Wednesday, March 18, 2015

Just Wait

“Kalo ngelodeh, udeh lodoh nih Mas.” “Kalo masak rendang, uda empuk bingits keles.” Begitulah dumelan dan curcol dua ibu-ibu muda di tengah kejenuhan menunggu laptop mereka diperbaiki di ruang IT helpdesk. Terdengar lucu dan apa adanya. Sebenarnya mereka kesal, tapi apa daya. Syukurlah ada gadget yang baru isi pulsa, jadi masih bisa ngerumpi dengan ibu-ibu rempong lainnya di dunia maya.
Menunggu: MEnanti, termeNUNG dan GUndah. Itulah kata-kata yang ter-bundling dalam kata menunggu. Sebagian orang tidak masalah bila harus menanti, karena “nanti" pasti akan datang. Sebagian orang mungkin justru  suka termenung, karena bisa sambil merenung. Namun adakah yang suka berada dalam keadaan gundah, gulana yang tak kunjung sudah? That's why nobody likes waiting.
Ada yang bilang, menunggu sama saja dengan membunuh waktu. Menunggu adalah aktivitas tak bermutu, yang hanya menghasilkan gerutu. Katanya, hidup itu terlalu singkat untuk menunggu. Namun anehnya, ada juga yang beranggapan bahwa menunggu sama dengan berlatih kesabaran. Setuju dengan yang manakah aku dan kamu?
Sayangnya, suka atau tidak suka, keseharian kita tak pernah lepas dari aktivitas membosankan yang satu ini. Pagi-pagi nunggu angkot untuk berangkat kerja (udah nunggu lama eh angkotnya penuh). Kudu nungguin lampu merah berubah jadi hijau (padahal udah telat abis). Lapar di tengah jam kerja tapi wajib nunggu bel jam makan siang (malah belum sempat sarapan lagee). Pas pulang kantor hujan ‘gerimis gila’ dan ngga punya payung, terpaksa nunggu reda deh. Belum lagi perjuangan menunggu si TransJakarta singgah di halte busway tercinta. Hadeeeuuh… Lelah menunggu?
Ternyata, menunggu bukan hanya kegiatan rutin harian semata, ia juga ‘menghantui’ seluruh agenda kehidupan kita. Ketika bayi, kita harus menunggu 9 bulan sebelum bisa keluar dari persembunyian kita. Saat batita, kita harus menunggu beberapa tahun agar bisa main tak jongkok bareng kakak dan gang-nya. Selesai tamat SD, kita harus menunggu 5 tahun lagi untuk bisa nembak SIM. Waktu kuliah, kita harus nunggu sekian semester, baru boleh pakai daster (baca: toga). Tatkala jomblo, kita harus tabah menunggu jodoh yang wajahnya masih tertutup cadar (alias samar-samar). Saat kita tua dan sakit-sakitan, kita menunggu kesembuhan itu segera datang. Tatkala waktu tutup usia tiba, kita pun menunggu ajal menjemput. Hmm… bila seluruh hidup kita seperti dipaparkan di atas, bukankah seharusnya kita sudah terbiasa (sabar) menunggu?
Tak dapat dipungkiri, menunggu itu butuh kesabaran dan kesabaran ada batasnya. Banyak hal-hal yang tak mungkin menunggu. Ada sesuatu yang mendadak, yang menuntut kita kudu seg’ra bertindak. Namun, acapkali banyak juga perkara dan prahara yang melampaui kekuatan kita. Tiada pilihan lain, yang dapat kita lakukan cuma menunggu dan hanya berdoa kepada Tuhan. Bahkan ‘tragisnya’, seringkali Tuhan juga minta kita untuk menunggu jawaban-Nya, bukan? Menunggu menyadarkan kita bahwa kita hanyalah manusia biasa, yang tidak tahu apa yang akan terjadi kelak, bahkan 5 menit ke depan. Itu sebabnya kita butuh Tuhan.
Apa sebenarnya motivasi dari artikel yang ‘muter-muter’ ini? Tujuan artikel ini bukanlah untuk mengajak kita menjadi pasif (pasrah tanpa inisiatif), melainkan untuk sekadar menggelitik kita, apakah kita sudah menjadi orang yang sabar menunggu? Sabar menunggu tanpa memburu-buru, sabar menunggu waktu-Nya Tuhan. Apakah Tuhan pernah terlambat? Ingat, segala sesuatu akan indah pada waktunya.
Tujuan lainnya adalah untuk menyemangati teman-teman yang sedang ‘kelelahan menunggu’. Hang on Guys! Bertahanlah! Bila memang kau yakin apa yang kau tunggu adalah seseorang atau sesuatu yang layak ditunggu, maka setialah menunggu. Bila ada hal lain yang bisa kau lakukan selain hanya menunggu, maka lakukanlah juga dengan sebaik-baiknya. Bila kau bimbang dan ragu dalam penantian panjang, berdoalah, tanyalah pada Tuhan dan taatilah jawaban-Nya. Akhirnya, bila ternyata jawaban Tuhan menyuruhmu berhenti menunggu dan menyuruhmu untuk ‘move on’, maka turutilah, karena Dia yang paling tahu apa yang terbaik untukmu, untuk kita semua.
waip-combek.jpg “Bersyukurlah bila masih ada kesempatan untuk menunggu, nikmatilah, karena itu berarti kita masih hidup dan memiliki pengharapan. Amin”

So, what are you waiting for? Happy waiting, GBU.

Payung Motivasi

Hari Rabu, 13 Juni, 2 tahun yang lalu; saya diutus untuk mengikuti sebuah seminar di bilangan Sudirman, menggantikan seorang rekan kerja yang berhalangan. “Controller Fits in Business”; demikian tajuk seminar tersebut. Hari ini, Selasa, 18 Agustus; tak satu pun materi tertinggal di memori; namun ada satu peristiwa sederhana untuk kita renungkan bersama.

Seperti seminar-seminar pada umumnya, saat sang narasumber berhenti bersuara; maka giliran para hadirinlah yang angkat bicara: sesi tanya jawab! “Bapak-Bapak dan Ibu yang terhormat, apakah ada yang ingin bertanya, atau sekadar memberi komentar atas topik yang barusan kita dengarkan?” demikian ucap Bapak moderator. Semuanya hanya terdiam, menanti, saling menatap, dan mengunci rapat-rapat bibirnya (mirip kayak kita kalau lagi P5M gini).

Tak habis akal, sang moderator kembali ‘melemparkan umpannya’. “Ya…begitu panjang dan lebar serta menarik sekali apa yang baru kita dengarkan tadi, apakah ada komentar dari Bapak/Ibu sekalian?” tanya sang moderator dengan penuh harap-harap cemas. Tiga detik, lima detik, lima belas detik detik, suasana tetap saja dingin. Sang moderator pun harus kecewa untuk kedua kalinya. Alhasil, tak ada sebutir pertanyaan pun terlontar, kecuali pertanyaan dalam hati sang moderator, “Mengapa hal ini menimpa dirinya?”  

Sesi-sesi berikutnya pun bernasib tak jauh beda. Antusiasme sang moderator hanya bertepuk sebelah tangan. Tidak terasa, sesi berikut adalah sesi terakhir sebelum makan siang. Sesi tersebut dibawakan oleh seorang Bapak, saya lupa namanya; yang saya ingat beliau adalah salah satu direktur sebuah perusahaan furniture terkemuka di neg’ri kita. Topiknya biasa saja, tidak ada yang istimewa, bukan pula hal baru. 45 menit berlalu, kata-kata dari sang narasumber pun berhenti, kini tibalah saat-saat yang dahulu dinanti (namun kini dibenci) oleh sang moderator, yaitu sesi tanya jawab.

“Luar biasa sekali apa yang baru saja kita dengar, Bapak/Ibu. Sebuah paparan komprehensif dan kaya akan ilmu yang sangat aplikatif. Saya yakin banyak dari kita yang punya pengalaman atau komentar terkait hal ini bukan? Saya buka sesi tanya jawab ini dengan dua orang penanya terlebih dahulu, silakan! ucap sang moderator dengan berlagak optimis. Namun, suasana kembali menjadi garing, tegang, keheningan itu terulang. Sampai suatu saat, tiba-tiba sang narasumber (Direktur Furniture tadi) kembali berdiri dan berkata, “Oh iya Bapak/Ibu, saya lupa, saya membawa hadiah menarik yang akan diberikan cuma-cuma, yaitu 10 buah payung untuk 10 penanya pertama.”

Tanpa dikomandoi, tanpa dipaksa-paksa; tiba-tiba para peserta yang ‘menjadi pemalu’ sejak pagi tadi serempak mengangkat tangannya tinggi-tinggi (termasuk juga saya). “Ya, Bapak yang di depan, silakan Pak… Bapak yang di pojok kanan atas…., Bapak yang di belakang mohon bersabar ya, Pak” sang moderator memandu. Begitu banyaknya tangan yang teracung, sampai-sampai tidak terhitung. Laris manis, 10 buah payung cantik ludes dalam hitungan detik.

Setidaknya ada dua pembelajaran yang saya dapat dari kisah dramatis ini. Pertama, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sama saja, semuanya suka hadiah langsung, apapun bentuknya. Pembelajaran kedua adalah kita mendengar bagaimana sebuah payung yang biasa dipakai di saat mendung, justru bisa mencerahkan hari sang moderator. Rupanya, payung telah berhasil me-MOTIVASI para peserta untuk menjadi berani, berani bertanya, berani malu, berani keluar dari zona nyaman mereka.

Setiap orang (tanpa terkecuali), butuh motivasi; meskipun adakalanya banyak orang tidak menyadari apa yang ia butuhkan. Motivasi dibutuhkan untuk berkreasi. Motivasi adalah motor untuk terus berinovasi. Motivasi penting saat kita menghadapi momen-momen ‘merasa ingin mati’.

Rekan kita, Meme menaruh foto mantan kekasihnya di meja kerja, karena setiap kali ia memandang foto tersebut, ia terpacu (bukan napsu ya). Samuel menulis kata-kata penyemangat di papan kecilnya, karena kata-kata tersebut mampu menyegarkannya di saat lelah. Yenni menempel kutipan ayat-ayat Alkitab di sekitar mejanya, karena itu mengingatkannya untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan, melalui pekerjaannya. Yuli rela ditempatkan di tengah-tengah gadis putih oriental, karena itu memotivasinya (tenang Yul, oriental ‘bukan tandingan’ yang original). Dwi senantiasa mengingat wajah sang istri yang sedang hamil, karena itu membuatnya ingin, ingin memberi yang terbaik bagi istri dan calon bayinya. Itulah contoh-contoh motivasi, baik yang berwujud maupun tidak berwujud (kayak lagi bahas policy asset ya?).

Jadi, apa itu motivasi? Menurut KBBI, motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu, tujuan yang baik tentunya (kalau tujuannya “tidak baik” itu namanya modus). Motivasi, apapun definisi dan apapun rupanya tidaklah penting; yang penting adalah apakah kita sudah memilikinya?


“Orang yang termotivasi tidak selalu menjadi luar biasa,
namun orang yang termotivasi pasti tak mudah putus asa.”
 

Monday, October 10, 2011

Language of Love (LoL)

“Saat kusentuh halus, kaupun tahu ‘ku ada…

Kubelai dengan lembut, kau tahu ‘ku sayang…

Ada bahasa cinta melalui sentuhanku…

Kau pun tahu bahasa cinta...”

Melirik penggalan lirik di atas, beberapa dari kita mungkin langsung teringat akan pariwara sebuah produk perawatan bayi ternama di era 90-an. Bila mau bernostalgia sejenak, masih hangat di benak bagaimana iklan tersebut tanpa malu-malu menayangkan adegan seorang bayi bugil yang pantat bogelnya sedang ‘ditepungi’ baby powder oleh sang bunda. Sembari mengusap-usap ‘sepasang bakpao’ tersebut, seolah si bunda sedang berbicara pada anaknya, “De, mama sayang banget sama kamu.” Anehnya, si adik bayi langsung merespon dengan tawa kecilnya seolah mengerti: “Ehehe…hihihi…” Hmm, aneh… kok bisa ya? Inilah yang seringkali disebut orang sebagai bahasa cinta.

Berangkat dari kisah iklan tadi, mari sedikit berandai-andai…

Andai 20 tahun bablas begitu saja, kini sang adik bayi tadi sudah tumbuh menjadi remaja cowok dengan gaya anak ‘begajulan’ zaman sekarang. Anting di cuping kiri, gelang p*wer b*lance di pergelangan tangan kanan, sepuntung rokok sedang luntang-lantung di antara jari telunjuk dan tengahnya. Suatu sore, saat ia asyik nongkrong di ujung gang bersama teman-teman se-gang-nya, sang bunda yang rambutnya kini mulai memutih memanggil dengan bahasa cintanya, “De…ayo pulang, sini mama bedakin yuk.” Kira-kira apa respon si adik yang sudah akil balik ini? Mungkinkah ia menanggapinya dengan senyum lalu mengangguk dan segera pulang? Nyaris mustahil rasanya. Mengapa demikian? Apakah ia merasa malu? Apakah ia tidak paham lagi akan bahasa cinta ibundanya? Bukankah dahulu ia memiliki bahasa cinta yang sama? Mungkinkah bahasa cintanya sudah berubah?

Bahasa cinta… sebenarnya bahasa apakah itu?

Kita yang sudah pernah dan sedang jatuh cinta pasti setuju bila cinta itu simple but also complicated (simplicated). Orang bisa jatuh cinta as simple as that, namun akibat terlalu cinta juga bisa timbul konflik yang amat rumit (conflicated). Itulah cinta, lalu bagaimana dengan bahasanya, apakah se-simplicated cinta itu sendiri? Mari kita belajar sedikit!

Secara sederhana, bahasa cinta adalah ‘bahasa’ yang dimiliki setiap insan untuk mengekspresikan rasa cinta, sayang, suka, dan perhatiannya. Tiap orang memiliki bahasa cintanya masing-masing, baik dalam hal ‘mengucapkan’ maupun ‘mendengarkan’ bahasa ini. Berikut beberapa contoh ekstrim yang semoga dapat membuat pemahaman kita lebih ‘meresap’.

Sebut saja Mawar, ia akan merasa sangat disayang bila makhkota wanitanya selalu dibelai-belai. Beda dengan Melati, dirinya akan terbuai bila tak putus-putusnya dingiangkan“I love you, Darling” di telinganya. Sementara Anyelir, serasa bak putri kesayangan pangeran ketika kekasihnya menjadi “ojek pribadi” yang siaga 24 jam dengan ‘kuda putih gagahnya’. Begitulah kira-kira bahasa kasih para ‘kembang desa’, lalu bagaimana dengan para ‘kumbangnya’? Bang Juri, kebahagiaannya sebagai suami menjadi sempurna ketika sang istri membelikannya arloji di hari jadi mereka. Sedangkan Pak RT, merasakan bulan madu keduanya manakala Bu RT menemaninya berbincang di tepi ranjang sebelum mereka ‘saling menerjang’.

Menurut ilmu yang saya peroleh di bimbingan pranikah, setidaknya bahasa cinta manusia dikelompokkan menjadi 5 bahasa, yaitu: physical touch (bahasanya Mawar), words (bahasanya Melati), acts of services (bahasanya Anyelir), gifts (bahasanya Bang Juri), dan quality time (bahasanya Pak RT). Cukup jelaskah? Supaya kian paham, mari ‘tenggelam’ lebih dalam!

Yang pertama, physical touch; ini bukanlah aktivitas fisik semata, melainkan ungkapan hati yang dijewantahkan dalam sentuhan. Bukan berarti suka dibelai karena jablai (jarang dibelai), tapi karena dalam belaian ada rasa disayang, aman, nyaman dan perlindungan secara emosional. Second language is words. Frasa demi frasa yang diutarakan sepenuh rasa, seolah mengangkat diri si empunya bahasa ini ke awan-awan cintanya. Lewat pujian, percaya dirinya pulih; lewat pengakuan, jati dirinya terangkat; dan lewat kalimat penyemangat, ia mampu bangkit dari keterpurukan! Bahasa cinta ketiga, acts of service. Si dia senang sekali bila kita melayaninya: membuatkannya teh manis, menyiapkan handuk mandinya dan mengantarnya sesuai rutenya hari itu. Bagi kita yang belum mengerti, acapkali kita menyangka bahwa orang macam ini adalah pribadi yang manja, bossy, atau bahkan egois; namun ternyata bukan itu faktanya. Atribut tersebut hanyalah bahasa cintanya, bukan karakter pribadinya.

Berikutnya, gifts, adalah sebuah ekpresi cinta yang diwujudkan dalam bentuk pemberian, misalnya hadiah (baik yang rutin maupun kejutan). Intinya, si pemilik bahasa ini merasa dicintai tatkala someone give him / her a gift. Perlu diingat, bukan berarti doski seorang yang materialistis, tapi memang beginilah gaya bercintanya! Finally, di urutan paling bontot ada quality time. Pecinta spesies ini dijamin tidak akan menuntut banyak dari kita, yang dia butuhkan hanyalah waktu kita, keberadaan kita di sampingnya, menemaninya melakukan hal yang terkadang sepele sekalipun.

Mencintai orang yang salah, pasti jadi masalah. Mencintai orang yang tepat namun salah dalam berbahasa cinta, juga bisa timbul prahara. Salah menuturkan bahasa cinta ibarat melesatkan anak-anak panah yang tak pernah kena sasaran. Akhirnya, sang pemanah pun kelelahan, sementara sang target tetap merasa terabaikan. Celakanya lagi, bila ternyata ada panah pihak ketiga yang ‘nyasar’ dan mengenai target kita. Salah-salah, apa yang sudah menjadi milik kita bisa ‘disamber’ orang.

True love never changes, but how about its language? Seorang istri yang telah melewati masa pernikahan peraknya sharing kepada saya, “Dulu saya ngga suka lho kalo dicium suami saya, eh tapi lama-lama enak juga ya!” Sebuah kejujuran barusan mencerminkan bahwa bisa saja ekspresi cinta berubah, walau tidak selalu. Untuk itu, senantiasa pastikan bahwa kita telah berbicara dengan bahasa cinta yang tepat. Bagaimana caranya? Mudah saja, bertanyalah! Usahlah sungkan. Jangan sampai pepatah “malu bertanya sesat di jalan” membuat hubungan kita retak perlahan.

Jadi, pekerjaan rumah kita sekarang adalah memastikan pada orang yang kita kasihi: “Darl, what is your love language?” Apakah selama ini aku sudah menyapa dan menyentuh hatimu dengan cara yang benar? Bila sudah dapat ‘contekan’, waktunya dipraktekkan! Touch, speak, serve, give and spend your precious time with your wife, husband, or spouse; and enjoy a wonderful communication of loves. Buat kamu yang jomblo, ngga perlu melongo, soon your time will come! In fact, now there are many people around you waiting to hear your love voice and eager to share it with you. No reason to miss this love season!

As closing words in this “LoL”, I just want to say what L-men six packs man had said:

”Trust me, it works!”

Thanks for reading, Friends!

God knows your "LoL", and He loves you more than that.

Jesus blesses you.

Tuesday, January 11, 2011

B1M84NG


Hidupku penuh sesak…
Hari-harinya berjejal dengan angka, dijubeli ribuan kata
Bila aku harus memilih, antara kata dan angka, apa pilihanku?

Ku lebih suka bekerja menguntai kata,
ketimbang berkutat dengan rentetan angka.
Namun ‘ku lebih senang dibayar dengan sederet angka,
ketimbang hanya dengan serangkai kata.
Jadi, apa pilihanku?

Kata-kata itu luar biasa;
sebab kala mereka dijalin, indahnya lampaui rupanya bunga.
Angka-angka pun tak kalah dahsyat;
karena saat ditanam di ‘pot’ yang tepat, mereka berbunga berlipat-lipat.
Jadi, apa pilihanku?

Karena kata, selembar papirus mati jadi berarti.
Karena angka, secarik kertas lusuh mati-matian dicari.

Akibat kata penuh umpat, persahabatan tak lagi erat.
Akibat angka penuh muslihat, persaingan tak lagi sehat.

Jadi, apa pilihanku?

Aku suka angka, tapi juga cinta kata.
Bahkan otak kiriku memikirkan keduanya.
Jadi, bila aku harus memilih, antara kata dan angka, apa pilihanku?

B1M84NG… sebab ‘ku butuh keduanya ‘tuk melengkapi hidupku.