“Kalo ngelodeh, udeh lodoh nih Mas.” “Kalo masak rendang, uda empuk bingits
keles.” Begitulah dumelan dan curcol dua ibu-ibu muda di tengah kejenuhan menunggu laptop mereka diperbaiki di ruang IT helpdesk. Terdengar lucu dan apa
adanya. Sebenarnya mereka kesal, tapi apa daya. Syukurlah ada gadget yang baru isi pulsa, jadi masih bisa
ngerumpi dengan ibu-ibu rempong lainnya di dunia maya.
Menunggu: MEnanti,
termeNUNG dan GUndah. Itulah kata-kata yang ter-bundling dalam kata menunggu. Sebagian orang tidak masalah bila
harus menanti, karena “nanti" pasti akan datang. Sebagian orang mungkin
justru suka termenung, karena bisa sambil merenung. Namun adakah
yang suka berada dalam keadaan gundah, gulana yang tak kunjung sudah? That's why nobody likes waiting.
Ada yang bilang, menunggu sama saja dengan membunuh
waktu. Menunggu adalah aktivitas tak bermutu, yang hanya menghasilkan gerutu. Katanya,
hidup itu terlalu singkat untuk menunggu. Namun anehnya, ada juga yang
beranggapan bahwa menunggu sama dengan berlatih kesabaran. Setuju dengan yang
manakah aku dan kamu?
Sayangnya, suka atau tidak suka, keseharian kita tak
pernah lepas dari aktivitas membosankan yang satu ini. Pagi-pagi nunggu angkot untuk berangkat kerja (udah
nunggu lama eh angkotnya penuh). Kudu
nungguin lampu merah berubah jadi hijau (padahal udah telat abis). Lapar di tengah jam kerja tapi wajib nunggu bel jam makan siang (malah belum sempat sarapan lagee). Pas
pulang kantor hujan ‘gerimis gila’ dan ngga
punya payung, terpaksa nunggu reda deh. Belum lagi perjuangan menunggu si TransJakarta
singgah di halte busway tercinta. Hadeeeuuh… Lelah menunggu?
Ternyata, menunggu bukan hanya kegiatan rutin harian semata,
ia juga ‘menghantui’ seluruh agenda kehidupan kita. Ketika bayi, kita harus
menunggu 9 bulan sebelum bisa keluar dari persembunyian kita. Saat batita, kita
harus menunggu beberapa tahun agar bisa main tak jongkok bareng kakak dan gang-nya.
Selesai tamat SD, kita harus menunggu 5 tahun lagi untuk bisa nembak SIM. Waktu kuliah, kita harus nunggu sekian semester, baru boleh pakai
daster (baca: toga). Tatkala jomblo, kita harus tabah menunggu jodoh yang
wajahnya masih tertutup cadar (alias samar-samar). Saat kita tua dan
sakit-sakitan, kita menunggu kesembuhan itu segera datang. Tatkala waktu tutup
usia tiba, kita pun menunggu ajal menjemput. Hmm… bila seluruh hidup kita seperti dipaparkan di atas, bukankah
seharusnya kita sudah terbiasa (sabar) menunggu?
Tak dapat dipungkiri, menunggu itu butuh kesabaran dan
kesabaran ada batasnya. Banyak hal-hal yang tak mungkin menunggu. Ada sesuatu
yang mendadak, yang menuntut kita kudu seg’ra bertindak. Namun, acapkali banyak
juga perkara dan prahara yang melampaui kekuatan kita. Tiada pilihan lain, yang
dapat kita lakukan cuma menunggu dan hanya berdoa kepada Tuhan. Bahkan ‘tragisnya’,
seringkali Tuhan juga minta kita untuk menunggu jawaban-Nya, bukan? Menunggu
menyadarkan kita bahwa kita hanyalah manusia biasa, yang tidak tahu apa yang
akan terjadi kelak, bahkan 5 menit ke depan. Itu sebabnya kita butuh Tuhan.
Apa sebenarnya motivasi dari artikel yang ‘muter-muter’
ini? Tujuan artikel ini bukanlah untuk mengajak kita menjadi pasif (pasrah
tanpa inisiatif), melainkan untuk sekadar menggelitik kita, apakah kita sudah
menjadi orang yang sabar menunggu? Sabar menunggu tanpa memburu-buru, sabar
menunggu waktu-Nya Tuhan. Apakah Tuhan pernah terlambat? Ingat, segala sesuatu akan
indah pada waktunya.
Tujuan lainnya adalah untuk menyemangati teman-teman yang
sedang ‘kelelahan menunggu’. Hang on
Guys! Bertahanlah! Bila memang kau yakin apa yang kau tunggu adalah
seseorang atau sesuatu yang layak ditunggu, maka setialah menunggu. Bila ada
hal lain yang bisa kau lakukan selain hanya menunggu, maka lakukanlah juga
dengan sebaik-baiknya. Bila kau bimbang dan ragu dalam penantian panjang,
berdoalah, tanyalah pada Tuhan dan taatilah jawaban-Nya. Akhirnya, bila
ternyata jawaban Tuhan menyuruhmu berhenti menunggu dan menyuruhmu untuk ‘move on’, maka turutilah, karena Dia
yang paling tahu apa yang terbaik untukmu, untuk kita semua.
“Bersyukurlah bila masih ada kesempatan untuk menunggu, nikmatilah, karena
itu berarti kita masih hidup dan memiliki pengharapan. Amin”
So, what are you waiting for?
Happy waiting, GBU.
No comments:
Post a Comment