Thursday, October 14, 2010

Payung Kertas Koran



(sebuah kisah tua yang ditulis masa SMA, yang berpesan: "makanya jangan sok tahu...")


Hari itu, matahari sedang obral besar-besaran. Panasnya diumbar habis sampai-sampai
cool case (baca: kulkas) ku turut kegerahan. Saking teriknya, siang itu pun menjadi bolong. Layaknya anak yang baik, aku duduk manis melipat tangan di kamarku yang sumpek. Bosan!! Ingin main diluar, tapi tak beroleh izin…

“Bu, aku main sepeda ya?” kataku.

Sahut ibuku, “Jangan Nak, nanti kau hitam, terus mimisan!“

Lalu ku bilang, “Tenang Bu, aku bawa payung kertas koran kok!“

“Jangan Nak, payung itu takkan sanggup melindungimu!“ kata ibuku.

Dan aku pun membalas, “Don’t worry Bu, payung itu buatanku, jadi pastilah ia sekuat aku!“

Ibuku tetap saja melarang, “Jangan, lagipula ibu dengar nanti akan turun hujan lho!”

Lalu kutanggapi dengan sombong, “Jangankan hujan Bu, dengan payungku ini badai dan ombak sekalipun akan kuterjang tiada takut! Bukankah nenek moyangku seorang pelaut…??“

Ibuku tetap bersikeras, “Jangan Nak…!“

Akhirnya meski tanpa restu ibunda, aku nekat pergi juga, “Daa Ibu…!!“

Diatas sepedaku, kulompati pagar berkawat…& mulai mengayuh. Wah, siang ini benar-benar ‘hot’ rupanya. Ubun-ubunku mulai hangat, kulit kepala mulai berkeringat. Tapi tenang, aku bawa payung…payung kertas koran!!

Penuh percaya diri, kuberaksi dengan payungku, jebret…!! Lumayan, walau nampak seperti ‘Sarimin pergi ke pasar’ setidaknya ketombeku takkan menghangus. Tak lama kemudian, langit nampak muram…lalu, tes..tes..tes.. berdatangan bayi-bayi air dan mulai merangkak-rangkak diatas payung koranku, mereka menamakan diri mereka: gerimis. Bagiku mereka bukan masalah, paling-paling mereka hanya melunturkan tinta-tinta tulisan yang tertera pada kertas koranku. No problema..!

Sambil bersiul ku menggoes pedal, nikmati rintik gerimis mengglitik. Namun tiba-tiba, ada yang menyambar atap koranku! Aku pun berteriak : “Copet, maling, jambret!“. Lho, kok tak ada siapa-siapa ya? Ternyata adalah segelintir petir yang bertanggungjawab atas bumihangusnya atap payung kertas koranku. Kini yang kugenggam tinggallah gagang, yang nampak garing karna terpanggang.

Hujan badai kian menggila. Bayi-bayi gerimis telah menjelma tumbuh dewasa. Mereka mengguyur, menertawakan, serta mengajak angin ribut mencemooh keadaanku. Sekarang aku kedinginan, malu, lapar, serta terserang flu.. haacii..haaacuii...!! Akhirnya dengan kepala tertunduk dan muka kuyu, aku pulang ke pelukan ibu. “Bu, tolong kerokin aku ya.”

“Kapok? Ya, itulah akibatnya kalau kita keras kepala. Seringkali kita terlampau sombong & ‘ogah’ mendengarkan nasehat dari orang lain. Nasehat baik mereka kita tolak mentah-mentah dan justru kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri yang sebenarnya hanyalah sebuah ‘payung kertas koran’. Kita malah merasa ‘sok kuat’, padahal nyatanya tidaklah demikian. Ingatlah, kita ini makhluk yang terbatas dan kaya akan kelemahan. Jadi, janganlah ‘sok berjalan sendirian’. Bersandarlah pada Tuhan, patuhlah pada orang tua, dan jangan abaikan nasehat orang lain; setuju?”


Sayembara di Surga


Suatu ketika Surga menggelar sayembara, gemanya menggemparkan nusantara. “Urgently required!” seru Mikael (malaikat berkebangsaan Inggris). Dicari: seorang laskar dan seorang pejuang yang akan ditempatkan di bawah pimpinan Kristus, Sang Anak Allah. WooW! Sungguh suatu kebanggaan dan kehormatan yang tak tertandingi bila dapat terpilih! Tak heran, kompak serempak seluruh warga nusantara berdesakan mendaftar, rapih berbaris dalam waiting list. Tibalah giliran pertama.

Muncullah seorang pendekar. Dengan percaya diri yang berkelimpahan ia berkata: “Dengan jurus-jurus yang telah kuhafalkan dan kulatih dari masa ke masa, aku yakin seyakin-yakinnya, pastilah aku yang paling cucok untuk menjadi laskar Kristus!”. Namun dengan lirih Mikael berkata: “Tue pu chi Mr. Lee, bukan Anda yang kami cari. Say sayonara to this sayembara, sampai jumpa lagi.”. Next!

Majulah seorang milyarder, yang kalo ngitung duit keder (saking banyaknya). Katanya seraya mengipas-ngipas gepokan gobanan: “Dengan harta yang kumiliki ini, rasanya akulah yang paling layak duduk di kursi pejuang di bawah pimpinan Kristus. Bahkan dengan uangku, aku bisa menjadi investor asing di tanah Surga ini!” Lalu sahut Mikael: “I'm really sorry Mr. Richie, tapi saya rasa uang Anda saja takkan cukup untuk biaya peremajaan Jl. Raya Surga Blok H1 yang beraspalkan emas ini. Bye-bye, please check your belongings and step carefully, thank you.” Next, next...

Lalu datanglah seorang belia menuntun seorang lansia (mungkin engkongnya). Anak belia ini berkata: “Aku tak punya apa-apa Pak Mikael, tapi aku pengen banget jadi laskarnya Tuhan. Kapan saja Tuhan butuh dan mau pakai aku, aku akan siap sedia.” Kemudian sang kakek menyambung: “Iya, saya juga Nak Mikael, saya orang ngga punya. Tapi sebagai rasa sukur saya sama Tuhan selama hidup saya, ijinkan saya jadi pejuangnya Tuhan. Saya akan mengabdi, saya akan setia.” Ehm...ehm... sambil terharu malaikat Mikael berkata: “Bapak-bapak, ibu-ibu yang saya kasihi di dalam Tuhan, saya rasa sayembara kali ini telah selesai. Silakan bapak ibu pulang dan mempersiapkan diri untuk sayembara berikutnya. Bubar jalan!” A...apa?? What?? Warga pun terus bertanya-tanya. How come Mr. Mikael??

Kemudian dengan penuh wibawa dan mulia, Kristus bangkit dari takhta-Nya dan berkata: “Tatkala aku mencari laskar, aku bukan cari yang kekar, atau yang sudah pakar. Ketika aku mencari pejuang, aku juga tidak mencari yang beruang. Yang kucari adalah hati. Tak peduli belia atau lansia, asalkan s'lalu sedia serta setia.”

Dimsum (hangat, penasaran dan all you can eat)

Kasih itu dimsum, ia selalu saja hangat
Masa bodoh di luar sedang musim dingin

Cinta itu dimsum, bikin penasaran
Apa sih yang ada di balik bilik tabung bambu itu?

Sayang itu dimsum, prinsipnya all you can eat
Walau sudah buncit, ia tak pernah kenyang, selalu ada dan ada lagi

Dahulu 'ku suka mantau, tapi tidak lagi sejak ada hakau
Dulu hatiku selalu merantau, namun tidak lagi sejak ada kau :)

Happy birthday My Hakau :)
Wish all ur prayers & wishes come true, Amin!

Glusdi

(dedicated to Nidya, on her 25th birthday, 12 May 2010)

Wednesday, September 8, 2010

Kalau Libur Jangan Lembur


Siapa yang setuju dengan judul di atas boleh angkat tangan. Mungkin sebagian besar kita 100% agree, atau malah menggeleng 180 degree. Terserah, sah-sah saja. “Libur-libur gue, apa urusan lu ngatur-ngatur!” Calm down, sabar dulu, Bro. Melalui tulisan ini, saya cuma pengen sumbang saran, sekalian ngisi waktu liburan.

Kalau libur jangan lembur. Emangnya kenapa? Bukannya justru kalau bisa lembur ngapain libur? Bila kita berpendapat demikian, setidaknya ada dua dugaan. Sebelumnya mohon maaf bila dugaan saya meleset, namanya saja dugaan.

Dugaan pertama: 'workaholic' is our middle name. Giat bekerja adalah hal utama yang tidak wajib dilakukan bila tidak ingin berhasil. Tekun, rajin, dan setia; kudu dilakoni bila ingin sukses. Sedangkan menjadi gila (baca: gila kerja), bukanlah jaminan mutlak keberhasilan. Sebenarnya, ‘giat bekerja’ dan ‘gila kerja’ adalah dua hal yang berbeda tapi nyaris satu jiwa. Seorang yang giat bekerja melakukan banyak pekerjaan; sementara seorang workaholic kerjaannya cuma satu, yaitu kerja. Gila kerja adalah giat bekerja stadium empat.

Dugaan kedua: kita sedang ‘ngejar setoran’. Saya mengerti betul bagaimana nikmatnya lembaran rupiah hasil lemburan, apalagi buat Lebaran. Tarifnya yang berlipat ganda, tak kunjung habis dibuat belanja. Kejar setoran adalah hal yang wajar, terlebih bagi yang sedang merajut masa depan yang mapan. Banyak kebutuhan, butuh banyak pemasukan. Bisa diterima?

Namun, bila kita termasuk si workaholic, di mana hobi utama kita adalah bekerja; alangkah baiknya di masa libur ini kita ‘kabur’ dari kemumetan kerja sehari-hari. Liburan adalah anugerah Tuhan yang mahal harganya. Jadi, gunakan menit-menit ini untuk mengistirahatkan diri, jangan sampai jam istirahat Tuhan yang lebih dulu berlaku.

Bagi kita ‘pengejar setoran’, lembur di hari libur pasti bukanlah hal baru, apalagi tabu. Mungkin saja kita terpaksa ‘berlari’ karena deadline that scared us to death, tuntutan ekonomi, profesionalisme, dan sejumlah alasan mulia lainnya. Akhirnya, mau tak mau kita tetap bekerja di hari libur. Tetap semangat, tetap lakukan yang terbaik, dan tetap makan siang bila sudah tiba waktunya.

Eh...kalau libur jangan lembur, berarti boleh sepuasnya tidur! Wah asyiikknya! Tunggu, jangan girang dulu, Gan. Masih ada satu pesan, yaitu: “Kalau libur jangan nganggur!” Sebab masa-masa tenggang seperti ini terlalu berharga untuk dihabiskan layaknya mengonsumsi barang gratisan. Kita bisa saja ongkang-ongkang di kursi goyang warisan eyang, dari subuh hingga petang. “Mumpung lagi libur,” begitu argumen kita. Tapi, setelah itu apa yang kita dapatkan selain predikat “malas” dari orang serumah? So, mau ngapain dong libur-libur gini?

Refreshing, cleaning and doing hobbies adalah tiga hal yang terbersit di paragraf terakhir ini. Refreshing berarti menekan tombol F5 diri kita berulang-ulang hingga kita benar-benar disegarkan, baik secara raga, jiwa maupun roh. Penyegaran jasmani dapat kita lakukan dengan beristirahat yang cukup, bertamasya ke luar kota, mudik ke luar negeri atau paling tidak studi banding dari mal ke mal. Penyegaran rohani dapat kita lakukan dengan bermeditasi, mengintrospeksi diri di hadapan Tuhan dan mensyukuri berkat serta penyertaanNya, yang selama ini terabaikan dalam keseharian kita. Cleaning adalah kegiatan bersih-bersih. Bersih-bersih kamar, almari dan isi tas yang selama ini teranaktirikan karena kita sibuk mencari nafkah. Cleaning juga berarti membuat komitmen baru untuk meninggalkan hal-hal yang kotor dalam diri kita. Sedangkan doing hobbies berarti melakukan hanya hobi yang postitif dan memberi nilai tambah, di antara hobi-hobi kita yang useless AKA non value added. Finally, happy holiday, Friends!

Prayer: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Writer’s note:

“The hardest thing in writing is not to find the idea, is not to find the perfect words, or to develop the topic sentence. But, the hardest thing in writing is to live accordance to what you have written. Thanks a lot for reading! “