Friday, December 31, 2010

When Heart Beats Fast and Palm Goes Wet

Sekitar dua bulan silam, mudah sekali ku merasa lelah. Napas di dada setengah-setengah, sehingga sering terengah-engah. Alhasil, aku jadi parno sendiri. Hati kecilku berbisik penasaran, adakah aku mengidap penyakit jantung? Duh… dag-dig-dug deh jadinya; terlebih bila mengingat telapak tanganku yang doyan berkeringat. Orang bilang, itu salah satu gejala jantungan, OMG!!

Saat masa remaja, aku pernah berkonsultasi dengan seorang dokter internis guna mengklarifikasi hal ini. “Dok, kenapa telapak saya suka keringetan ya?” Dengan enteng tabib modern itu menjawab, “Oh, itu berarti kamu labil.” “Ooo, gitu ya, Dok”, sahutku lugu. Untung saja istilah “ababil” (ABG labil) belum happening di zaman itu.

Usiaku bertambah, telapak tangan tetap saja basah. Hal ini mengakibatkan beberapa sohibku enggan berjabat tangan denganku. “Abis tanganlu becek, Mar.” itu alasan standar penolakan mentah mereka. Namun, kendati telapak ini acap berlumur keringat, syukurlah jantung hatiku tak keberatan kugandeng setiap waktu. “That’s my girl:)” Hal lain yang menghiburku adalah genangan ‘air asin’ ini menjadikan telapak tanganku senantiasa lembut karena terjaga kelembabannya.

Acuh tak acuh, demikianlah aku menyikapi gejolak di dada kiri bagian dalam ini. Sometimes aku cuek, namun adakalanya aku over protected terhadap organ inti yang vital ini; seperti dikisahkan dalam penggalan cerita berikut:

Suatu malam aku dan beberapa rekan sejawat bermain-main ke sebuah mal yang memiliki area permainan dalam ruang. Dengan semangat yang meledak-ledak, seorang temanku yang berdialek Sunda mengajak kami memasuki wahana rumah hantu. Aaa…apa?? Langsung terbersit di benakku sosok-sosok seram yang membuat jantung terhujam. Dag-dig-dug deh jadinya! “Ayo…ayo…Mar!” teman-teman lainnya antusias mengajakku masuk ke dalam wahana gulita itu. Hmm…ikutan ngga ya?? Semakin mendekati wahana, aura angkernya kian merona. Di gerbangnya tertulis peringatan: “Dilarang masuk bagi yang menderita penyakit jantung atau sejenisnya.” Oh…tidak! Bagaimana ini? Kalau aku menolak masuk, pasti dicap penakut. Berbekal nekat, kuberanikan diri memasuki lorong gelapnya, hiiii…so so creepy! Baru dua tiga meter langkah ini menapak, dag-dig-dug-dag-dig-dug…oops, kok perasaanku ngga enak ya? Dag-dig-dug-dag-dig-dug, iramanya kian kentara, keringat di tangan mulai mendera. Aaahh…akhirnya kuputuskan untuk keluar dari mulut bangunan horor tersebut. Pikirku, lebih baik dicap pengecut, ketimbang mati terkejut. Sorry Guys, wahana yang ini aku absen dulu ya.

Semenjak peristiwa itu, tak henti-henti hati bertanya. Benarkah jantungku bermasalah? Ditambah lagi tersiar kabar ada beberapa kerabat yang dikagetkan oleh serangan fajar penyakit ini. Memang sih usia mereka jauh lebih uzur, namun bukankah bencana tak pandang umur? Apakah benar aku juga seperti mereka? Hanya satu cara untuk menjawab misteri di relung hati ini. Konsultasi dengan ahlinya!

Konsultasi ke dokter jantung. Kendati terdengar gampang, namun faktanya tidaklah mudah, apalagi murah. Belum apa-apa, hati cerewet ini sudah bertanya lagi, “Bagaimana kalau aku divonis mengidap jantung koroner akut dan harus segera dioperasi, dipasang ring atau di-bypass? Bagaimana bila ternyata sesak di dada yang telah aku rasakan adalah agresi pertama dari penyakit ini? Siapkah aku menerima kenyataan?” Belum lagi masalah biaya, dijamin akan meredenominasi paling tidak enam digit angka rupiah. Di tengah kekhawatiran, aku hanya bisa berdoa, “Tuhan, klo boleh, nanti diagnosisnya jangan parah-parah ya, yang masih acceptable-lah, jadi bisa berobat pelan-pelan. Hmm…klo emang ternyata saat ini udah tergolong gawat, tolong Tuhan sembuhin dikit dulu, jadi pas diperiksa dokter udah ringan deh, OK? Thank You Lord, Amen!”

Singkat cerita, ku datangi sebuah RS dan mencalonkan diri untuk menjadi pasien di sana. Seorang Cardiologist – Interventionist (baca: ahli jantung) yang bergelar App, Sc, SpJP, FIHA kuberi kehormatan untuk meraba-raba bagian dadaku guna mendeteksi ada apa di dalamnya. Didampingi kekasih yang setia, kunantikan hadirnya sang dokter bejubel gelar itu.

Bapak Mario!” dengan santun seorang suster menyebut namaku. “Silakan masuk, Pak!” Bergegas kutuju meja sang dokter dan mengadakan perbincangan serius. “Begini Dok, belakangan napas saya kok pendek dan agak sesak ya? Terus sudah sejak kecil telapak tangan selalu keringetan. Banyak orang bilang itu gejala jantung. Nah, makanya saya ke sini, mau mengkroscek apakah benar ‘dakwaan’ mereka selama ini?”

Silakan berbaring di sana, Pak’, kita cek tensi dan detak dulu ya”, seru sang kardiologis santai. Tanpa dikomandoi, sang suster mengeluarkan stetoskop dan perangkat tensinya yang langsung didaratkan di dada datarku, “Tarik napas, Pak... buang napas... sekali lagi... napas yang panjang... buang… OK!” ujar sang perawat. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menemukan tidak ada yang salah. Kalau begitu, apakah berarti jantungku bebas masalah? Wait, is not as simple as that, Guys! Guna menerawang lebih jauh, sang dokter mengajakku untuk ikut tes berikutnya: Treadmill Test! OK, sounds cool:)!

Pada uji ini, aku harus berlari di atas treadmill yang diatur dalam empat tingkatan kecepatan. Tujuannya adalah memacu kinerja jantungku dan melihat bagaimana fluktuasi dag-dig-dug-nya. Aku ditargetkan untuk bisa mencapai minimum 85% waktu dari total menit yang ditetapkan di tiap level kecepatan. Ya, anggap saja sedang berlatih di pusat kebugaran. Yang membedakan adalah aku dipaksa mengenakan kimono tipis ala ruang operasi. Selain itu, di sekujur dada serta area six pack-ku ditempeli ‘lintah-lintah’ bundar berkabel yang terkoneksi ke komputer. Sayangnya aku tak sempat mengabadikan momen langka itu.

Bisa kita mulai, Pak?” tanya sang suster. “Bila di tengah ‘pelarian’ ini Bapak merasa sesak atau ada keluhan di bagian dada, harap segera beritahu saya,“ sambungnya ramah. “Baik, Sus. Let’s go!” sahutku penuh percaya diri. Level pertama: ibarat jalan-jalan sore sambil menanti terbenamnya mentari. Tak ada upaya yang berarti di level ini. Lanjuuut! Level dua: kecepatan di level ini membawa derap langkahku ke suasana jogging di Sabtu pagi. Meski lajunya masih relatif pelan, ia berhasil membuat bulir peluh bermunculan. Tanpa perlu strategi bulus, level dua lulus dengan mulus. Now, we’re going to level three. Conveyor di bawah kakiku berputar kian cepat, sehingga mau tak mau aku pun menambah gesitnya ayunan kakiku. Berlari konstan dengan kecepatan seperti ini membuatku harus berhati-hati dalam mengatur ritme pernapasan; huuh…haah…huuh…haah… Peluh yang awalnya hanya di pelipis, mulai merembes ke kimono tipis. Huuh…haah…huuh…haah…finally level tiga finish juga!

Masih kuat lanjut ke level terakhir, Pak Mario?” sang suster kembali mengajukan pertanyaan sambil melongok tampangku yang tampak kuyu. Seorang pria harus menyelesaikan apa yang telah dimulainya, “Lanjuut, Sus!”. Pandanganku mulai agak remang dan keringat makin bercucuran, terutama di telapak tangan yang sedang menggenggam erat pegangan treadmill, wuiih banjir euy! Napas tinggal sisaan, ngos-ngosan. Hmm…ini gara-gara lemah jantung atau memang staminaku yang ngga prima ya? Entahlah. Sekarang yang penting adalah berlari sekuat tenaga, banzai! Ya…sedikit lagi…83%...84%...85%! Akhirnya aku berhasil mencapai batas minimum waktu yang ditargetkan, well done! Proses pengetesan telah selesai, kini tinggal menunggu bagaimana hasilnya. Suster mempersilakanku berganti pakaian, sementara ia mencetak hasil rekaman jantungku yang akan dilaporkan ke Pak Dokter.

Seusai berganti kostum, aku diminta menanti di ruang tunggu. Iseng kuintip ruang sang dokter, rupanya beliau sedang sibuk mengamati lembaran kertas bergambar grafik naik-turun yang tidak lain adalah rekaman detak jantungku. “Silakan masuk, Pak Mario”, seru seorang suster dari balik pintu. Dag-dig-dug… inilah saat yang dinanti-nanti. Jawaban yang kucari sejak usia dini akan terkuak malam ini. Aku langsung meluncur ke meja sang dokter, duduk berhadapan dan saling bertatapan. Kusiapkan hatiku untuk menerima yang terburuk, lalu bertanya, “Bagaimana hasilnya, Dok?”. Di luar dugaan, sang dokter merespon dengan cepat, “Dari hasil treadmill bagus, ngga ada masalah apa-apa, jadi saya ngga kasih obat apa-apa ya, karena memang ngga ada apa-apa.” “Oooo…aku pun termangu.” Sulit rasanya memercayai jawaban dokter yang jauh di luar ekspektasiku. Masih belum puas, kubombardir sang dokter dengan pertanyaan beruntun, “Hmm… jadi klo tangan keringetan itu kenapa, Dok? Terus kalo deg-degan plus tangan berkeringat waktu naik ke tempat yang tinggi itu kenapa tuh, Dok?” Jawab sang dokter, “Klo tangan keringetan, itu biasanya karena kelenjar keringat yang berlebih (hyperhydrosis), ngga bahaya kok, cuma ganggu aja. Terus klo masalah deg-degan dan tangan basah pas naik-naik, itu karena perasaan cemas aja, sehingga memicu keringat.” “Ooo…gitu ya, ok deh, makasih banyak ya, Dok!” seruku sambil meninggalkan ruangan dengan penuh keraguan.

Ketika berada di luar, tiba-tiba aku terhenyak. Ku teringat akan doaku sebelum berangkat ke rumah sakit. Aku telah berdoa minta jamahan Tuhan; dan faktanya He has answered my prayer, jantungku divonis sehat wal’afiat! Tapi, mengapa aku justru tidak percaya saat dokter bilang jantungku baik-baik saja? Mengapa seolah aku ‘ngotot’ ingin ada sesuatu pada jantungku? Aku sudah berdoa pada Tuhan, tapi ragu tatkala doaku dijawab-Nya. “Please forgive me, GOD, karena telah meragukan pertolongan-Mu. Terima kasih banyak karena telah menyembuhkan aku, Amin!”

Apa hikmah dari cerpen panjang ini? Berdoa itu mudah, yang sukar adalah menanti jawabannya. Bahkan ketika Tuhan menjawab doa dan keinginan hati kita, adakalanya kita ragu apakah itu dari Tuhan. Seringkali kita lebih yakin kepada apa kata orang atau ‘feeling’ diri sendiri ketimbang pada apa yang nyata-nyata Tuhan telah buat pada kehidupan kita. Adakalanya kita tidak yakin apakah Tuhan mampu menjawab doa-doa kita. Kalau sudah begitu, apa gunanya berdoa? Sebaliknya, saat kita berdoa, hendaklah kita percaya bahwa kita telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepada kita. Camkanlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segalanya; jadi tidak mungkin ada yang mustahil bagi Dia. Betul betul betul?

Thursday, October 14, 2010

A Man Without Nails

Cowok : Babe, tolong garukin dong...

Pacarnya : Kamu kamu...manja betul deh, masak tinggal garuk aja mesti aku juga sih...??

Cowok : Please...(dengan muka memelas seraya menunjukkan ujung-ujung jemarinya)

Pacarnya : Oiya, aku lupa kamu ngga punya kuku ya :)


A man without nails. Sejak bocah hingga usia ngebet nikah, julukan itu terus saja membuntutiku. Padahal faktanya aku punya kuku kok! Hanya saja dimensinya yang cute dan ciut - berbeda dengan kuku-kuku kebanyakan - membuatnya kehilangan fungsi dasar sebuah kuku. Mengapa sampai bisa begitu?

Entah siapa yang mengajari, sedari balita, aku doyan sekali melahap bagian ujung jari yang biasa dipakai orang untuk mengupil ini. Beberapa orang suka menyindir dengan bertanya “Emang enak ya, io?” Hmm... biasanya sih berasa tawar, tapi bisa juga beraneka rasa; tergantung pada benda apa yang terakhir kontak fisik dengannya. Akan terasa manis bila ada sisa-sisa S*lver Qu**n yang tersemat di sana; dan akan terasa asin bila baru saja selesai digunakan untuk mengeksplorasi indera pernapasan kita, berasa banget gurih karamelnya;p. Hihihi....

Seiring bertambahnya digit usia, banyak hal berganti dan berubah. Polo shirt slim fit menggantikan oblong yang gombrong, rambut gondrong berbelah simetris jadi lebih kelimis, perut nan rata mulai di atas rata-rata. Satu hal yang belum berubah adalah hobi menyantap kuku-kuku renyah. Nyaris tiada hari tanpa serpihan kuku yang jatuh ke tanah. Awalnya tak terbersit niat untuk menggerogotinya, namun di luar kesadaran, kerap jari yang satu bergerak sendiri mengadudombakan kukunya dengan kuku di ujung jari lainnya. Ketika sudah ada yang kalah dan terbelah (bahkan kadang berdarah), barulah diri ini menyadarinya. Sayangnya, ketika itu terlambat sudah. Kuku yang gugur terpaksa harus di-manicure; dan bila tak ada alat yang yang memadai, maka gigi serilah yang mengeksekusinya. Itulah sebabnya mengapa panjang kuku-kukuku tak pernah melampaui ujung jarinya, wong ngepas di ujung saja belum pernah;p .

Berjuta komentar, kritik dan saran dilontarkan kepadaku perihal kebiasaan 'unik' ini. Salah satu yang masih hangat kuingat hingga detik ini adalah komentar dari sang bunda, katanya "Ih, lu ngga malu ya, udah gede masih gigitin kuku. Ntar klo udah kerja, di kantor gigitin kuku, diketawaain orang-orang lu: Lihat tuh, Pak Mario lagi asik gigitin kuku, hehehe..." Kadang bosan menghadapi komentar seperti itu, namun terlebih bosan lagi menghadapi kenyataan berulang kali gagal dalam 'puasa' mengonsumsi 'cemilan' yang notabene tidak higienis itu. Satu-satunya kemenangan 'puasa' terjadi ketika aku diopname kelas 3 SD. Kala itu aku berhasil untuk tidak menjamah kuku-kuku tersebut selama beberapa hari karena tangan kiriku terborgol oleh selang infusan.

Kebiasaan mendarah daging ini terus berlanjut. Ketika sedang membaca, melamun, atau menonton TV, para jemariku diam-diam menyabung kuku-kukunya. Peringatan dan teguran dari orang-orang terkasih tak hentinya merema di telinga, namun aku cuek saja. "Lagi tanggung nih, dikiiiit lagi...", begitulah biasanya responku. "I know very well about my nails, and I know what is the best for them." Toh, gw ngga mengganggu dan merugikan siapa-siapa kan? Kan? Kan?

Pada suatu hari, saat aku sedang mencoba fokus di kelas mendengarkan kuliah finance di kampus tempat kursusku, tiba-tiba terdengar bunyi yang tak asing di kuping. Tek..tek..tek... "Suara apaan ya? Pelan, tapi ganggu banget tau ngga sih? Tek...tek...tek... Kulongok teman sebelahku, nah! Ternyata dialah penghasil noise tersebut. Kedua tangannya sedang berada di kolong meja. Ngapain? Rupanya dia tengah menduelkan kuku-kuku di jemarinya, sehingga terjadilah benturan di antara mereka dan menciptakan bunyi yang cukup annoying. Mau kutegur dia karena telah membuyarkan konsentrasiku, tapi kuurungkan niatku. Karena yang dia lakukan tak ubahnya dengan hal yang selama ini aku lakukan. Oh malunya hati ini, cuma bisa mesem-mesem sendiri sambil 'gigit jari'. He is also a man wihout nails.

Grrrr....kita pasti grrrr...regetan bila melihat sikap orang lain yang mengganggu? But waiit...sebelum sebel kita kian tebel, ada baiknya kita ngaca dulu. Sebab acapkali "sepasang balok besar tak nampak di pelupuk mata, namun selumbar di mata orang terlihat." Di kala bercermin, coba perhatikan: jangan-jangan 'wajah' kita mirip dengan orang yang tidak kita sukai itu? Atau awalnya 'tampang' kita memang jauh berbeda, namun lambat laun kok layaknya saudara kembar ya? Ini bisa saja terjadi bila di hati kita terlampau banyak mengoleksi benih-benih kekesalan pada orang yang bikin gregetan itu. Alhasil, buah yang kita hasilkan menyerupai buahnya.

Dari kisah kuku yang ngga penting ini, setidaknya ada tiga hal penting yang bisa kita petik. Pertama, terimalah segala kritik dan saran dari orang lain dengan telinga yang dewasa dan hati yang terbuka; karena hal itu baik bagi pertumbuhan kita. Kedua, buanglah jauh-jauh benih kekesalan (kegeraman, kepahitan, dkk) terhadap seseorang bila kita tidak ingin tumbuh menjadi saudara kembarnya. Sebaliknya, maafkan dan tegurlah dia dengan kasih, sehingga kita dapat membawanya kembali ke jalan yang benar. Finally, yang ketiga, janganlah tergesa-gesa dalam menghakimi seseorang, melainkan perbanyaklah waktu bercermin diri. Saat kita bercermin, tanyakan dalam hati, "Apakah dalam cermin ini kita masih bisa melihat blue print-nya TUHAN, Allah Sang Pencipta kita?"

Writer's note:

Berbicara itu mudah, ibarat selembar latihan pilihan ganda di dalam kelas.

Menulis itu agak sulit, layaknya pekerjaan rumah menyarikan satu bab mata kuliah.

Melakukan apa yang dibicarakan dan yang dituliskan itu sangatlah sukar, bak ujian essay harian dengan materi satu perpustakaan yang menentukan kelulusan. That's integrity!


Payung Kertas Koran



(sebuah kisah tua yang ditulis masa SMA, yang berpesan: "makanya jangan sok tahu...")


Hari itu, matahari sedang obral besar-besaran. Panasnya diumbar habis sampai-sampai
cool case (baca: kulkas) ku turut kegerahan. Saking teriknya, siang itu pun menjadi bolong. Layaknya anak yang baik, aku duduk manis melipat tangan di kamarku yang sumpek. Bosan!! Ingin main diluar, tapi tak beroleh izin…

Bu, aku main sepeda ya?” kataku.

Sahut ibuku, “Jangan Nak, nanti kau hitam, terus mimisan!“

Lalu ku bilang, “Tenang Bu, aku bawa payung kertas koran kok!“

Jangan Nak, payung itu takkan sanggup melindungimu!“ kata ibuku.

Dan aku pun membalas, “Don’t worry Bu, payung itu buatanku, jadi pastilah ia sekuat aku!“

Ibuku tetap saja melarang, “Jangan, lagipula ibu dengar nanti akan turun hujan lho!”

Lalu kutanggapi dengan sombong, “Jangankan hujan Bu, dengan payungku ini badai dan ombak sekalipun akan kuterjang tiada takut! Bukankah nenek moyangku seorang pelaut…??“

Ibuku tetap bersikeras, “Jangan Nak…!“

Akhirnya meski tanpa restu ibunda, aku nekat pergi juga, “Daa Ibu…!!“

Diatas sepedaku, kulompati pagar berkawat…& mulai mengayuh. Wah, siang ini benar-benar ‘hot’ rupanya. Ubun-ubunku mulai hangat, kulit kepala mulai berkeringat. Tapi tenang, aku bawa payung…payung kertas koran!!

Penuh percaya diri, kuberaksi dengan payungku, jebret…!! Lumayan, walau nampak seperti ‘Sarimin pergi ke pasar’ setidaknya ketombeku takkan menghangus. Tak lama kemudian, langit nampak muram…lalu, tes..tes..tes.. berdatangan bayi-bayi air dan mulai merangkak-rangkak diatas payung koranku, mereka menamakan diri mereka: gerimis. Bagiku mereka bukan masalah, paling-paling mereka hanya melunturkan tinta-tinta tulisan yang tertera pada kertas koranku. No problema..!

Sambil bersiul ku menggoes pedal, nikmati rintik gerimis mengglitik. Namun tiba-tiba, ada yang menyambar atap koranku! Aku pun berteriak : “Copet, maling, jambret!“. Lho, kok tak ada siapa-siapa ya? Ternyata adalah segelintir petir yang bertanggungjawab atas bumihangusnya atap payung kertas koranku. Kini yang kugenggam tinggallah gagang, yang nampak garing karna terpanggang.

Hujan badai kian menggila. Bayi-bayi gerimis telah menjelma tumbuh dewasa. Mereka mengguyur, menertawakan, serta mengajak angin ribut mencemooh keadaanku. Sekarang aku kedinginan, malu, lapar, serta terserang flu.. haacii..haaacuii...!! Akhirnya dengan kepala tertunduk dan muka kuyu, aku pulang ke pelukan ibu. “Bu, tolong kerokin aku ya.”

Kapok? Ya, itulah akibatnya kalau kita keras kepala. Seringkali kita terlampau sombong & ‘ogah’ mendengarkan nasehat dari orang lain. Nasehat baik mereka kita tolak mentah-mentah dan justru kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri yang sebenarnya hanyalah sebuah ‘payung kertas koran’. Kita malah merasa ‘sok kuat’, padahal nyatanya tidaklah demikian. Ingatlah, kita ini makhluk yang terbatas dan kaya akan kelemahan. Jadi, janganlah ‘sok berjalan sendirian’. Bersandarlah pada Tuhan, patuhlah pada orang tua, dan jangan abaikan nasehat orang lain; setuju?”


Sayembara di Surga


Suatu ketika Surga menggelar sayembara, gemanya menggemparkan nusantara. “Urgently required!” seru Mikael (malaikat berkebangsaan Inggris). Dicari: seorang laskar dan seorang pejuang yang akan ditempatkan di bawah pimpinan Kristus, Sang Anak Allah. WooW! Sungguh suatu kebanggaan dan kehormatan yang tak tertandingi bila dapat terpilih! Tak heran, kompak serempak seluruh warga nusantara berdesakan mendaftar, rapih berbaris dalam waiting list. Tibalah giliran pertama.

Muncullah seorang pendekar. Dengan percaya diri yang berkelimpahan ia berkata: “Dengan jurus-jurus yang telah kuhafalkan dan kulatih dari masa ke masa, aku yakin seyakin-yakinnya, pastilah aku yang paling cucok untuk menjadi laskar Kristus!”. Namun dengan lirih Mikael berkata: “Tue pu chi Mr. Lee, bukan Anda yang kami cari. Say sayonara to this sayembara, sampai jumpa lagi.”. Next!

Majulah seorang milyarder, yang kalo ngitung duit keder (saking banyaknya). Katanya seraya mengipas-ngipas gepokan gobanan: “Dengan harta yang kumiliki ini, rasanya akulah yang paling layak duduk di kursi pejuang di bawah pimpinan Kristus. Bahkan dengan uangku, aku bisa menjadi investor asing di tanah Surga ini!” Lalu sahut Mikael: “I'm really sorry Mr. Richie, tapi saya rasa uang Anda saja takkan cukup untuk biaya peremajaan Jl. Raya Surga Blok H1 yang beraspalkan emas ini. Bye-bye, please check your belongings and step carefully, thank you.” Next, next...

Lalu datanglah seorang belia menuntun seorang lansia (mungkin engkongnya). Anak belia ini berkata: “Aku tak punya apa-apa Pak Mikael, tapi aku pengen banget jadi laskarnya Tuhan. Kapan saja Tuhan butuh dan mau pakai aku, aku akan siap sedia.” Kemudian sang kakek menyambung: “Iya, saya juga Nak Mikael, saya orang ngga punya. Tapi sebagai rasa sukur saya sama Tuhan selama hidup saya, ijinkan saya jadi pejuangnya Tuhan. Saya akan mengabdi, saya akan setia.” Ehm...ehm... sambil terharu malaikat Mikael berkata: “Bapak-bapak, ibu-ibu yang saya kasihi di dalam Tuhan, saya rasa sayembara kali ini telah selesai. Silakan bapak ibu pulang dan mempersiapkan diri untuk sayembara berikutnya. Bubar jalan!” A...apa?? What?? Warga pun terus bertanya-tanya. How come Mr. Mikael??

Kemudian dengan penuh wibawa dan mulia, Kristus bangkit dari takhta-Nya dan berkata: “Tatkala aku mencari laskar, aku bukan cari yang kekar, atau yang sudah pakar. Ketika aku mencari pejuang, aku juga tidak mencari yang beruang. Yang kucari adalah hati. Tak peduli belia atau lansia, asalkan s'lalu sedia serta setia.”