Hari Rabu, 13 Juni, 2 tahun
yang lalu; saya diutus untuk mengikuti sebuah seminar di bilangan Sudirman,
menggantikan seorang rekan kerja yang berhalangan. “Controller Fits in Business”; demikian tajuk seminar tersebut.
Hari ini, Selasa, 18 Agustus; tak satu pun materi tertinggal di memori; namun
ada satu peristiwa sederhana untuk kita renungkan bersama.
Seperti seminar-seminar pada
umumnya, saat sang narasumber berhenti bersuara; maka giliran para hadirinlah
yang angkat bicara: sesi tanya jawab! “Bapak-Bapak
dan Ibu yang terhormat, apakah ada yang ingin bertanya, atau sekadar memberi
komentar atas topik yang barusan kita dengarkan?” demikian ucap Bapak
moderator. Semuanya hanya terdiam, menanti, saling menatap, dan mengunci
rapat-rapat bibirnya (mirip kayak kita
kalau lagi P5M gini).
Tak habis akal, sang
moderator kembali ‘melemparkan umpannya’. “Ya…begitu
panjang dan lebar serta menarik sekali apa yang baru kita dengarkan tadi,
apakah ada komentar dari Bapak/Ibu sekalian?” tanya sang moderator dengan
penuh harap-harap cemas. Tiga detik, lima detik, lima belas detik detik,
suasana tetap saja dingin. Sang moderator pun harus kecewa untuk kedua kalinya.
Alhasil, tak ada sebutir pertanyaan pun terlontar, kecuali pertanyaan dalam
hati sang moderator, “Mengapa hal ini
menimpa dirinya?”
Sesi-sesi berikutnya pun
bernasib tak jauh beda. Antusiasme sang moderator hanya bertepuk sebelah tangan.
Tidak terasa, sesi berikut adalah sesi terakhir sebelum makan siang. Sesi
tersebut dibawakan oleh seorang Bapak, saya lupa namanya; yang saya ingat
beliau adalah salah satu direktur sebuah perusahaan furniture terkemuka di neg’ri kita. Topiknya biasa saja, tidak ada
yang istimewa, bukan pula hal baru. 45 menit berlalu, kata-kata dari sang
narasumber pun berhenti, kini tibalah saat-saat yang dahulu dinanti (namun kini
dibenci) oleh sang moderator, yaitu sesi tanya jawab.
“Luar biasa sekali apa yang baru saja kita dengar,
Bapak/Ibu. Sebuah paparan komprehensif dan kaya akan ilmu yang sangat
aplikatif. Saya yakin banyak dari kita yang punya pengalaman atau komentar
terkait hal ini bukan? Saya buka sesi tanya jawab ini dengan dua orang penanya
terlebih dahulu, silakan! ucap sang moderator dengan berlagak optimis. Namun, suasana
kembali menjadi garing, tegang, keheningan itu terulang. Sampai suatu saat, tiba-tiba
sang narasumber (Direktur Furniture tadi) kembali berdiri dan berkata, “Oh iya Bapak/Ibu, saya lupa, saya membawa
hadiah menarik yang akan diberikan cuma-cuma, yaitu 10 buah payung untuk 10
penanya pertama.”
Tanpa dikomandoi, tanpa
dipaksa-paksa; tiba-tiba para peserta yang ‘menjadi pemalu’ sejak pagi tadi
serempak mengangkat tangannya tinggi-tinggi (termasuk juga saya). “Ya, Bapak yang di depan, silakan Pak… Bapak
yang di pojok kanan atas…., Bapak yang di belakang mohon bersabar ya, Pak” sang
moderator memandu. Begitu banyaknya
tangan yang teracung, sampai-sampai tidak terhitung. Laris manis, 10 buah
payung cantik ludes dalam hitungan detik.
Setidaknya ada dua pembelajaran
yang saya dapat dari kisah dramatis ini. Pertama, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sama
saja, semuanya suka hadiah langsung, apapun bentuknya. Pembelajaran kedua
adalah kita mendengar bagaimana sebuah payung yang biasa dipakai di saat
mendung, justru bisa mencerahkan hari sang moderator. Rupanya, payung telah
berhasil me-MOTIVASI para peserta
untuk menjadi berani, berani bertanya, berani malu, berani keluar dari zona
nyaman mereka.
Setiap orang (tanpa
terkecuali), butuh motivasi; meskipun adakalanya banyak orang tidak menyadari
apa yang ia butuhkan. Motivasi dibutuhkan untuk berkreasi. Motivasi adalah
motor untuk terus berinovasi. Motivasi penting saat kita menghadapi momen-momen
‘merasa ingin mati’.
Rekan kita, Meme menaruh foto
mantan kekasihnya di meja kerja, karena setiap kali ia memandang foto tersebut,
ia terpacu (bukan napsu ya). Samuel menulis kata-kata penyemangat di papan
kecilnya, karena kata-kata tersebut mampu menyegarkannya di saat lelah. Yenni
menempel kutipan ayat-ayat Alkitab di sekitar mejanya, karena itu
mengingatkannya untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan, melalui pekerjaannya. Yuli
rela ditempatkan di tengah-tengah gadis putih oriental, karena itu
memotivasinya (tenang Yul, oriental ‘bukan tandingan’ yang original). Dwi
senantiasa mengingat wajah sang istri yang sedang hamil, karena itu membuatnya ‘ingin’, ingin memberi
yang terbaik bagi istri dan calon bayinya. Itulah contoh-contoh motivasi, baik
yang berwujud maupun tidak berwujud (kayak lagi bahas policy asset ya?).
Jadi, apa itu motivasi? Menurut
KBBI, motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar
atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, tujuan
yang baik tentunya (kalau tujuannya “tidak baik” itu namanya modus). Motivasi,
apapun definisi dan apapun rupanya tidaklah penting; yang penting adalah apakah
kita sudah memilikinya?
“Orang yang termotivasi tidak selalu menjadi luar biasa,
namun orang yang termotivasi pasti tak mudah putus asa.”
No comments:
Post a Comment