wanita Si Ramping dan yang pria Si Gembul - masih bertahan di depan layar laptop yang bejibun angka. Petang kian matang, jarum pendek kini sudah ‘menuduh’ angka enam; Si Gembul terpaksa pamit duluan karena harus kuliah untuk menambah satu gelar lagi di belakang namanya.
Kini tinggal kami berdua, aku dan Si Wanita Ramping. Seiring malam yang larut, wajah suntuk kami kian carut-marut. Namun sedihnya, kami belum bisa pulang, karena masih banyak kerjaan. Di tengah keheningan, sesuatu yang aneh terjadi! Mendadak kami mencium wangi bunga yang sangat menyengat, beberapa detik saja, lalu berlalu tanpa jejak. Seolah ada gadis cantik yang baru selesai mandi kembang, berjalan persis di depan hidung kami! Namun sayangnya, kami tidak melihat siapapun, karena memang tidak ada siapapun di ruangan itu, selain kami berdua yang sudah kucel dan bau asem. “Oo.. jangan-jangan tadi itu…..??!!?!!” Akhirnya, meski laporan belum kelar, kami putuskan menyudahi lembur malam ini, sebelum yang wangi-wangi tadi kembali dan menampakkan diri. “Bye, CU tomorrow!”
Keesokan harinya. Akibat tugas yang belum tuntas, lagi-lagi kami harus menjadi penghuni terakhir di ruangan. Syukurlah hari ini bertiga, lebih rame, karena Si Gembul tidak kuliah malam ini. Di sela-sela serius bekerja, akupun menceritakan kejadian semalam pada Si Gembul, “Do you know what, Bro…. yesterday night….and so on, and so on…, creepy deh pokoke.” Dan tiba-tiba, semilir wangi bunga serupa kembali semerbak, kental sekali di indera pernapasan kami! Kali ini harumnya tercium lebih lama, seolah si sumber wangi diam sejenak menguping obrolan kami, baru kemudian beranjak pergi. Hiiii…
Si Gembul pun kian penasaran, maklum ia adalah seorang mahasiswa S2 yang kaya dengan logika. Karena tak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di dalam ruangan, maka iapun mencari sumber wangi itu di luar ruangan. Pikirnya, “Barangkali aja di luar ada ibu-ibu yang pake parfumnya lebay supaya ngga bau ketek waktu desek-desekan di busway.” Namun upaya pencarian Si Gembul sia-sia, ia tak menjumpai siapa-siapa di luar sana. Kami bertiga hanya saling bertatap, berbicara dengan mata, tanpa kata-kata, sambil memendam gundah yang sama. “Guys, 5 menit lagi kita pulang aja yuks,” ajakku dan semua pun setuju.
Hari ketiga. Tak tahan menyimpan misteri ini sendiri, kuberanikan diri untuk curhat ke beberapa teman lain yang tak ada pada saat kejadian. Tujuanku hanya agar mereka waspada, bukan menimbulkan rasa was-was di dalam dada, apalagi menakut-nakuti mereka. Jadi begini ceritanya, ”Malem-malem, ada wangi-wangi, kayak ada yang lewat, tapi ngga ada siapa-siapa, horor ngga sih?!? ” Tiba-tiba seorang teman nyeletuk, “Yaa…elah elo…itu mah wangi pengharum ruangan di pojok sono noh, emang di-setting otomatis nyembur tiap jam 7 malem.” Jawaban singkatnya seolah meng-cut kisah misteriku dan membuatku tertawa dalam hati, geli terhadap diri sendiri. “Oh…ternyata itu toh, hehehe...”
Kisah di atas nyata, ngeselin, lucu, sekaligus menampar. Ternyata, kita orang-orang di dunia maju masih sangat mudah terbawa ke “dunia lain”. Kita yang ngakunya religius, masih suka hal-hal yang misterius. Kami, para analis yang seharusnya berpikir sistematis ternyata malah sistemistis. Sebagai manusia ber-Tuhan, bukankah kita sering berdoa minta penyertaan-Nya agar Ia menyertai kita sepanjang hari? Tapi mengapa kalau kita sedang sendirian, di lift, di toilet atau di tempat sepi, kita lebih mudah merasakan kehadiran hantu ketimbang kehadiran Tuhan? Mulai hari ini, yuks kita benarkan pola pikir kita! Ingatlah, walau kita sedang sendiri, sebenarnya kita tak pernah benar-benar sendirian, karena Tuhan selalu beserta kita! Amin.
Saturday, August 29, 2015
Belajar dari Tukang Rujak
“Rujak Padang.. .rujak
jao, makanlah duo… nun di Kota Padang,” kira-kira begitulah lantunan seorang bapak berlogat Sumbar
tatkala lewat di depan rumah kami. Seraya mendorong gerobaknya menyusuri malam,
bapak berkopiah hitam itu menjajakan sesuatu yang tak lazim disantap saat hari
gelap: rujak. Mendengar suara tenornya, saya seolah ‘terpental’ ke tahun 1993
silam, tahun di mana saya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Kelapa Gading;
karena di ‘tahun ayam’ itulah, nyanyian itu perdana sampai ke telinga.
Hmm… sekarang tahun 2015, berarti sudah
berapa tahun ya? Buset dah! Apakah
benar ini Bapak yang sama? Ternyata benar, dan ia konsisten tidak berubah. Setia…masih
seperti yang dulu. Akhirnya, demi bernostalgia dan didorong sedikit rasa iba,
saya pun menyetop gerobak rujak Si Bapak (yang sebenarnya lebih pantas dipanggil
opa). “Pak, rujak padang satu ya, jangan
pake cabe ya, Pak.”
Ia pun mulai mengeluarkan ulek dan cobek keramatnya, mengupas
ubi merah, nenas masam, mangga mengkel,
belimbing kematengan dan beberapa buah peyot lainnya. Salah satu ciri khas
rujak ini adalah bumbunya dicampur dengan pisang batu, yang ditumbuk menjadi
satu. Last but not least, ia merogoh
beberapa keping kerupuk oranye dari kaleng Khong
Guan, sebagai topping dari signature dish-nya.
Diam-diam, saya asyik mengamati tiap detil gerobaknya. Wow….ini adalah armada kayu yang percis dengan 22 tahun lampau! Gerobak
roda dua berkelir hijau, yang di kacanya bertuliskan lirik tembang “Rujak
Padang” hafalannya. Lampu penerangannya pun belum LED
(light-emitting diode), masih petromak minyak; sebuah pelita kuno yang sudah ditemukan
sebelum Thomas Alfa Edison lahir. Segala sesuatu di depan mata saya adalah
benda-benda yang pernah saya lihat saat masih bercelana pendek merah. Amazing, serasa back to the past!
Overall, hanya dua hal yang berubah: harga
rujak yang jauh melonjak (now IDR 20.000
/ pax), dan umur Si Uda yang tak lagi muda.
Ketika tengah menikmati buah yang diiris-iris, hati ini
merasa miris. Saya sedih bila mengingat bapak penjual rujak; yang meski sudah
renta, namun harus mendorong gerobak usangnya keluyuran dari gang ke gang,
bernyanyi sepanjang malam. Dan tanpa terasa, ia sudah melakoninya selama tiga
dasawarsa, begitu pengakuannya.
Melalui kisah ini, saya kembali disadarkan betapa cepat
dan singkatnya waktu. Tanpa perlu diburu-buru, waktu akan berlari dengan
sendirinya serta menyeret kita turut dalam pelariannya. Jangan sekali-kali menganggap
kito ‘rang ‘kan masih muda, jadi
boleh dong leha-leha. Sebab bila kita
terus terlena, bisa-bisa kita kena getahnya. Ingat, tahun demi tahun akan
berganti, tanpa ada yang sanggup membuatnya berhenti. Usia bukan untuk
disia-siakan.
Hanya orang malas yang membiarkan waktunya bablas begitu
saja. Ia ibarat anak kecil dalam lagu: “Bangun
tidur ‘ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi….bantal guling bau pesing,”
yang kelihatannya sedang bersiap-siap, namun sesungguhnya tak pernah berangkat
ke sekolah. Hanya ke toilet sebentar, lalu kembali menghabiskan waktu di kamar.
Ia tidak ke mana-mana, mirip seperti hamster yang hanya muter-muter di treadmill
bundarnya.
Sebagian dari kita mungkin punya banyak waktu, sebagian
lagi merasa tak ada waktu; namun yang pasti, tak seorangpun dari kita sebenarnya
tahu, berapa lama lagi waktu yang kita punya. Jadi, pastikanlah setiap detiknya
tidak terbuang dengan percuma. Mintalah hikmat kepada Tuhan, yang
menganugerahkan waktu kepada kita, agar berapapun waktu yang kita habiskan di
dunia, berguna dan bermakna di mata-Nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
