
(sebuah kisah tua yang ditulis masa SMA, yang berpesan: "makanya jangan sok tahu...")
Hari itu, matahari sedang obral besar-besaran. Panasnya diumbar habis sampai-sampai cool case (baca: kulkas) ku turut kegerahan. Saking teriknya, siang itu pun menjadi bolong. Layaknya anak yang baik, aku duduk manis melipat tangan di kamarku yang sumpek. Bosan!! Ingin main diluar, tapi tak beroleh izin…
“Bu, aku main sepeda ya?” kataku.
Sahut ibuku, “Jangan Nak, nanti kau hitam, terus mimisan!“
Lalu ku bilang, “Tenang Bu, aku bawa payung kertas koran kok!“
“Jangan Nak, payung itu takkan sanggup melindungimu!“ kata ibuku.
Dan aku pun membalas, “Don’t worry Bu, payung itu buatanku, jadi pastilah ia sekuat aku!“
Ibuku tetap saja melarang, “Jangan, lagipula ibu dengar nanti akan turun hujan lho!”
Lalu kutanggapi dengan sombong, “Jangankan hujan Bu, dengan payungku ini badai dan ombak sekalipun akan kuterjang tiada takut! Bukankah nenek moyangku seorang pelaut…??“
Ibuku tetap bersikeras, “Jangan Nak…!“
Akhirnya meski tanpa restu ibunda, aku nekat pergi juga, “Daa Ibu…!!“
Diatas sepedaku, kulompati pagar berkawat…& mulai mengayuh. Wah, siang ini benar-benar ‘hot’ rupanya. Ubun-ubunku mulai hangat, kulit kepala mulai berkeringat. Tapi tenang, aku bawa payung…payung kertas koran!!
Penuh percaya diri, kuberaksi dengan payungku, jebret…!! Lumayan, walau nampak seperti ‘Sarimin pergi ke pasar’ setidaknya ketombeku takkan menghangus. Tak lama kemudian, langit nampak muram…lalu, tes..tes..tes.. berdatangan bayi-bayi air dan mulai merangkak-rangkak diatas payung koranku, mereka menamakan diri mereka: gerimis. Bagiku mereka bukan masalah, paling-paling mereka hanya melunturkan tinta-tinta tulisan yang tertera pada kertas koranku. No problema..!
Sambil bersiul ku menggoes pedal, nikmati rintik gerimis mengglitik. Namun tiba-tiba, ada yang menyambar atap koranku! Aku pun berteriak : “Copet, maling, jambret!“. Lho, kok tak ada siapa-siapa ya? Ternyata adalah segelintir petir yang bertanggungjawab atas bumihangusnya atap payung kertas koranku. Kini yang kugenggam tinggallah gagang, yang nampak garing karna terpanggang.
Hujan badai kian menggila. Bayi-bayi gerimis telah menjelma tumbuh dewasa. Mereka mengguyur, menertawakan, serta mengajak angin ribut mencemooh keadaanku. Sekarang aku kedinginan, malu, lapar, serta terserang flu.. haacii..haaacuii...!! Akhirnya dengan kepala tertunduk dan muka kuyu, aku pulang ke pelukan ibu. “Bu, tolong kerokin aku ya.”
“Kapok? Ya, itulah akibatnya kalau kita keras kepala. Seringkali kita terlampau sombong & ‘ogah’ mendengarkan nasehat dari orang lain. Nasehat baik mereka kita tolak mentah-mentah dan justru kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri yang sebenarnya hanyalah sebuah ‘payung kertas koran’. Kita malah merasa ‘sok kuat’, padahal nyatanya tidaklah demikian. Ingatlah, kita ini makhluk yang terbatas dan kaya akan kelemahan. Jadi, janganlah ‘sok berjalan sendirian’. Bersandarlah pada Tuhan, patuhlah pada orang tua, dan jangan abaikan nasehat orang lain; setuju?”
No comments:
Post a Comment