Wednesday, March 18, 2015

Payung Motivasi

Hari Rabu, 13 Juni, 2 tahun yang lalu; saya diutus untuk mengikuti sebuah seminar di bilangan Sudirman, menggantikan seorang rekan kerja yang berhalangan. “Controller Fits in Business”; demikian tajuk seminar tersebut. Hari ini, Selasa, 18 Agustus; tak satu pun materi tertinggal di memori; namun ada satu peristiwa sederhana untuk kita renungkan bersama.

Seperti seminar-seminar pada umumnya, saat sang narasumber berhenti bersuara; maka giliran para hadirinlah yang angkat bicara: sesi tanya jawab! “Bapak-Bapak dan Ibu yang terhormat, apakah ada yang ingin bertanya, atau sekadar memberi komentar atas topik yang barusan kita dengarkan?” demikian ucap Bapak moderator. Semuanya hanya terdiam, menanti, saling menatap, dan mengunci rapat-rapat bibirnya (mirip kayak kita kalau lagi P5M gini).

Tak habis akal, sang moderator kembali ‘melemparkan umpannya’. “Ya…begitu panjang dan lebar serta menarik sekali apa yang baru kita dengarkan tadi, apakah ada komentar dari Bapak/Ibu sekalian?” tanya sang moderator dengan penuh harap-harap cemas. Tiga detik, lima detik, lima belas detik detik, suasana tetap saja dingin. Sang moderator pun harus kecewa untuk kedua kalinya. Alhasil, tak ada sebutir pertanyaan pun terlontar, kecuali pertanyaan dalam hati sang moderator, “Mengapa hal ini menimpa dirinya?”  

Sesi-sesi berikutnya pun bernasib tak jauh beda. Antusiasme sang moderator hanya bertepuk sebelah tangan. Tidak terasa, sesi berikut adalah sesi terakhir sebelum makan siang. Sesi tersebut dibawakan oleh seorang Bapak, saya lupa namanya; yang saya ingat beliau adalah salah satu direktur sebuah perusahaan furniture terkemuka di neg’ri kita. Topiknya biasa saja, tidak ada yang istimewa, bukan pula hal baru. 45 menit berlalu, kata-kata dari sang narasumber pun berhenti, kini tibalah saat-saat yang dahulu dinanti (namun kini dibenci) oleh sang moderator, yaitu sesi tanya jawab.

“Luar biasa sekali apa yang baru saja kita dengar, Bapak/Ibu. Sebuah paparan komprehensif dan kaya akan ilmu yang sangat aplikatif. Saya yakin banyak dari kita yang punya pengalaman atau komentar terkait hal ini bukan? Saya buka sesi tanya jawab ini dengan dua orang penanya terlebih dahulu, silakan! ucap sang moderator dengan berlagak optimis. Namun, suasana kembali menjadi garing, tegang, keheningan itu terulang. Sampai suatu saat, tiba-tiba sang narasumber (Direktur Furniture tadi) kembali berdiri dan berkata, “Oh iya Bapak/Ibu, saya lupa, saya membawa hadiah menarik yang akan diberikan cuma-cuma, yaitu 10 buah payung untuk 10 penanya pertama.”

Tanpa dikomandoi, tanpa dipaksa-paksa; tiba-tiba para peserta yang ‘menjadi pemalu’ sejak pagi tadi serempak mengangkat tangannya tinggi-tinggi (termasuk juga saya). “Ya, Bapak yang di depan, silakan Pak… Bapak yang di pojok kanan atas…., Bapak yang di belakang mohon bersabar ya, Pak” sang moderator memandu. Begitu banyaknya tangan yang teracung, sampai-sampai tidak terhitung. Laris manis, 10 buah payung cantik ludes dalam hitungan detik.

Setidaknya ada dua pembelajaran yang saya dapat dari kisah dramatis ini. Pertama, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sama saja, semuanya suka hadiah langsung, apapun bentuknya. Pembelajaran kedua adalah kita mendengar bagaimana sebuah payung yang biasa dipakai di saat mendung, justru bisa mencerahkan hari sang moderator. Rupanya, payung telah berhasil me-MOTIVASI para peserta untuk menjadi berani, berani bertanya, berani malu, berani keluar dari zona nyaman mereka.

Setiap orang (tanpa terkecuali), butuh motivasi; meskipun adakalanya banyak orang tidak menyadari apa yang ia butuhkan. Motivasi dibutuhkan untuk berkreasi. Motivasi adalah motor untuk terus berinovasi. Motivasi penting saat kita menghadapi momen-momen ‘merasa ingin mati’.

Rekan kita, Meme menaruh foto mantan kekasihnya di meja kerja, karena setiap kali ia memandang foto tersebut, ia terpacu (bukan napsu ya). Samuel menulis kata-kata penyemangat di papan kecilnya, karena kata-kata tersebut mampu menyegarkannya di saat lelah. Yenni menempel kutipan ayat-ayat Alkitab di sekitar mejanya, karena itu mengingatkannya untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan, melalui pekerjaannya. Yuli rela ditempatkan di tengah-tengah gadis putih oriental, karena itu memotivasinya (tenang Yul, oriental ‘bukan tandingan’ yang original). Dwi senantiasa mengingat wajah sang istri yang sedang hamil, karena itu membuatnya ingin, ingin memberi yang terbaik bagi istri dan calon bayinya. Itulah contoh-contoh motivasi, baik yang berwujud maupun tidak berwujud (kayak lagi bahas policy asset ya?).

Jadi, apa itu motivasi? Menurut KBBI, motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, tujuan yang baik tentunya (kalau tujuannya “tidak baik” itu namanya modus). Motivasi, apapun definisi dan apapun rupanya tidaklah penting; yang penting adalah apakah kita sudah memilikinya?


“Orang yang termotivasi tidak selalu menjadi luar biasa,
namun orang yang termotivasi pasti tak mudah putus asa.”
 

No comments: