Tak bergeming!
Pantatnya tertancap dalam di cekungan kursi kantornya.
Kerjaannya hanya kerja,
tak pedulikan raga bahkan keluarga.
Ketika sang istri bertanya, mengapa ia seenak jidat?
Mengapa kerja menjadi madat?
Ia hanya mengerinyatkan dahi
dan di kening keriputnya tertulis "Ada deadline!"
Sebuah garis yang seolah membuatnya mati, bila ia gagal 'tuk melewati.
Hai para workaholic!
Istirahatlah sejenak, agar hidupmu enak!
Tarik nafaslah, agar kau tak lagi lelah!
Sudah lupakah bahwa kau punya rumah?
Pulanglah, sebelum anakmu lupa ayahnya.
Pulanglah, sebelum kesehatanmu habis di meja kerja.
Pulanglah, sebelum kesibukan memulangkanmu ke rumah Bapa.
Nikmatilah kerasnya hidup,
dan syukurilah, sebagaimana mestinya.
Karena hidupmu berharga.
"Petani tanpa cangkul, ibarat pelari tanpa dengkul; rembulan tanpa malam, ibarat pelampung yang tenggelam; penulis tanpa diary, ibarat mati suri."
Thursday, May 7, 2015
Le Sehan
LEha-leha SEtengah
rebaHAN, atau yang akrab disingkat lesehan, memang paling wueeenak dilakukan setelah badan letih seharian. Apalagi ditemani
dengan sekepal nasi kucing, beberapa tusuk sate usus, plus seteguk susu jahe
panas. Ngga kebayang nikmatnya! Ternyata inilah hobi mayoritas warga Yogyakarta
di kala menghabiskan senja. Tak heran, puluhan gerobak angkringan nangkring di
kota pelajar ini, terlebih di Malioboro.
Malam ini malam
terakhir kami di kampungnya Sri Sultan. Pengen banget rasanya merasakan makan
malam ala rakyat Jogja, sebuah dinner bersahaja tanpa meja. Pasti seru deh
makan beralaskan ‘permadani’ yang digelar sepanjang trotoar. Tapi rasanya mimpi
itu mustahil, karena putra mahkota kami (Nolan) masih terlalu batita untuk
diajak melantai, apalagi makan tusukan organ hewan bagian dalam, alias sate
jeroan. Tampaknya ngidam angkringan ini terpaksa harus ditunda hingga Nolan
tumbuh dewasa.
Namun syukurlah Tuhan itu
Mahatahu dan baik pula. Diam-diam, Ia mendengarkan impian-impian kecil kami, termasuk
mimpi untuk bisa makan angkringan! Ia menjawab mimpi kami dengan ‘mengizinkan’ Si
Nolan terlelap lebih awal, serta ‘mengutus’ Ibuku untuk menjagai tidurnya di
kamar hotel tempat kami menginap. Yiippiy..
itu artinya aku dan bojoku bisa bebas pergi lesehan dinner dong! “A dream comes true. Let’s go, Darling!” seruku mengebu-gebu.
“Mas, enaknya kami
ngangkring di mana ya?” tanyaku polos pada Mas Wahono, driver sewaan sekaligus
tour guide kami selama 2x12 jam belakangan ini. “Hmm…di Malioboro aja, yang
agak ke sebelah utara.” Jawabku, “OK Mas,
I believe in you.”
Lima belas menit
berselang, tibalah kami di hiruk-pikuk Malioboro, persisnya di depan sebuah
gerobak beratap terpal merah. "This is it!" seru Mas Wahono. Gareng
Petruk, demikian nama duet tokoh wayang yang menjadi merek gerobak penuh
kudapan itu. Dengan penuh nafsu (makan), kami pun langsung menyerbu tempat itu.
"Waaaah...seru
banget nih!" Belasan rasa nasi kucing dipajang rapi di sepanjang etalase
gerobak tersebut. Ada nasi jamur pedas, nasi teri, nasi langgi, nasi ati
ampela, and many more. Tusukan satenya yang berbaris rapi sungguh menusuk
hatiku. Aku pun tergoda mengajak beberapa pasang dari mereka menemani makan
malamku. Seolah masih kurang, di ujung etalase berkerumun aneka gorengan dan
tempe mendoan yang siap memuaskan kerongkongan. Hmm…so yummy for my tummy!
Seusai menyeleksi apa
saja yang layak ada di piring kami, akupun langsung ngacir ke kasir. Saban citcenggo (baca: 37.500 rupiah),
itulah harga lesehan dinner kami malam itu.
Di tengah nikmatnya
the taste of Jogja dan serak-serak medoknya logat pengamen Malioboro, tampak
berkeliaran dua bocah lelaki sedang asyik mengemis dari tikar lesehan satu ke
tikar lainnya. Usianya kira-kira setara anak SD kelas 2 (entah sebenarnya
mereka sekolah atau tidak). Keduanya berkaos lusuh dan kegombrongan, kaos yang
satu merah polos, yang satunya lagi bergambar manusia laba-laba. Melihat
mereka, hatiku biasa saja. Tiada terbersit niat memberi recehan, karena kalau
di Jakarta, menjadi ‘dermawan’ sudah dilarang (Perda DKI No. 8 Tahun 2007
tentang Ketertiban Umum). Akhirnya, kedua bocah itupun lewat di depan kami
tanpa beroleh apa-apa.
Tak lama kemudian,
sepasang bocah kumel tadi kembali tertangkap oleh pandanganku. Mereka sedang
menunggu sang petugas Gareng Petruk yang memberi mereka sebungkus susu murni. Aksi
donasi susu itupun langsung menyentuh hatiku dan membuatku bertanya pada
istriku, “Babe, bolehkah aku mentraktir mereka makan malam ini?” Iapun
mengangguk pertanda memberi restu. Didorong oleh rasa ingin memberi yang
meluap-luap, akupun segera menghampiri mereka.
“Dik, kalian berduaan
saja?” tanyaku sambil menepuk salah satu pundak mereka. “Iya Kak” jawab mereka
kompak. “Mau makan?” lanjutku. “Mau Kak”. “Yuk, sini Dik, silakan pilih mau
makan apa.” Mereka pun segera berlari ke ujung gerobak, tempat di mana
bungkusan nasi kucing berkerumun. Mata si bocah berkaos merah langsung
menjelajah, memilih dengan sangat hati-hati, nasi kucing rasa apa yang akan
diambilnya. Setelah mengambil sebungkus, ia terdiam dan menatapku dan seolah
berkata dalam hati “Ini Kak, sudah.” Lalu kataku kepadanya, “Dik, ngga pake
lauk? Satenya ambil juga aja.” Barulah kembali matanya jelalatan menilik satu
demi satu tusuk sate yang tergeletak di sana. Sate kulit ayam, itulah yang
menjadi pilihannya, hanya setusuk saja.
Selama bocah berkaos
merah memilih, bocah berkaos Spiderman ternyata diam saja. Air mukanya bertanya
penuh keraguan, apakah dia juga ditraktir makan angkringan? Setelah aku
berkata, “Ayo Dik, kamu ambil makanan juga,” barulah ia yakin, berani
menghampiri gerobak makanan dan mengambil sebungkus nasi kucing, cuma itu saja.
Dalam hatiku bertanya,
“Kok mereka cuma makan itu saja? Bukankah sah-sah saja mereka nyomot lauk banyakan, mumpung lagi ada
yang bayarin?” Akhirnya, malah akulah yang menambahkan dua keping gorengan tempe
dan piscok sebagai dessert mereka.
“Ini Mba, ini tambah ini jadi berapa?” tanyaku pada kasir sembari menunjuk
makanan yang sedang mereka genggam. Lunas, selamat makan adik-adikku! Merekapun
mengucapkan “Makasih, Om” dan segera berlari mencari lapak kosong di tepi jalan
untuk mereka berlesehan.
Anak-anak ini sungguh
membuatku berdecak kagum. Meski menyandang predikat sebagai anak jalanan, perilaku
mereka amat sopan. Mereka tidak lancang mengambil makanan sebelum benar-benar
diizinkan. Kendati mereka lapar, namun mereka tidak lapar mata. Mereka memilih
dengan jeli apa yang mereka inginkan, dan hanya satu saja. Walaupun seolah
mereka ‘jarang’ dapat berkah, namun hati mereka jauh dari serakah. Mereka tahu
apa artinya cukup dan mampu menikmati kesederhanaan, bahkan kejelataan hidup
mereka.
Coba bandingkan dengan
kita. Habis makan nasi padang sebungkus, tapi masih rakus. Sudah kenyang, namun
bilang ngga nendang. Dikasih satu mau dua, punya tiga pengen lima. Kita sudah lupa,
bahwa di KBBI ada sebuah kata: cukup. Kiranya kata ini bisa menolong kita untuk
lebih mensyukuri hidup yang dianugerahkan Tuhan, dan menjauhkan kita dari segala
ketamakan.
“Cukup setusuk saja,
cukup satu bungkus saja.”
Cukup sampai di sini
tulisan saya. Thanks for reading!
Label:
angkringan,
cukup,
jogja,
lesehan,
serakah,
yogyakarta
Wednesday, March 18, 2015
Antara Baik dan Benar
Prriit… Dengan sekuat
otot pipinya, Sang Polisi meniup peluit di tangan kiri, sementara tangan kanannya
melambai mesra ke arahku yang baru saja melindas garis tebal di aspal.
“Yaah…kena deh!” gerutuku dalam hati. “Siang Pak, boleh pinjam surat-suratnya?”
sapa Sang Polisi sopan. “Bapak Mario Diwanto, mari ikut saya ke posko hansip di
pojok sana,” ajaknya. Diselimuti rasa takut, akupun langsung ikut.
Seiring langkah ke posko,
otak dan hati kecilku saling bersahut-sahutan. Hati kecil berkata, “Terakhir
ditilang kamu nyuap, kali ini jangan lagi ya.” Otak bilang, “Kalau tilang lebih
mahal gimana? Bulan ini kamu lagi banyak pengeluaran lho, bagi-bagi angpao
Imlek, belum lagi mau liburan ke Jogja.” Suara hati kembali bicara, “Yang
namanya kesalahan, ya harus dibayarlah!” Otak langsung menyambar, “Ngga usah
gitu-gitu amatlah Bro, ini Indonesia!” Ooh tidak! Posko sudah kian dekat, namun
belum ada kata sepakat. Que sera-sera,
what ever will be will be.
Di dalam posko buluk itu,
Sang Polisi mengeluarkan kertas dari kantong celananya. Ada yang biru dan ada
yang merah. Lalu dengan wibawa ia berkata kepadaku, “Dendanya Rp 500 ribu,
dibayar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur ya Pak, daerah Pulo Gebang.” Sejenak
aku membisu, “Walah…di belahan bumi sebelah mana tuh ya? Secara aku ‘kan anak
gaul Gading yang hang out-nya cuma di
MKG, MAG dan MOI. Pulo Gebang sih pernah denger, tapi Pengadilannya….walahualam deh.”
Belum sempat aku menjawab
ya atau tidak, Pak Polisi melontarkan opsi kedua? “Atau Bapak mau bayar di Bank
BRI aja? Pake slip yang biru ini, Rp 250 ribu.” Nah yang ini aku pernah dengar
nih. Kata orang, kalau ditilang pilihlah slip yang biru, bayar di bank, beres!
Selain praktis dan lebih ekonomis, juga turut serta melangsingkan ‘oknum berperut
gendut’ di jalan raya. Tak diragukan lagi, ini pasti keputusan yang paling
tepat, dunia dan akhirat.
“Kalau gitu saya pilih
yang biru saja, Pak” jawabku percaya diri. “Kalau gitu sekarang sampeyan ke BRI
Kampung Melayu, bayar di sana dan balik lagi kemari, saya tunggu,” sahutnya.
Kampung Melayu?? Wah, kampung di pelosok mana lagi tuh? Disuruh bayar di sana
dan balik ke sini sekarang juga? Mustahil! Saya ‘kan buta lalu lintas ibukota;
yang ada nanti malah nyasar, bikin masalah tambah besar!
Lagi-lagi hening. Rongga
mulutku terasa kosong, lidahpun kelu penuh ragu. Aku tak berdaya menjawab
tawaran Pak Polisi. Eeh.. tiba-tiba Si bapak berseragam itu mengeluarkan opsi
ketiganya. Dengan nada datar dan suara lirih, ia berbisik “Hmm…kalau mau
dibantu Rp 200 ribu, bayar langsung di sini.” Lho… kok lebih gampang dan lebih murah?
Apakah ini artinya ia minta disuap? Bukankah oknum macam ‘ni sudah punah sejak
gubernur baru bertakhta?
Spontan aku melirik
daleman dompetku. Astaga! Cuma ada secarik 50 ribuan, sepasang 20 ribuan,
sehelai cebanan, plus beberapa lembar ribuan lusuh. Kalau ditotal, cuma cepek
ceng lebih dikit euy! “Gimana ya nih?” rasa panik mulai menghantui. Tak ada
jalan lain, inilah waktunya negosiasi. “Pak, cuma ada 70 ribu nih,” begitulah
tawaran pertamaku. Sang Polisi langsung menyahut, “Kalau mau saya bantu, 200
ribu.” Tawaran keduaku, “Pak, 100 ribu nih,” seraya menyodorkan uang ke
arahnya. Tanpa ekspresi dan basa-basi, tangannya langsung menyambut duit-duit
butut itu, lalu bertanya dengan hangat, “Pak Mario, tadi Bapak mau ke mana?”
“Ke arah Sunter, Pak,” balasku. Lalu iapun langsung memberi arahan, “Dari sini
lurus, mentok ke kiri, lalu masuk tol Kebon Nanas ya, Pak. Hati-hati di jalan
dan selamat siang.” Makasih Pak Polisi
yang baik hati J. Akupun segera kembali ke mobil,
dan menuruti nasihatnya.
Di dalam ruang kemudi aku
termenung, merenung. Is it good? Is it
right? Si otak dan hati kecil kembali hadir. Otak bilang, “Itu baik kok,
istilah kerennya win-win solution,
simbiosis mutualisme. Pak Polisi hepi,
kamupun hemat! Btw, bukankah semua
orang melakukannya?” Hati kecil menyela, “Yes,
mungkin itu baik, tapi apakah itu benar? Baik tidak selalu benar, dan memang
faktanya, kebenaran seringkali tidak membawa ‘kebaikan’ bagi yang melakukannya.
Namun, itu tidak berarti kebenaran tidak layak untuk diperjuangkan, bukan?”
Dari kejadian ini, aku
belajar bahwa tidak mudah menjadi penegak kebenaran. Tahu persis mana yang
benar dan mana yang salah, tidaklah otomatis membimbing kita ke jalan yang
benar. Diperlukan upaya ekstra, perlu ambil risiko, perlu menyangkal diri,
karena basically we are sinners, right?
Only by His grace, kita mampu menjadi
pelaku-pelaku kebenaran - not because our
self-strength.
Oleh sebab itu, ketika di
kepalamu ada suara-suara nyaring yang ‘terdengar baik’, diamlah sejenak; dan nantikanlah
bisikan-bisikan lembut dari hati nurani, turutilah, karena itulah yang seringkali
benar. Ketika arus hidup ini menggiringmu berbelok, melenceng kanan dan kiri;
yakinlah bahwa Tuhan tetap ingin kau ada di jalan yang lurus. Karena dengan
jalan itulah, kau sedang menegakkan kebenaran-Nya.
DITILANG berarti DIsuruh berhenTI meLANGgar, bukan
untuk menghindar.
Jadi, bila esok kau
ditilang, apa yang akan kau bilang?
One Thing
Bila detik
ini Anda ditembak dengan sebutir pertanyaan, “Satu hal terpenting apa yang paling
Anda inginkan?”. Apa jawaban Anda? Buat Anda yang masih jomblo, seorang pacar
pastilah Anda incar. Buat Anda yang lima menit lagi memasuki ruang sidang akhir
skripsi, pastilah Anda mendambakan lulus dengan mulus. Buat Anda pengidap
kanker stadium empat, pastilah Anda berharap mukjizat itu nyata.
Satu pertanyaan dan satu jawaban dari masing-masing kita
bila dijumlahkan akan menjadi sebuah bilangan tak terhingga. Sebuah simbol
infinit yang akhirnya tiada ujung. Tidak bisakah kita semua sepakat untuk
memberi jawaban yang sama? Mungkinkah kita memimpikan cita-cita yang sama? Toh, kita sama-sama manusia, sama-sama
lahir dari rahim mama, dibesarkan di pelukan dan didikan papa; sama-sama
menghitam karena terik mentari yang sama; sama-sama akan mati di kala usia
senja.
“Apa yang paling penting?” Satu pertanyaan ini sungguh
membuat saraf-saraf otakku bekerja sangat keras! Apakah yang terpenting untuk
kita raih di dunia fana ini? Satu hal universal yang disepakati oleh semua
insan penghuni bumi ini? Bukankah jauh lebih mudah memenuhi satu keinginan
ketimbang banyak impian?
Namun lagi-lagi, acapkali terbersit satu hal di benak, maka
hal itu akan langsung ditentang oleh pikiran lainnya. Satu tampil, yang lain
diam-diam menyempil. Tidak ada yang mau mengalah, apalagi harus kalah. Sampai
akhirnya aku pun lelah, putus asa dan akhirnya jatuh pada sebuah kesimpulan
bahwa, satu hal yang terpenting untuk diraih bukanlah seorang pacar idaman,
bukan juga prestasi akademis, bukan harta, bahkan bukan juga mukjizat
supranatural. Satu hal terpenting untuk diupayakan adalah kau dan aku punya
satu pemikiran yang sama, satu visi yang sama, mengayuh satu ‘rakit’ di banjir
yang sama; karena itulah satu-satunya cara agar kita bisa mewujudkan banyak hal
indah di alam semesta kita.
“When we have ‘the same one
thing’, we can make difference in many things.”
Salam Satu Hati. One HEART. =p
Subscribe to:
Posts (Atom)