Tak bergeming!
Pantatnya tertancap dalam di cekungan kursi kantornya.
Kerjaannya hanya kerja,
tak pedulikan raga bahkan keluarga.
Ketika sang istri bertanya, mengapa ia seenak jidat?
Mengapa kerja menjadi madat?
Ia hanya mengerinyatkan dahi
dan di kening keriputnya tertulis "Ada deadline!"
Sebuah garis yang seolah membuatnya mati, bila ia gagal 'tuk melewati.
Hai para workaholic!
Istirahatlah sejenak, agar hidupmu enak!
Tarik nafaslah, agar kau tak lagi lelah!
Sudah lupakah bahwa kau punya rumah?
Pulanglah, sebelum anakmu lupa ayahnya.
Pulanglah, sebelum kesehatanmu habis di meja kerja.
Pulanglah, sebelum kesibukan memulangkanmu ke rumah Bapa.
Nikmatilah kerasnya hidup,
dan syukurilah, sebagaimana mestinya.
Karena hidupmu berharga.
No comments:
Post a Comment